Satire Kontemplatif: Harri Safiari
Porosmedia.com, Bandung — Alkisah di Negeri Konoha Raya (NKR), menjelang akhir semester 2026. Ketua BEM Fakultas Hukum UBK, Muhammad Abdimaludin, mengakui menerima uang Rp20 juta usai pertemuan mahasiswa dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 15 Juni 2026.
Menurut pengakuannya, uang atau “salam tempel” itu diduga berkaitan dengan rencana pemindahan titik aksi mahasiswa. Semula aksi akan digelar di sekitar Istana Presiden, lalu diarahkan ke kawasan DPR RI.
“Terserah warga NKR menilai. Mahasiswa selama ini dikenal sebagai agent of change, penjaga idealisme, dan pengawas kekuasaan. Tetapi kenyataannya, ya begitulah…” ujar tokoh moral kontroversial bernama Korupsinikus, yang mendadak muncul sebagai pembela kebenaran tanpa syarat dan tanpa sponsor.
Tak Kebagian Porsi MBG?
Saat dimintai tanggapan oleh para pegiat media, Korupsinikus justru melontarkan dugaan nyeleneh.
“Jangan-jangan ini efek samping karena tidak kebagian porsi MBG. Soalnya kalau idealisme bisa ditukar amplop, berarti ada gizi yang hilang di suatu tempat,” katanya sambil mengernyitkan dahi.
Menurut Korupsinikus, peristiwa ini terasa lucu sekaligus menyedihkan.
Lucu, karena perjuangan ternyata bisa dipindahkan titiknya.
Menyedihkan, karena yang berpindah bukan hanya lokasi aksi, melainkan juga arah kompas moralnya.
Ketika ditemui di sebuah warung kopi sederhana di pinggir pasar, Korupsinikus mengaku mendengar bahwa para penerima salam tempel telah mendapat sanksi dari kampus dan kecaman dari sesama mahasiswa.
“Bagus. Hukuman administratif perlu. Hukuman moral juga penting. Biar ada efek jera,” ujarnya.
Ia lalu berhenti sejenak, menyeruput kopi yang mulai dingin.
“Tapi kalau mau adil, jangan cuma yang menerima. Yang memberi juga harus ikut bertanggung jawab. Dalam urusan amplop, tangan yang menyodorkan tidak lebih suci daripada tangan yang menerima.”
Korupsinikus pun menatap kerumunan pasar yang lalu-lalang.
“Kalau mahasiswa mulai belajar bahwa suara bisa dibeli, besok-besok mereka mungkin tumbuh menjadi pejabat yang percaya bahwa rakyat juga bisa dibeli. Dan di situlah sebuah bangsa mulai kehilangan cerminnya.”
(Selesai)







