Porosmedia.com | Tasikmalaya |Mengutip dari RadarTasik ID | Di balik gemerlapnya gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk pasar tradisional di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tersembunyi sebuah cerita yang lebih dalam tentang ketimpangan ekonomi. Bayangkanlah seorang ibu rumah tangga bernama Siti, yang setiap pagi berjuang menjajakan sayur-mayur di pinggir jalan, berharap bisa menyisihkan sedikit untuk biaya sekolah anaknya. Ia adalah wajah dari ribuan warga yang masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan, meski kota ini dikenal sebagai pusat industri tekstil dan kuliner . Namun, sindiran pedas dari Ketua Dekranasda Jawa Barat, Atalia Praratya, beberapa waktu lalu, seolah membuka tabir kebenaran yang tak terbantahkan, Kota Tasikmalaya masih termasuk dalam daftar kota miskin di Indonesia.
Praratya, dalam sebuah acara publik, menyindir bahwa meski Tasikmalaya memiliki potensi besar sebagai kota perdagangan dan pariwisata, angka kemiskinan di sana tetap tinggi. “Ini bukan lagi rahasia,” katanya saat itu, merujuk pada data resmi yang menunjukkan persentase penduduk miskin di kota ini masih di atas rata-rata nasional. Sindiran itu bukan sekadar kata-kata kosong; ia didasarkan pada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang secara konsisten mencatat Kota Tasikmalaya sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2023, misalnya, BPS melaporkan bahwa persentase penduduk miskin di Tasikmalaya mencapai sekitar 8-9 persen, lebih tinggi dibandingkan kota-kota tetangga seperti Bandung atau Cirebon.
Tapi apa yang membuat kemiskinan ini begitu keras kepala? Feature ini menggali lebih dalam, melewati angka-angka kering menjadi kisah manusia. Di kampung-kampung seperti Cihideung atau Mangkubumi, banyak keluarga bergantung pada pekerjaan informal seperti buruh harian di pabrik tekstil atau pedagang kecil. Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan telah memperburuk situasi, dengan hilangnya lapangan kerja dan kenaikan harga bahan pokok. Seorang pedagang kaki lima bernama Ahmad, 45 tahun, bercerita kepada saya bagaimana ia kehilangan penghasilan selama lockdown. “Dulu, saya bisa makan tiga kali sehari. Sekarang, susah sekali,” ujarnya sambil menatap langit mendung, seolah mencari harapan di balik awan.
Namun, ada sinar harapan. Pemerintah Kota Tasikmalaya, melalui program-program seperti bantuan sosial dan pengembangan UMKM, mulai menunjukkan upaya untuk berubah. Walikota Muhammad Yusuf menegaskan komitmennya untuk mengurangi angka kemiskinan melalui investasi di sektor pendidikan dan kesehatan. “Kami tidak bisa hanya mengandalkan sindiran; kami perlu aksi nyata,” katanya dalam wawancara eksklusif.
@ngulik.sendiri Sadar Diri (Official music video)Lilyana ,Vyana, Eil, Anya W,Feat Mang Asuy support from Mba Na |AnA| note “Arap Segol dong” #officialmusicvideo #fyp #fyppppppppppppppppppppppp #fyp #musikindonesia ♬ suara asli – Ngulik Sendiri
Informasi Terbaru
Untuk memperkaya konteks ini, saya mengakses data terbaru dari Radar Tasikmalaya (radartasik.id, 15 Desember 2025), yang mengonfirmasi sindiran Praratya. Berdasarkan laporan BPS terbaru, Kota Tasikmalaya masih tercatat sebagai salah satu dari 10 kota dengan persentase kemiskinan tertinggi di Jawa Barat, dengan angka mencapai 7,8 persen pada kuartal III 2025—turun sedikit dari tahun sebelumnya, tapi masih di atas target nasional 6 persen. Artikel tersebut menyoroti bahwa faktor utama adalah ketimpangan pendapatan, di mana 40 persen penduduk bergantung pada sektor informal yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi. BPS juga mencatat peningkatan akses ke program bantuan sosial, seperti Kartu Indonesia Pintar, yang telah membantu 15.000 anak miskin di kota ini. Meski demikian, para ahli seperti ekonom Universitas Padjadjaran, Dr. Rina Sari, memperingatkan bahwa tanpa investasi infrastruktur yang lebih besar, kemiskinan ini bisa menjadi warisan generasi.
Di tengah tantangan ini, Kota Tasikmalaya berdiri sebagai simbol ketahanan. Bukan hanya tentang angka, tapi tentang manusia seperti Siti dan Ahmad yang terus berjuang. Apakah sindiran Praratya akan menjadi pemicu perubahan? Waktu akan menjawab, tapi satu hal pasti: cerita kemiskinan di sini belum selesai. Jika Anda pernah berkunjung ke Tasikmalaya, mungkin Anda akan melihatnya bukan sebagai kota miskin, melainkan sebagai tempat di mana harapan masih hidup.







