Esai Kontemplatif: Harri Safiari
Porosmedia.com – Ada satu pertanyaan sederhana yang barangkali justru paling jarang ditanyakan ketika Negeri Konoha Raya (NKR) gaduh oleh kabar 8 WNI menjadi tentara bayaran Rusia.
Bukan semata:
“Kok mereka bisa sampai ke sana?”
Melainkan:
“Mengapa mereka merasa perlu mencari masa depan di sana?”
Pertanyaan sederhana. Tetapi jawabannya bisa membuat banyak orang tidak nyaman.
Siang itu, Korupsinikus—si filsuf jalanan yang konon lebih sering nongkrong di warung kopi ketimbang ruang seminar—kembali membuka percakapan di warung legendaris “Jayalah Kita Enah Kapan”, milik Mang Juned Bin Kokosan.
Topiknya sedang panas.
“Padahal,” kata Korupsinikus sambil meniup kopi pahitnya, “informasi mengenai kesempatan menjadi tentara asing itu sejak lama bertebaran di jagat digital. Orang yang punya telepon pintar dan kemauan mencari informasi, ya bisa menemukannya.”
Rubi yang duduk di sebelahnya mengangguk.
“Betul. Jadi jangan terlalu cepat bertanya, ‘Dari mana mereka tahu?’”
Ia berhenti sebentar.
“Pertanyaan yang lebih penting justru: mengapa informasi seperti itu bisa menjadi sesuatu yang menarik bagi sebagian anak bangsa?”
Nah!
Di situlah persoalannya mulai terasa lebih dalam.
Sebab kalau seorang anak muda melihat perang di negeri orang sebagai kesempatan memperoleh penghasilan, pengalaman, atau masa depan, barangkali yang perlu direnungkan bukan hanya keberaniannya.
Tetapi juga keadaan rumahnya sendiri.
Sarnawi (29), lulusan S-2 budidaya perikanan dari salah satu perguruan tinggi ternama di NKR, kebetulan sedang menganggur.
“Aku dulu sempat kepikiran ikut,” katanya polos.
“Lalu?”
“Pak RT mengingatkan.”
“Mengingatkan apa?”
“Kalau aku pergi ke Rusia, siapa yang jaga kamling?”
Semua yang hadir tertawa.
Tetapi Korupsinikus tidak.
Ia malah mengaduk kopinya perlahan.
“Lucu, ya. Orang berpendidikan tinggi bisa saja tidak menemukan pekerjaan yang layak di negerinya sendiri, tetapi informasi tentang peluang berperang di negeri orang justru bisa ditemukannya dengan mudah.”
Warung mendadak agak sunyi.
Arfan (34) ikut nimbrung.
“Saya juga pernah kepikiran mendaftar. Katanya penghasilannya lumayan.”
“Kenapa batal?”
“Nenek melarang.”
“Kenapa?”
“Siapa nanti yang mengantar nenek mengambil pensiunan?”
Tawa kembali pecah.
Kali ini Korupsinikus ikut tertawa.
Tetapi sesudah itu ia berkata:
“Untung masih ada nenek.”
“Lho, memang kenapa?”
“Karena ternyata kasih sayang keluarga masih lebih kuat daripada godaan perang.”
Semua terdiam.
Sebab barangkali itulah salah satu benteng terakhir sebuah bangsa:
keluarga.
Menurut Korupsinikus, peristiwa 8 WNI tersebut jangan hanya dilihat sebagai kisah individual.
Jangan pula buru-buru dijadikan bahan untuk saling mencaci.
Apalagi dijadikan bahan untuk membelah rakyat menjadi kubu ini dan kubu itu.
“Jangan sampai kita terjebak,” katanya.
“Bagaimana maksudnya?”
“Begini. Ketika ada persoalan besar, kita sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Setelah itu rakyat saling mencurigai, saling menuduh, saling menghina. Akhirnya energi bangsa habis untuk berkelahi.”
Korupsinikus tersenyum miring.
“Padahal kalau rakyat sudah sibuk berkelahi satu sama lain, siapa yang paling senang?”
Tidak ada yang menjawab.
Ia melanjutkan:
“Dari dulu bangsa ini mengenal istilah devide et impera. Pecah belah. Adu domba. Buat yang satu mencurigai yang lain. Buat yang lain membenci yang satu.”
Ia menunjuk televisi di sudut warung.
“Zaman dulu mungkin menggunakan senjata, politik, dan hasutan. Zaman sekarang?”
“Media sosial!” seru Rubi.
“Betul.”
Korupsinikus tertawa.
“Kini satu bangsa bisa dipecah hanya dengan satu unggahan, satu potongan video, satu narasi palsu, atau satu kalimat yang sengaja dibuat untuk membuat kita marah kepada sesama.”
Maka, kata Korupsinikus, kisah 8 WNI itu seharusnya menjadi cermin.
Bukan untuk menghakimi.
Bukan untuk mempermalukan.
Melainkan untuk bertanya:
Sudahkah negeri ini menyediakan cukup alasan bagi anak-anak mudanya untuk memilih membangun Indonesia daripada mencari masa depan di tempat lain?
Sudahkah lapangan pekerjaan tersedia?
Sudahkah pendidikan menghasilkan masa depan, bukan sekadar ijazah?
Sudahkah anak muda merasa bahwa negeri ini membutuhkan tenaga, pikiran, kreativitas, dan keberanian mereka?
Sebab nasionalisme yang paling kuat barangkali bukan nasionalisme yang diteriakkan di podium.
Nasionalisme yang paling kuat adalah ketika seorang anak muda merasa:
“Di negeri inilah masa depan saya.”
Korupsinikus kemudian berdiri.
Kopi tinggal setengah.
Pisang goreng tinggal remah-remahnya.
“Jangan terlalu sibuk bertanya bagaimana mereka bisa menemukan jalan menuju medan perang,” katanya.
“Bertanyalah lebih jauh.”
“Mengapa jalan menuju kesejahteraan di negeri sendiri belum selalu semudah itu ditemukan?”
Ia mengambil sandal jepitnya.
“Kalau lapangan kerja tersedia luas, kalau pendidikan memberi harapan, kalau usaha rakyat tumbuh, kalau hukum dipercaya, kalau masa depan anak muda jelas…”
Ia tersenyum.
“Untuk apa mencari perang di negeri orang?”
Korupsinikus berjalan meninggalkan warung.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh:
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan biarkan kita diadu domba oleh siapa pun.”
“Kenapa?”
“Karena negeri yang rakyatnya saling membenci, jauh lebih mudah dikuasai daripada negeri yang rakyatnya saling menjaga.”
Korupsinikus mengangkat jempol.
“Merdeka itu bukan sekadar bebas dari penjajahan. Merdeka juga berarti tidak membiarkan kemiskinan, pengangguran, kebodohan, provokasi, dan politik pecah-belah menjajah pikiran kita.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan satu pertanyaan yang mungkin lebih berbahaya daripada seluruh kegaduhan kasus ini:
Kalau anak-anak bangsa masih mencari masa depan di medan perang negeri orang,
jangan-jangan yang sedang berperang sesungguhnya bukan hanya mereka—
melainkan juga kita, melawan kegagalan kita sendiri dalam menyediakan masa depan.
— Selesai —







