HADEUH, REKTOR TERJERAT KPK!

Korupsinikus: Dia Juga Manusia... Tapi Jangan Sampai Kampus Jadi Pasar!

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

​Porosmedia.com – Ada kabar dari dunia pendidikan tinggi Negara Konoha Raya (NKRI) yang membuat Korupsinikus kehilangan selera sarapan.

​Bukan karena harga kopi naik.

Bukan pula karena gorengan Bang Joel mengecil.

​Tetapi karena dunia kampus kembali dihantam kabar yang bikin dahi berkerut: pucuk pimpinan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto terseret perkara yang ditangani KPK terkait dugaan pemerasan dan gratifikasi dalam penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri.

​“Hadeuh!”

​Itulah kata pertama Korupsinikus siang itu.

​Ia sedang nongkrong di warung kopi “Biar Pahit Namun Tak Manis”, milik Bang Joel—mantan pegawai BUMD yang katanya pernah terseret urusan ijazah palsu dua tahun lalu.

​Nama warungnya saja sudah cukup menjelaskan suasana Negara Konoha Raya.

​Kopi pahit. Kenyataan lebih pahit. Yang manis biasanya cuma janji.

​Korupsinikus menatap layar televisi.

​“Ini perguruan tinggi, lho!”

“Tempat orang mencari ilmu.”

“Tempat mencetak intelektual.”

“Tempat melahirkan dokter, insinyur, ilmuwan, guru, peneliti, dan pemimpin masa depan.”

​Ia menarik napas.

​“Lah, kok yang dibicarakan malah jalur mandiri?”

​Suparno bin Jahro, kolektor ratusan batu akik yang sampai sekarang belum juga menjadi pengusaha batu akik, nyeletuk:

​“Jalur mandiri kan bagus, Bang.”

“Bagus apanya?”

“Mandiri.”

​Korupsinikus menatap tajam.

​“Mandiri dari siapa?”

​Suparno bingung.

​“Ya… mandiri sendiri.”

​Korupsinikus menggeleng.

​“Jangan-jangan mandirinya cuma nama. Yang berjalan malah jalur modal.”

​Warkop mendadak sunyi.

​Rubi yang dikenal sebagai pegiat antikorupsi kelas bolongkotan langsung mengangguk.

​“Bisa jadi itu yang harus dipertanyakan.”

“Kalau benar ada praktik seperti yang sedang diproses secara hukum, persoalannya bukan cuma uang.”

“Ini soal keadilan.”

​Korupsinikus menyambar:

​“Betul!”

“Karena kalau kesempatan masuk perguruan tinggi bisa dipengaruhi uang, kita harus bertanya:”

​Ia berdiri.

​“Apakah yang sedang kita seleksi itu calon mahasiswa… atau calon pembayar?”

​Dadan Utun Inji langsung menepuk meja.

​“Waduh!”

​Korupsinikus semakin panas.

Baca juga:  Indah Berbagi di Bulan Suci Ramadhan Bersama KPJ Rambutan

​“Bayangkan!”

“Anak A belajar mati-matian.”

“Bimbel.”

Try out.”

“Begadang.”

“Berjuang.”

“Berdoa.”

“Anak B punya kemampuan akademik biasa saja, tetapi orang tuanya punya dompet luar biasa.”

​Korupsinikus mengangkat kedua tangannya.

​“Kalau sistemnya sampai bisa disusupi praktik transaksional, lalu siapa yang sebenarnya sedang diuji?”

“Kemampuan anaknya atau kemampuan rekening orang tuanya?”

​Rubi tertawa getir.

​“Pertanyaan sederhana, tapi sakit.”

“Memang harus sakit!”

​Korupsinikus membanting telapak tangan ke meja.

​“Karena pendidikan itu bukan pasar swalayan!”

“Tidak semestinya ada papan bertuliskan:

MASUK KEDOKTERAN — PROMO TERBATAS!

BAYAR SEKIAN — DAPAT KURSI!

PAKET EKSKLUSIF — MASA DEPAN CERAH!”

​Bang Joel sampai tersedak kopi.

​Dede Bedog yang sehari-hari menjadi perongsok lepas ikut berkomentar.

​“Kalau begitu, kuliah kedokteran bisa pakai sistem cicilan?”

“Jangan ngawur!”

“Kan sama-sama mahal.”

​Korupsinikus menatapnya.

​“Yang dicicil itu biaya pendidikan, bukan integritas!”

​Warkop meledak.

​Tetapi Rubi kembali serius.

​“Yang membuat saya khawatir bukan hanya kasus ini.”

“Lantas?”

“Kalau masyarakat mulai percaya bahwa masuk kampus bagus harus punya uang besar atau koneksi besar, lama-lama pendidikan kehilangan wibawanya.”

​Korupsinikus mengangguk.

​“Nah!”

“Dan kalau itu terjadi, jangan heran kalau suatu hari anak-anak kita bertanya:

‘Untuk apa saya belajar keras kalau kursi bisa dibeli?’”

​Semua terdiam.

​Sebab pertanyaan itu bukan lagi lelucon.

Itu ancaman terhadap masa depan.

​Korupsinikus kemudian duduk kembali.

​“Dan jangan salahkan mahasiswa.”

“Jangan pula menghakimi seluruh lulusan.”

“Jangan pukul rata semua jalur mandiri.”

“Yang harus diperiksa adalah sistem dan orang-orang yang diduga menyalahgunakan kewenangan.”

​Ia menunjuk layar televisi.

​“Kalau ada yang terbukti bersalah, ya pertanggungjawabkan.”

“Jabatan bukan tameng.”

“Almamater bukan tameng.”

“Gelar akademik bukan tameng.”

“Bahkan profesor sekalipun bukan tameng.”

​Rubi menyela:

​“Termasuk rektor?”

“Terutama rektor!”

​Korupsinikus mendadak berdiri lagi.

​“Karena rektor bukan pemilik kampus!”

“Rektor itu penjaga amanah akademik.”

“Kalau penjaga gerbang justru diduga ikut bermain di belakang gerbang, ya rakyat boleh bertanya.”

Baca juga:  Menyelaraskan Teknologi dan Empati: Masa Depan Rekrutmen HR

“Ini kampus atau loket?”

​Suparno ikut panas.

​“Kalau begitu kita bikin istilah baru saja.”

“Apa?”

“Jalur Mandiri Plus.”

“Apaan?”

“Mandiri masuknya, orang tua yang bayar.”

​Korupsinikus melotot.

​“Jangan!”

“Kenapa?”

“Nanti ada Jalur Mandiri Premium.”

“Terus?”

“Jalur Mandiri Sultan.”

“Terus?”

“Jalur Mandiri Platinum: kursi dekat masa depan!”

​Warkop kembali pecah.

​Bang Joel tertawa sambil mengelap meja.

​Namun Korupsinikus belum puas.

​“Ini semua memang terdengar absurd.”

“Tapi korupsi selalu dimulai dari sesuatu yang dianggap biasa.”

“Sedikit.”

“Lama-lama banyak.”

“Sendiri.”

“Lama-lama berjamaah.”

“Sekali.”

“Lama-lama menjadi budaya.”

​Ia berhenti.

​“Dan yang paling mengerikan adalah ketika masyarakat akhirnya berkata:

‘Ah, memang begitulah sistemnya.’”

​Korupsinikus menatap semua orang.

​“Kalau sudah sampai tahap itu, korupsi bukan lagi sekadar kejahatan.”

“Ia sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan.”

​Hening.

​Dadan Utun Inji kemudian bertanya:

​“Bang Korupsinikus…”

“Apa?”

“Bukankah rektor juga manusia?”

​Korupsinikus tersenyum.

​“Ya.”

“Bisa salah?”

“Bisa.”

“Bisa khilaf?”

“Bisa.”

“Bisa tergoda?”

“Bisa.”

​Dadan mengangguk.

​“Berarti dia juga manusia.”

​Korupsinikus menatapnya lama.

​“Betul. Dia juga manusia. Tetapi ketika manusia itu diberi amanah menjaga pendidikan, jangan sampai sisi manusianya dipakai untuk membenarkan penyalahgunaan amanah.”

​Rubi menimpali:

​“Jadi manusia boleh salah?”

“Boleh.”

“Lalu?”

“Hukum yang menentukan pertanggungjawabannya.”

​Korupsinikus kembali menyeruput kopi.

​Kemudian ia berkata dengan nada pelan:

​“Dunia pendidikan tinggi kita jangan sampai mengalami tragedi paling ironis.”

“Apa itu?”

“Mahasiswanya belajar integritas dari buku, sementara pengelolanya justru diuji integritasnya oleh KPK.”

​Bang Joel terdiam.

Suparno menutup mulut.

Dede Bedog menundukkan kepala.

​Bahkan Korupsinikus sendiri tampak seperti baru sadar bahwa kalimatnya terlalu pahit.

​Tetapi ia melanjutkan:

​“Kalau benar ada permainan dalam penerimaan mahasiswa, bongkar!”

“Kalau ada pihak yang terbukti bersalah, hukum!”

“Kalau sistemnya bolong, perbaiki!”

“Kalau pengawasannya lemah, perkuat!”

“Kalau transparansinya buruk, buka!”

Baca juga:  Pangdam III/Siliwangi Pimpin Sertijab Sejumlah Pejabat Kodam

“Dan kalau ada yang selama ini merasa jabatan akademiknya membuat dirinya kebal…”

​Korupsinikus tersemeyum.

​“Silakan tanya KPK apakah toga bisa dipakai sebagai rompi antipeluru.”

​Warkop meledak untuk kesekian kalinya.

​Tetapi setelah tawa reda, Korupsinikus menyampaikan kalimat terakhirnya.

​“Negeri ini tidak kekurangan orang pintar.”

“Yang kita kekurangan adalah sistem yang memastikan kepintaran tidak kalah oleh uang.”

“Jangan sampai nanti kita memiliki dokter yang pintar karena belajar keras…”

“…tetapi proses masuknya ke dunia kedokteran justru membuat masyarakat bertanya-tanya.”

​Ia mengangkat cangkir kopi.

​“Pendidikan harus menghasilkan manusia berilmu.”

“Bukan manusia yang sejak awal belajar bahwa semua bisa dinegosiasikan.”

​Lalu Korupsinikus tersenyum getir.

​“Kalau kampus berubah menjadi pasar, jangan heran kalau suatu hari ijazah berubah menjadi kuitansi.”

​Hening.

​Ia berdiri dan berjalan menuju pintu.

​Dadan Utun Inji berteriak:

​“Bang! Kopinya belum bayar!”

​Korupsinikus berhenti. Menoleh.

​“Waduh.”

“Kenapa?”

“Kalau kopi saja harus bayar, masa kursi pendidikan boleh gratisan?”

​Ia merogoh saku. Kosong.

​Bang Joel melotot.

​Korupsinikus tersemeyum kecut.

​“Besok saya bayar.”

​Bang Joel berteriak:

​“NAH! INI DIA PENYAKIT NEGARA KONOHA RAYA!”

​Semua tertawa. Korupsinikus pun pergi.

​Dan siang itu, Warkop Biar Pahit Namun Tak Manis kembali ramai.

​Kopi tetap pahit.

Gorengan tetap berminyak.

​Tetapi satu pertanyaan terus menggantung di udara:

​Jalur mandiri itu sebenarnya jalan menuju pendidikan yang mandiri… atau jalan menuju pendidikan yang bisa dibeli?

(Selesai)