Seturut Kritik Pedas Ketua Komisi II tentang Mental Kerja ASN

​Korupsinikus: Jangan ASN Saja yang Diceramahi…

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

​Porosmedia.com – Negeri Konoha Raya (NKR) kembali gaduh. Kali ini gara-gara kritik Ketua Komisi II DPR yang menyoroti mentalitas kerja Aparatur Sipil Negara (ASN).

​“Mentalitas sumber daya manusianya enggak berubah, masih ngabsen, pulang, ngopi, sore ngabsen lagi.”

​Kalimat itu meluncur deras, tajam, dan viral. Sebagian publik bertepuk tangan, sebagian lagi mengangguk setuju. Sisanya memilih diam karena merasa tidak enak jika ikut berkomentar; siapa tahu besok perlu tanda tangan di kantor pemerintahan.

​Sore itu, di sebuah warung kopi yang lebih sering menghasilkan analisis negara daripada ruang rapat resmi, Rubi memperlihatkan cuplikan video tersebut kepada Korupsinikus.

​“Bagaimana menurutmu?” tanya Rubi.

​Korupsinikus menyeruput kopi perlahan. “Bagus.”

​“Bagus?”

​“Iya. Kritiknya bagus, cuma kurang lengkap.”

​“Kurang lengkap bagaimana?”

​“Kalau ASN dikritik karena hobi absen, ngopi, lalu pulang, maka demi keadilan semesta, kita perlu membuat daftar yang lebih panjang.”

​Rubi langsung merapatkan kursinya. “Misalnya?”

​“Misalnya, ada pejabat yang rajin sekali rapat, tetapi hasil rapatnya tidak pernah ketahuan. Ada anggota dewan yang sangat aktif berbicara tentang rakyat, tetapi rakyat sendiri jarang melihat hasil pembicaraannya. Ada pimpinan yang gemar meluncurkan program baru setiap tahun agar terlihat bekerja, padahal program lama belum jelas nasibnya.”

Baca juga:  Negara dan Kelola Sampah ala Primitif, Korupsinikus: Gagal Dipikirkan

​Rubi tertawa.

​Korupsinikus melanjutkan, “Kalau ASN dituduh sibuk mengisi daftar hadir, sebagian elite juga sibuk mengisi daftar kegiatan. Bedanya, yang satu mengumpulkan tanda tangan, yang satu mengumpulkan dokumentasi.”

​“Wah, bahaya kalau begitu.”

​“Bahaya apanya? Ini kan hanya observasi ilmiah warung kopi.”

​Di meja sebelah, seorang pelanggan yang sejak tadi pura-pura bermain ponsel mulai memasang telinga.

​“Masalah terbesar NKR,” lanjut Korupsinikus, “adalah semua orang suka menjadi pengawas selama dirinya tidak diawasi.”

​“Maksudnya?”

​“ASN diawasi DPR, DPR diawasi media, media diawasi netizen, netizen diawasi algoritma. Tetapi anehnya, setelah berputar-putar seperti komidi putar, yang berubah sering kali hanya narasinya.”

​“Lalu apa yang tidak berubah?”

​“Perilaku.”

​Korupsinikus meletakkan gelasnya. “Lihat saja. Setiap kali ada kritik birokrasi, yang muncul pertama kali adalah seminar. Setelah seminar, muncul rekomendasi. Setelah rekomendasi, muncul tim evaluasi. Setelah tim evaluasi, muncul aplikasi baru. Setelah aplikasi baru, muncul pelatihan penggunaan aplikasi baru. Setelah pelatihan selesai, masalah awal masih nongkrong di tempat yang sama, bahkan sudah hafal nama semua peserta pelatihan.”

Baca juga:  Ijazah, Banjir, dan Negeri yang Salah Bertanya - Korupsinikus Angkat Bicara

​Rubi hampir tersedak. “Berarti digitalisasi gagal?”

​“Bukan gagal. Di NKR, digitalisasi sering diperlakukan seperti parfum. Disemprotkan ke mana-mana agar baunya modern, padahal sampah organisasinya masih menumpuk di belakang rumah.”

​Angin sore berembus pelan.

​“Yang lucu,” kata Korupsinikus, “semua orang selalu bicara soal mentalitas bawahan.”

​“Karena memang itu masalahnya, bukan?”

​“Sebagian. Tapi coba hitung berapa kali kita mendengar pembahasan tentang mentalitas atasan?”

​Rubi terdiam.

​“NKR ini seperti sekolah yang muridnya terus dimarahi karena nilai jelek, sementara tidak seorang pun berani bertanya mengapa kepala sekolahnya berganti kurikulum setiap musim hujan.”

​“Jadi yang salah siapa?”

​“Nah, itu pertanyaan favorit bangsa ini.” Korupsinikus tersenyum. “Kita selalu mencari siapa yang salah karena lebih mudah daripada mencari apa yang salah.”

​“Bedanya?”

​“Kalau sudah menemukan orang yang salah, kita puas. Kalau menemukan sistem yang salah, kita harus bekerja.”

​Warung kopi makin senyap.

​“Lalu bagaimana dengan masyarakat?”

​Korupsinikus tertawa pendek. “Nah, jangan merasa suci dulu. Publik kita juga unik.”

Baca juga:  Analisis Penunjukan Susi Pudjiastuti: Menguji Independensi dan Standar Profesionalisme OJK

​“Maksudnya?”

​“Kita marah kalau pelayanan lambat, tetapi mencari jalur belakang kalau sedang terburu-buru. Kita mengutuk korupsi, tetapi bangga kalau punya kenalan ‘orang dalam’. Pada akhirnya, birokrasi yang kita keluhkan adalah cermin sempurna dari diri kita sendiri.”