Kompak Nih, Nanik S. Deyang & Hotman Paris Mundur, Korupsinikus: Lha Gibran?

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

Porosmedia.com – Ada kabar menarik dari negeri yang akhir-akhir ini lebih kaya drama daripada minyak bumi. Nanik S. Deyang mundur. Hotman Paris juga mundur. Yang satu mundur dari jabatan. Yang satu mundur dari perkara. Alasannya sama-sama terdengar manusiawi: kesehatan.
Yang satu memilih berobat ke Malaysia. Yang satu lagi berobat ke Singapura.

Korupsinikus yang sedang menghitung harga cabai sambil mengelus dompetnya langsung mengangguk penuh pengertian. “Memang begitulah,” katanya. “Kalau badan sakit, cari dokter. Kalau pikiran sakit, cari liburan.

Kalau jabatan sakit, cari pengganti.” Lalu ia terdiam. Seperti sedang mencari sesuatu. Bukan mencari dompet. Bukan mencari akal sehat. Karena dua benda itu memang sudah lama sulit ditemukan secara bersamaan.

Korupsinikus sedang mencari satu nama. Ketemu. Gibran! Maka Korupsinikus pun bertanya dengan polos, pertanyaan yang kepolosannya justru membuat orang lain gelisah. “Gibran kapan?”

Warung kopi mendadak senyap. Sendok berhenti beradu dengan gelas. Asap rokok seperti lupa naik ke udara. Bahkan cicak di plafon terlihat menunda jatuhnya. “Kapan apa?” tanya seseorang.

Baca juga:  Kematian Akal Sehat di Bandung Zoo: Mengabaikan Profesional, Menjemput Husnul Khotimah

“Kapan merenung,” jawab Korupsinikus. “Oh…” Menurut Korupsinikus, jabatan itu mirip kursi hajatan. Kalau yang duduk membuat tamu nyaman, kursi itu terasa empuk. Tapi kalau setiap hari kursi itu diperdebatkan, diperiksa, dipertanyakan, dan menjadi bahan obrolan dari warung kopi sampai kampus, mungkin yang perlu dicek bukan kursinya. Melainkan kenyamanan orang yang duduk di atasnya.

“Di negeri ini,” kata Korupsinikus, “yang sering mundur justru pemain cadangan. Yang sudah jadi cadangan tetap bertahan. Yang sudah tidak main malah merasa mencetak gol.” Lalu ia tertawa. Tawa yang terdengar seperti suara rakyat saat melihat baliho politik dipasang sebelum jalan berlubang ditambal.

Menurutnya, ada orang yang kalah lalu mundur. Ada yang menang lalu mundur. Ada yang salah lalu mundur. Ada pula yang tidak salah apa-apa tetapi memilih mundur demi menjaga martabat lembaga. Namun ada juga jenis manusia langka. Semakin dipertanyakan, semakin betah. Semakin dikritik, semakin nyaman. Semakin gaduh, semakin menganggap semuanya baik-baik saja. Seperti penghuni rumah yang tetap tidur nyenyak meski atapnya sudah dibawa angin.

Baca juga:  FGD Kelurahan Citeureup Hasil Rembug Warga Dari 5 Bidang Ada 79 Usulan

“Hebat,” kata Korupsinikus. “Kalau rakyat mengeluh dianggap angin lalu. Kalau akademisi protes dianggap suara minor. Kalau aktivis bicara dianggap gaduh. Kalau media bertanya dianggap tidak produktif, dan tak punya otak?!” Lalu siapa yang harus didengar? Pagar rumah? Pot bunga? Atau mungkin mikrofon yang sudah dimatikan?

Korupsinikus kembali menyeruput kopi. Kopi itu pahit. Tetapi tidak sepahit nasib rakyat yang setiap lima tahun disuruh memilih, lalu lima tahun berikutnya disuruh diam.

Sebelum pulang, ia menuliskan satu kalimat di secarik kertas bekas bungkus gorengan: “Di negeri ini, mundur sering dianggap aib. Padahal yang lebih memalukan adalah ketika kemampuan untuk merasa malu ikut mengundurkan diri.

“Kertas itu lalu diterbangkan angin. Entah ke mana. Mungkin ke istana. Mungkin ke parlemen. Mungkin ke tempat yang paling membutuhkan cermin. Sebab di negeri yang kekurangan cermin, semua orang merasa dirinya baik-baik saja.

Alhasil kata Rubi, sobat dalit Korupsinikus yang sedari tadi diam mengamati:

“Nanik mundur karena kesehatan. Hotman mundur karena kesehatan. Rakyat? Sejak lama kesehatannya terganggu oleh politik. Bedanya, rakyat tidak punya kemewahan untuk mengundurkan diri. Lha Gibran, pantang mundur!” (Selesai).