Bandul Keadilan di Negeri Konoha Raya: Saat Nurani Disandera Ijazah

Avatar photo

Porosmedia.com – Entah hiliwir angin busuk apa yang kembali menyapu Negeri Konoha Raya (NKR). Di negeri yang katanya menjunjung keadilan ini, aroma anyir kekuasaan seakan lebih pekat daripada wangi bunga kamboja di taman makam pahlawan.

Kembali diingatkan dari balik museum geologi, sosok legendaris Korupsinikus — makhluk jelmaan dari kutukan Malin Kundang birokrasi ribuan tahun lalu — tiba-tiba hidup lagi. Konon dulu, Korupsinikus membatu setelah menerima amplop haramnya yang ke-2005.

Ribuan tahun kemudian, batu itu digosok dan berkat frekuensi gelombang tertentu oleh Rubi, si penyambung asa. Singkatnya, makhluk itu kembali berkiprah di bumi NKR.

Kini Korupsinikus yang mengaku sudah tobat, kembali terperangah. Ia tergelitik membaca kabar di Polda Metro Jaya: delapan orang, termasuk Roy Suryo dkk, resmi ditetapkan sebagai tersangka atas tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

“Sejujurnya, andai ijazah itu asli, tunjukkan saja. Selesai perkara,” kata Korupsinikus, diserbu para jurnalis. Ia menatap kosong ke langit Negeri Konoha Raya yang kelabu. “Tapi sepertinya, di negeri ini, esensi kebenaran sudah dibutakan dan diluluhlantakkan!”
“Siapa yang membutakan?” tanya seorang jurnalis.

Baca juga:  Bebasnya Bandar Judi Kelas Kakap: Ketika Hukum Takluk pada Kuasa dan Nama Besar

“Entahlah,” jawab Korupsinikus lirih, “mungkin awan gelap itu telah menidurkan nurani bangsa. Jadinya, yang masih waras malah jadi tumbal.”

Delapan orang itu kini diikat pasal demi pasal: 310, 311, 27A, 45A, 28 ayat 2, hingga 51 ayat 1 UU ITE. Hukum di NKR tampaknya tak lagi mencari kebenaran, melainkan siapa yang cukup kuat untuk mendikte kebenaran.

Ironisnya, hampir bersamaan di Istana Merdeka, Presiden Prabowo Subianto melantik Komisi Percepatan Reformasi Polri. “Semoga hiliwir angin busuk ini segera berganti harum keadilan,” ujar Korupsinikus, berusaha optimis sambil menatap bendera yang “ngaplek (terkulai)”setengah tiang — entah karena berkabung atau kebetulan sedang terkulai.

Beberapa hari kemudian, di bawah langit mendung yang enggan cerah, Korupsinikus dikonfirmasi lagi oleh wartawan. Ia tak banyak bicara, hanya mengutip tajam tulisan M. Rizal Fadilah di Jakartasatu.com:
“Jokowi disorot ijazah palsu, bukannya diselidiki serius malah orang yang mempermasalahkan diproses hukum.”

Sementara itu, di warung kopi ujung gang, Mang Tata dan Ujang Gobir — rakyat kecil yang sudah kenyang janji — saling bertukar pandang.

Baca juga:  Dugaan Penganiayaan Advokat oleh Oknum Dokter Spesialis: Peradi Bandung Desak Polsek Sukajadi Segera Tetapkan Tersangka

“Kang, gimana nasib polemik ijazah itu? Ada ujungnya, gak?” tanya Mang Tata.
Ujang tersenyum pahit, sambil menyalakan rokok lintingannya. “Au ah… gelap banget.”

Sementara itu, di sudut langit Negeri Konoha Raya, bandul keadilan terus berayun — tapi entah ke mana mengarah? (Selesai)

 

Harri Safiari| Porosmedia