Daripada Susah dan Belibet, Korupsinikus: Ijazah Palsu yang Hilang, Minta Ganti yang Asli Aja…

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

​Porosmedia.com – Di Negeri Konoha Raya (NKR), rakyatnya terkenal sabar—bahkan untuk hal yang belum jelas ada atau tidaknya.

​Kali ini kisahnya tentang ijazah.

​Bukan ijazah biasa, melainkan ijazah yang sudah jadi pusaka nasional. Diperdebatkan di warung kopi sampai ruang ber-AC, dari pakar sampai warganet yang mendadak jadi ahli.

​Ada yang bilang asli. Ada yang bilang palsu. Ada juga yang bilang, yang paling palsu justru perdebatan itu sendiri.

​Korupsinikus pun garuk kepala.

​”Ini asli atau palsu?” tanya seseorang.

​Korupsinikus diam.

​”Kalau asli, buktinya?”

​Masih diam.

​”Kalau palsu, siapa buat?”

​Ia makin garuk kepala. Lalu ia berkata santai, “Daripada ribet, laporkan saja kehilangan ijazah. Nanti minta pengganti yang asli.”

​Hening.

​”Lho, kok bisa?” tanya orang.

​”Bisa saja,” jawabnya. “Kalau hilang, ada mekanisme pengganti. Tak perlu debat bertahun-tahun.”

​”Kalau yang palsu?”

​”Itu urusan ahli, penyidik, dan pengadilan.”

​Suasana makin gaduh karena kasus ini sudah jadi drama nasional. Episode demi episode terus bertambah: dari “ada” sampai “diperdebatkan”, lalu “diperiksa”, lalu “ahli melawan ahli”, dan tak pernah benar-benar tamat.

Baca juga:  Renungan Kehidupan Harri Safiari: Kerendahan Hati Kunci Bertahan di Tengah Ketidakpastian

​Korupsinikus menghela napas. “Kalau begini terus, ijazahnya pensiun duluan, tapi debatnya masih kerja.”

​Ia lalu berkata bahwa rakyat sebenarnya hanya butuh kepastian: asli ya asli, palsu ya palsu, hilang ya ganti sesuai aturan. Sederhana, tapi di NKR sering dibuat rumit.

​Yang harusnya satu tanda tangan jadi sepuluh rapat. Yang harusnya sehari jadi berbulan-bulan. Yang harusnya bukti, berubah jadi perang opini.

​”Jadi sebenarnya yang dicari ijazahnya atau kebenarannya?” tanya Korupsinikus.

​Semua terdiam. Karena mungkin memang kebenaranlah yang dicari, bukan sekadar kertas.

​Dan kebenaran seharusnya sederhana: ada bukti, tunjukkan; ada sengketa, periksa; ada pelanggaran, proses; ada putusan, hormati.

​Korupsinikus menutup, “Kalau hilang, urus saja penggantinya. Jangan sampai surat hilangnya ikut hilang.”

​Semua tertawa.

​Di NKR, ternyata mencari ijazah belum tentu sesulit mencari kebenaran. Sebab ijazah bisa diganti. Tapi kalau kepercayaan publik yang hilang, siapa yang bisa menggantinya?

​Untuk itu, Korupsinikus diam.

Selesai