Esai Satir Kontemplatif — Harri Safiari
Porosmedia.com – Di Negeri Konoha Raya (NKR), nilai tukar dolar terhadap rupiah pada sekitar Mei 2026 bukan lagi sekadar angka ekonomi. Ia telah naik pangkat menjadi semacam ramalan cuaca nasional: naik sedikit, rakyat gelisah; turun sedikit, pejabat tersenyum sambil mengutip ayat optimisme pembangunan.
Maka ketika suatu pagi kurs dolar dikabarkan “jatuh” ke Rp17.845, suasana negeri mendadak seperti habis memenangkan perang kemerdekaan jilid dua.
Televisi menyiarkan wajah-wajah sumringah dengan rona heroisme yang agak aneh.
Studio berita berubah seperti posko kemenangan nasional.
Grafik kurs diperlakukan bak bendera perang yang berhasil direbut dari tangan penjajah.
Pengamat dadakan bermunculan seperti jamur musim hujan.
Influencer ekonomi mendadak berbicara tentang geopolitik global, walau minggu lalu masih sibuk mengulas skincare anti-aging dan mie nyemek level neraka.
“Ini bukti fundamental ekonomi kita kuat!” kata seorang pejabat sambil menunjuk grafik warna-warni yang tampaknya bahkan ia sendiri belum tentu paham sepenuhnya.
Korupsinikus yang baru turun dari orbit satelit parkir ilegal pun melongo.
“Lho… bukannya Rp17.845 itu masih jauh lebih lemah dibanding masa-masa ketika rupiah pernah belasan ribu kecil?” gumamnya sambil menghitung memakai kalkulator kusam warung fotokopi.
Namun di NKR, logika memang sering kalah oleh kebutuhan menjaga suasana hati nasional.
Sebab di negeri ini, optimisme kadang bukan lahir dari kenyataan, melainkan dari cara judul berita dirakit sedemikian rupa.
Di sebuah desa, seorang bapak berkata penuh syukur:
“Alhamdulillah… dolar turun. Berarti kita merdeka lagi.”
Padahal harga pupuk belum turun.
Harga minyak goreng masih suka bertingkah seperti sinetron yang dipaksa lanjut walau ceritanya sudah tamat.
Dan cicilan motor tetap datang tepat waktu seperti mantan yang belum rela kehilangan kontak.
Tetapi begitulah psikologi bangsa modern:
kadang kita tidak benar-benar membutuhkan ekonomi sehat.
Kita hanya membutuhkan headline yang terdengar menenangkan, walau dompet tetap megap-megap.
Korupsinikus lalu duduk termenung di gardu ronda sambil menyeruput kopi sachet cap tiga anting, yang diam-diam bahan bakunya juga dipengaruhi kurs internasional.
Ia lalu teringat sebuah petuah tua dari kitab ekonomi pasar pinggir jalan:
“Rakyat kecil memang tidak belanja dolar.
Tapi hampir semua hal yang membuat hidup mereka mahal, diam-diam berbicara dalam bahasa dolar.”
Maka di NKR, dolar akhirnya bukan lagi mata uang asing.
Ia telah berubah menjadi makhluk gaib nasional:
tidak terlihat, tetapi mampu menggerakkan harga telur, mie instan, tiket pesawat, biaya sekolah, bahkan emosi netizen yang naik-turun seperti roller coaster pasar malam.
Dan seperti biasa, rakyat kecil hanya diminta tenang.
Tenang mendengar pidato.
Tenang melihat grafik.
Tenang menerima keadaan.
Sebab di negeri yang terlalu lama akrab dengan slogan, rasa lega memang lebih murah diproduksi daripada harga kebutuhan pokok.
Maka rakyat pun kembali diyakinkan:
“Tenang… kita merdeka lagi.”
Walau yang benar-benar merdeka, tampaknya baru narasinya saja.
(Selesai).







