Esai Kontemplatif — Harri Safiari
Porosmedia.com – Menjadi orang benar itu ternyata melelahkan.
Bukan karena kebenaran terlalu berat.
Tetapi karena kebanyakan orang sudah terlalu nyaman hidup dalam kompromi.
Korupsinikus pernah duduk di pojok warung kopi sambil mengaduk kopi sachet yang gulanya lebih banyak daripada harapannya terhadap negeri ini.
Lalu ia berkata:
“Lucu ya…
Orang yang nggak ikut nipu malah sering dianggap nggak bisa kerja sama.”
Semua tertawa.
Tapi tidak ada yang benar-benar merasa itu lucu.
Capek jadi orang benar itu nyata.
Ketika yang datang telat justru paling banyak alasan.
Yang kerja sungguhan malah ditambah beban.
Yang rajin dianggap tidak enakan untuk dieksploitasi.
Sementara yang pintar menjilat suasana justru dipuji fleksibel.
Korupsinikus bilang:
“Di negeri ini kadang yang lurus bukan dipuji…
malah disuruh belajar belok sedikit.”
Katanya biar realistis.
Awalnya orang baik cuma ingin bertahan lurus.
Lalu ia mulai dinasihati:
“Jangan terlalu idealis.”
“Santai aja kali.”
“Ikut arus dikit nggak bakal mati.”
Dan mungkin benar.
Yang mati bukan badannya.
Tetapi pelan-pelan rasa malunya.
Yang lebih melelahkan lagi, kadang orang benar bukan kalah karena salah.
Tetapi karena sendirian.
Ia melihat yang manipulatif naik jabatan lebih cepat.
Yang pandai cari muka lebih mudah dapat akses.
Yang suka main belakang malah disebut pintar bergaul.
Sementara dirinya?
Masih sibuk menjaga supaya hati tidak ikut rusak.
Korupsinikus tertawa kecil:
“Kadang jadi orang jujur tuh kayak jadi charger iPhone di tongkrongan Android.
Dibutuhkan… tapi nggak cocok sama sistem.”
Warung kopi pecah ketawa.
Lalu hening.
Karena setelah dipikir-pikir… ada benarnya juga.
Capek jadi orang benar juga muncul saat melihat ketidakadilan terasa terlalu santai.
Orang curang bilang:
“Ah… semua juga begitu.”
Orang yang protes malah dianggap ribet.
Dan lama-lama, masyarakat lebih terganggu oleh orang yang mengingatkan kesalahan… daripada kesalahannya itu sendiri.
Di titik itu, menjadi benar terasa seperti melawan arus sungai sambil bawa kulkas dua pintu.
Berat.
Licin.
Dan kadang bikin pengin rebahan saja lalu menyerah pada keadaan.
Korupsinikus pernah berkata dengan wajah setengah serius:
“Yang bikin capek itu bukan jadi orang benar.
Tapi hidup di lingkungan yang terus-terusan bikin kita merasa jadi orang aneh karena masih punya hati.”
Kalimat itu tidak terdengar heroik.
Malah terdengar seperti curhat pegawai yang baru pulang lembur tanpa uang transport.
Tetapi justru karena itu terasa nyata.
Namun anehnya, meski capek, masih ada orang-orang yang memilih tetap benar.
Masih ada yang menolak titip absen.
Masih ada yang malu menerima amplop.
Masih ada yang antre meski punya kenalan.
Mungkin bukan karena mereka suci.
Tetapi karena mereka tahu:
sekali hati terlalu sering diajak kompromi, lama-lama ia tidak lagi bisa membedakan mana yang salah.
Dan mungkin itu ketakutan yang lebih menyeramkan daripada miskin.
Korupsinikus lalu menghabiskan kopinya yang sudah dingin.
Sebelum pergi, ia sempat berkata pelan:
“Capek jadi orang benar itu wajar.
Yang bahaya kalau akhirnya kita capek… lalu ikut jadi salah.”
Lalu ia berjalan keluar.
Meninggalkan warung kopi, asap rokok, dan beberapa orang yang tiba-tiba mendadak diam memikirkan hidupnya masing-masing.
(Selesai)







