Esai Satir: Harri Safiari
Porosmedia.com – “MBG Bermanfaat atau Tidak?”—sebuah pertanyaan yang sudah dijawab bahkan sebelum diajukan.
Tentu: bermanfaat.
Setidaknya, sebagai laporan “keberhasilan unggulan”
Sejak diluncurkan oleh Prabowo Subianto pada peringatan May Day 2026 di Jakarta, MBG menjelma menjadi program yang tak boleh diragukan—apalagi dipertanyakan. Sebab di negeri ini, program yang sudah punya panggung, otomatis punya kebenaran.
Di lapangan, cerita berjalan dengan cara yang lebih jujur.
Ibu-ibu berstrategi agar anaknya rutin mendapat bubur kacang hijau dan telur rebus—dengan pendekatan yang kadang lebih halus daripada kebijakan itu sendiri. Di sisi lain, anak-anak sekolah di kota justru mengembalikan ompreng dalam keadaan utuh. Bukan karena kenyang, tapi karena bosan.
Menu tak menarik.
Penyajian tak menggugah.
Selera tak diajak bicara.
Sesekali, muncul kabar keracunan. Tapi itu hanya catatan kaki—kecil, cepat dilupakan, tak cukup kuat untuk mengganggu narasi besar.
Lalu mikrofon berbicara.
“Ini bukti keberhasilan,” kata pejabat.
Dan kalimat itu cukup untuk menutup semua pertanyaan.
Korupsinikus hanya mengangkat bahu.
“Au ah…”
Di negeri ini, manfaat bukan soal dirasakan atau tidak.
Tapi soal siapa yang mendefinisikan.
Dan MBG yang perkasa—seperti banyak hal lainnya—lebih sibuk memastikan dirinya terlihat berhasil, daripada benar-benar berguna. (Selesai).







