Republik Gantungan (Kunci), Korupsinikus: Mantan yang Tak Pernah Usai

Avatar photo

Esai Kontemplatif: Harri Safiari

Porosmedia.com – Di Negeri Konoha Raya (NKR), ada satu jabatan yang tak tercantum dalam konstitusi:
Mantan yang masih berkuasa.
Secara administratif, ia telah selesai.
Secara politik, ia pensiun.
Secara simbolik? Ah, itu urusan lain.
Kasus dugaan ijazah palsu yang berbulan-bulan menggantung kini bukan lagi perkara benar atau salah. Ia sudah berubah menjadi teater. Lakonnya sedikit, penontonnya banyak, naskahnya kabur, dan tirainya tak kunjung turun.
Rakyat menunggu kejelasan.
Yang datang: gantungan kunci!

Betapa puitis.

Dokumen yang seharusnya menjadi bukti akademik berubah menjadi aksesori. Seolah-olah negeri ini ingin berkata:
“Kalau tak bisa jelas, setidaknya bisa lucu.”
Namun sesungguhnya ini bukan kelucuan.
Ini sindiran massal.
Korupsinikus—yang pernah dikutuk menjadi batu karena terlalu lama bersahabat dengan pembenaran semu—kini bicara dengan nada seperti hakim yang lelah membaca berkas.
“Di negeri ini,” katanya, “kepastian bukan diputuskan. Ia dinegosiasikan.”
Dan negosiasi itu panjang.
Seringkali lebih panjang dari masa jabatan.
Mantan, katanya, adalah status.
Namun di Negeri Konoha Raya, mantan bisa menjelma menjadi atmosfer. Tak terlihat, tapi terasa. Tak menjabat, tapi menentukan suhu ruangan.

Baca juga:  Korupsinikus & Rubi, Mengapresi Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM: Nekat Jujur!

Rakyat pun terombang-ambing.

Kita bukan lagi kambing biasa.
Kita kambing yang diajari percaya bahwa tali di leher adalah kalung kehormatan.
Hari ini kita diyakinkan semuanya jelas.
Besok kita diyakinkan bahwa yang mempertanyakan adalah masalah.
Lusa, kita diminta move on.
Padahal yang belum move on justru ketidakjelasan itu sendiri.
Rubi, sahabat Korupsinikus yang gemar berdiri di pinggir arus, tersenyum tipis.
“Lucu ya,” katanya. “Yang diminta cuma satu: buka saja. Tunjukkan saja. Sederhana. Tapi di negeri ini, yang sederhana sering dibuat rumit nan berbelit. Kalau terlalu jelas, banyak yang kehilangan ruang bermain.”

Di situlah letak kekuatannya

Kepastian adalah akhir dari spekulasi.
Spekulasi adalah bahan bakar pengaruh.
Selama sesuatu menggantung, ia bisa ditarik ke mana saja.
Selama ia tak tuntas, ia bisa dipelintir sesuai kebutuhan.
Itulah seni kuasa modern:
Tak perlu menjabat untuk tetap berpengaruh.
Tak perlu berbicara untuk tetap menentukan arah.
Cukup biarkan sesuatu tetap kabur.
Dan kabut adalah sahabat terbaik kekuasaan.
Kini gantungan kunci itu beredar.
Kecil. Ringan. Murah. Meriah.

Baca juga:  Bamsoet Apresiasi Peluncuran Buku “Autobiografi Eros Djarot dan Apa Kata Sahabat”

Namun simbolnya berat.

Ia bukan sekadar lelucon.
Ia adalah pengakuan kolektif bahwa rakyat lelah menunggu transparansi yang selalu dijanjikan, tapi jarang dituntaskan.
Apakah artikel ini akan mengubah sesuatu?
Mungkin tidak.
Karena di Negeri Konoha Raya, yang paling kuat bukanlah kebenaran.
Bukan pula hukum.
Melainkan kemampuan untuk membuat sesuatu tetap menggantung—
cukup lama hingga publik lelah,
cukup samar hingga tak pernah benar-benar selesai.
Dan ketika rakyat akhirnya berhenti bertanya,
di situlah kuasa menemukan bentuknya yang paling sempurna.
Tak terlihat.
Tapi tetap bekerja.
(Selesai)

 

Foto : net/ istimewa