Porosmedia.com – Panggung politik nasional kembali dihangatkan oleh penemuan taksonomi lama yang dipanggil ulang dari kubur sejarah: Londo Ireng. Istilah era kolonial ini mendadak trending setelah dipakai untuk menunjuk pihak-pihak yang dituduh gemar bersuara sumbang, mempermasalahkan anggaran, hingga dicurigai mendapat suntikan biaya dari negeri tetangga hanya untuk sekadar menyalakan lampu seluler dan membayar tagihan listrik kantor.
Tiba-tiba saja, para jurnalis yang gemar bertanya detil, pengamat yang sibuk menghitung angka utang, dan aktivis LSM yang hobi membedah dokumen Amdal merasa cemas. Jangan-jangan, pensil dan papan tik yang mereka pakai sehari-hari tanpa sadar telah berubah warna menjadi seragam serdadu kolonial abad ke-19.
Namun, jika kita mau menepi sejenak dari keriuhan retorika, ada pertanyaan mendasar yang terlupakan dalam buku biologi politik kita: Siapa sebenarnya makhluk yang paling lihai menggerogoti rumah ini dari dalam?
Antara Bayangan dan Pengisap Darah Nyata
Sejarah mencatat bahwa Londo Ireng dalam literatur kolonial adalah pion. Namun dalam ekosistem pemerintahan modern, ada spesies lain yang jauh lebih destruktif, produktif, dan sulit dipunahkan. Mari kita sebut ia secara ilmiah: Homo Corruptnicus alias Korupsinikus.
Berbeda dengan tuduhan Londo Ireng yang kerap abstrak dan berujung pada dugaan motif, keberadaan Korupsinikus sangat nyata dan terukur secara matematis dalam laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) maupun persidangan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
- Perilaku Berburu: Korupsinikus tidak perlu pasokan dana asing untuk hidup. Ia menyusu langsung pada APBN dan APBD.
- Metode Penyamaran: Ia tidak memakai baju loreng musuh. Seragamnya adalah batik halus, jas buatan penjahit ternama, pin emas di dada, dan tutur kata yang sangat manis tentang kecintaan pada tanah air.
- Hasil Kerja: Jika Londo Ireng dituduh merusak persepsi bangsa, maka Korupsinikus merusak jalan raya, membuat jembatan ambruk sebelum waktunya, menyunat dana bansos, dan menguapkan anggaran pendidikan.
Ironisnya, ketika audit membocorkan borok pengadaan barang atau ketika OTT (Operasi Tangkap Tangan) menetapkan status tersangka, sang Korupsinikus sering kali menjadi orang pertama yang berteriak tentang pentingnya persatuan nasional dan menuding para pengkritik sebagai “alat propaganda asing”.
Siapa Pengkhianat Bangsa yang Sebenarnya?
Mari kita bandingkan dua sosok hipotetis ini di atas timbangan keadilan:
|
Indikator |
Dituduh “Londo Ireng” (Kritikus/Pers) |
Spesies “Korupsinikus” (Oknum Pejabat/Politisi) |
|---|---|---|
|
Senjata Utama |
Pertanyaan menohok, data terbuka, & ruang opini. |
Kuitansi fiktif, pasal karet, & komitmen fee proyek. |
|
Dampak Kerugian |
Membuat telinga pejabat merasa kurang nyaman. |
Triliunan rupiah uang publik lenyap dari fasilitas umum. |
|
Pengabdian |
Bertanya: “Ke mana uang rakyat mengalir?” |
Bertanya: “Berapa bagian saya dari proyek ini?” |
Demokrasi yang sehat tidak roboh hanya karena jurnalis menanyakan isi anggaran listrik atau pengamat memprediksi grafik ekonomi meliuk turun. Demokrasi justru lapuk ketika kritik dibungkus dengan stiker pengkhianatan, sementara mereka yang nyata-nyata memeras kekayaan negara tetap leluasa melempar senyum di depan kamera.
Menutup Celah Musuh Dalam Selimut
Menuding pihak luar atau menempelkan label historis memang ampuh untuk memicu emosi publik. Namun, rakyat yang hidup sehari-hari di akar rumput tahu bedanya mana racun dan mana obat.
Pers yang kritis, LSM yang giat mengawasi, dan pengamat yang bersuara nyaring bukanlah musuh. Mereka adalah alarm asap. Mematikan alarm saat terjadi kebakaran tidak akan memadamkan api; itu hanya membuat kita pingsan kehabisan oksigen sebelum sadar rumah telah hangus terbakar.
Daripada sibuk meneropong bayangan Londo Ireng di balik jendela media dan LSM, ada baiknya lampu sorot diarahkan ke dalam ruangan sendiri: memeriksa berkas pengadaan, transparansi tender, dan rekening-rekening gendut yang tak masuk akal. Sebab pengkhianat sejati bangsa ini bukanlah dia yang mempertanyakan kebijakan, melainkan dia yang memperjualbelikan isi negara sambil menyanyikan lagu kebangsaan paling lantang.
Porosmedia|sudrajat







