Esai: Harri Safiari
Porosmedia.com – Zaman sedang sulit.
Harga naik.
Gaji ngos-ngosan.
Cicilan tidak pernah telat.
Malah, tetap datang.
Rakyat disuruh kreatif.
Maka Korupsinikus punya ide:
“Rental tuyul, mau?”
Saya bertanya:
“Untuk apa?”
“Cari duit.”
“Legal?”
Korupsinikus tertawa.
“Sejak kapan tuyul mengurus legalitas?”
Saya diam.
Ia melanjutkan:
“Tuyul murah.”
“Tidak perlu kantor.”
“Tidak perlu staf.”
“Tidak perlu rapat.”
“Tidak perlu proposal.”
“Tidak perlu tender.”
“Tidak perlu studi kelayakan.”
“Kerjanya sederhana.”
Ambil uang.
Selesai, tralalalala…
Saya mulai merasa, ada satu hal yang penting.
Tuyul ternyata tak kalah sigap dibanding birokratis yang meliuk-liuk bikin pusing kepala.
Korupsinikus kembali tertawa.
“Masalahnya bukan tuyul.”
“Lalu?”
“Manusia.”
Tuyul mengambil uang diam-diam.
Manusia bisa mengambilnya sambil tersenyum di depan kamera.
Tuyul tidak mengenal istilah mark-up.
Manusia mengenalnya.
Tuyul tidak membuat laporan pertanggungjawaban.
Manusia membuat.
Tuyul tidak menyusun anggaran.
Manusia menyusun.
Tuyul kalau tertangkap?
Diburu.
Manusia kalau tertangkap?
Cari pengacara.
Begitulah kemajuan.
Dulu mencuri harus sembunyi-sembunyi.
Sekarang?
Bisa dilakukan dengan jas.
Dengan dasi.
Dengan stempel.
Dengan tanda tangan.
Bahkan kadang-kadang…
dengan tepuk tangan.
Korupsinikus kemudian berbisik:
“Bro…”
“Apa?”
“Jangan terlalu keras mengkritik pencuri.”
“Kenapa?”
“Nanti kamu dianggap tidak menghargai kreativitas.”
Saya terdiam.
Sebab negeri yang kehilangan rasa malu akan menghasilkan sesuatu yang lebih mengerikan daripada korupsi:
korupsi yang dianggap biasa.
Ketika uang hilang:
“Biasa.”
Ketika anggaran membengkak:
“Biasa.”
Ketika rakyat mengeluh:
“Biasa.”
Ketika pejabat tersandung perkara:
“Biasa.”
Dan ketika semua sudah dianggap biasa…
yang luar biasa justru orang yang masih jujur.
Korupsinikus tersenyum.
“Jadi, rental tuyul?”
Saya menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Saya masih percaya rezeki harus dicari.”
Korupsinikus mengangguk.
“Bagus.”
“Tapi saya punya pertanyaan.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari kejujuran menjadi barang langka…”
Korupsinikus menatap saya.
“Apakah kita perlu membuka…”
Ia berhenti sejenak.
“…Rental Nurani?”
Gelap.
Sunyi.
Lalu dari kejauhan terdengar suara:
“Promo! Sewa nurani sehari, bayar dengan rasa malu!”
Korupsinikus tertawa.
Dan Negeri Konoha Raya kembali tidur.
Bukan karena aman.
Melainkan karena sudah terlalu lelah untuk bertanya:
Uang kita ke mana?
Nurani kita ke mana?
Dan yang paling mengerikan:
Besok kita masih punya apa? Pangan apa yang masuk ke mulut kita?
(Selesai)







