Porosmedia.com, Bandung – Esakalasi dinamika internal yang melanda lingkaran pegiat dan tokoh pengolahan sampah di Jawa Barat menuai keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan inovator serta aktivis lingkungan. Perseteruan yang semula berada di ranah internal kini dinilai berpotensi menciptakan preseden buruk bagi masa depan gerakan lingkungan dan regenerasi pengolah sampah di Indonesia.
Sorotan tajam salah satunya datang dari Beta Subrata, sosok inovator sekaligus pendiri Hejotekno (PT Top Tekno Indo) yang juga menggagas mesin pemusnah sampah ramah lingkungan Stungta X Pindad. Kepada porosmedia.com, Beta secara terbuka menyampaikan penyesalannya atas dinamika yang mengemuka di tubuh Bank Sampah Bersinar (BSB).
”Sangat, sangat menyesalkan persoalan yang sejatinya masalah internal di BSB, bisa berakhir seperti sekarang,” ujar Beta Subrata saat memberikan keterangannya, Selasa (21/7/2026).
Beta yang dikenal memiliki relasi dekat dengan kiprah Fei Febriyanti SR dalam ranah inovasi pengolahan sampah bernilai tambah bagi masyarakat menekankan bahwa polemik terbuka ini dapat memberikan dampak psikologis dan edukatif yang negatif, khususnya bagi generasi muda.
”Ini preseden buruk, khususnya bagi pegiat olah sampah. Hal seperti ini bisa menimbulkan keengganan generasi muda untuk terjun di dunia olah sampah. Padahal, pengolahan sampah itu sesungguhnya pekerjaan yang sangat mulia dan bahkan menguntungkan secara ekonomi,” tegas Beta.
Atas dasar itu, Beta mendesak para pihak yang bertikai untuk menanggalkan ego personal dan mengedepankan komunikasi yang konstruktif demi kepentingan lingkungan hidup yang lebih luas.
”Sebaiknya, untuk persoalan yang tidak perlu seperti ini, bagaimanapun caranya carilah jalan tengah yang elegan. Jangan mentang-mentang dan mengumbar nafsu,” imbaunya menohok.
Dugaan Provokasi Pihak Luar
Senada dengan Beta, pandangan kritis juga dilontarkan oleh aktivis lingkungan dan sosial Jawa Barat, Hadi Lesmana. Berdasarkan analisanya terhadap dinamika yang terjadi antara Fifie Rahardja dan Fei Febriyanti, Hadi menilai ada indikasi keterlibatan pihak-pihak tertentu yang justru memperkeruh suasana (mengompori).
”Saya singkat saja. Setelah saya kaji secara mendalam adanya ‘bara’ antara Fifie Rahardja dengan Fei, jelas-jelas ini ada yang ‘ngompori’,” ungkap Hadi Lesmana.
Hadi meyakini bahwa perselisihan antarfigur yang selama ini menjadi motor penggerak pengelolaan sampah seharusnya tidak perlu membesar apabila ditangani secara dingin dan bijaksana sejak awal.
”Rasanya tak mungkin masalah internal yang sebenarnya bisa diselesaikan secara elegan, tiba-tiba berujung seperti sekarang kalau tidak ada dorongan destruktif dari luar,” tambah Hadi.
Urgensi Menjaga Iklim Inovasi Lingkungan
Sektor pengelolaan sampah di wilayah Bandung Raya dan Jawa Barat saat ini berada pada fase krusial di tengah ancaman darurat sampah perkotaan. Kehadiran inovasi seperti Stungta X Pindad—teknologi insinerator tanpa asap bersertifikasi SNI hasil kolaborasi Hejotekno dan PT Pindad (Persero)—serta gerakan bank sampah kemasyarakatan sejatinya menjadi fondasi penting penanganan sampah berbasis sumber.
Para pengamat dan pegiat lingkungan berharap keretakan yang terjadi di tingkat tokoh tidak mengabaikan misi utama pelayanan masyarakat dan pelestarian lingkungan. Pihak-pihak terkait didorong untuk segera duduk bersama guna menyelesaikan sengketa secara internal, profesional, dan bermartabat tanpa merusak iklim edukasi lingkungan hidup yang telah terbangun. (PM/Red)







