Candrakala Natya: Manifestasi Cerita Rakyat Dalam Estetika Modern Siswa SMAN 4 Bandung 

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Riuh rendah tepuk tangan membahana di Aula SMAN 4 Bandung, Rabu (13/5/2026). Bukan sekadar seremoni rutin, sekolah yang dikenal dengan julukan “G-Four” ini kembali membuktikan eksistensinya sebagai kawah candradimuka pelestarian budaya melalui pagelaran seni bertajuk “Candrakala Natya”. Perhelatan tahunan ini menjadi panggung bagi siswa kelas XI
untuk mengeksplorasi kedalaman nilai-nilai nusantara.

Evolusi Kreativitas: Dari Kelas ke Panggung

Rekam jejak pagelaran seni di SMAN 4 Bandung bukanlah fenomena instan.
Dimulai sejak awal milenium tahun 2000-an dengan format yang sangat sederhana, kegiatan ini telah bertransformasi menjadi agenda akademis yang prestisius.
Transformasi signifikan terlihat pada tahun 2015, di mana kurikulum Seni Budaya mulai mengintegrasikan praktik tari dan pertunjukan secara komprehensif bagi siswa kelas XI.

Meski sempat terhambat oleh masa pandemi pada periode 2021-2022 yang
memaksa pertunjukan dilakukan secara daring, semangat para siswa tidak pernah padam. Kini di tahun 2026, kembalinya pertunjukan fisik (luring) membawa energi baru dengan mengangkat tema sentral: Cerita Rakyat. Pemilihan tema ini merupakan langkah strategis dalam memperkenalkan kembali etika dan moralitas lokal kepada generasi Z dan Alpha di tengah gempuran budaya global.

Baca juga:  Ratusan Siswa SD Di Atambua Sambut PTM Dengan Mengikuti Vaksin Anak

“Cerita rakyat bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan kristalisasi
nilai-nilai leluhur. Melalui gerak dan peran, siswa belajar menghargai identitas mereka sebagai bangsa Indonesia,” ujar salah satu
inisiator Joanna Alexandra kegiatan.

Jiwa Luhung Putra Galuh”: Sorotan Utama Kelas XI-9

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah persembahan dari kelas XI-9 yang bertajuk “Jiwa Luhung Putra Galuh”. Dengan arahan Pimpinan Produksi Aisy Qonitah Kalonica dan Sutradara Muhammad Ervan Surya Gunawan,
pertunjukan ini berhasil memadukan unsur dramatik dengan koreografi yang
megah.
Narasi yang ditulis oleh Chesta Nazarya Alesha dan Reisya Azalia ini menggali
kembali kejayaan tradisi Sunda, dibalut dengan penataan musik oleh Khanza
Tabany Agustiawan dan Rangga Aditya Marero yang apik. Kostum yang dikenakan para penampil pun mencerminkan ketelitian dalam riset budaya, menunjukkan bahwa siswa tidak hanya bermain peran, tetapi juga mendalami filosofi di balik atribut yang mereka gunakan.

Pendidikan Berbasis Karakter dan Budaya

Pagelaran Candrakala Natya membuktikan bahwa pembelajaran di dalam kelas harus selaras dengan aplikasi praktis. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk memiliki kemampuan manajerial (logistik, fundraising, dan publikasi) sekaligus
kecerdasan emosional dalam berkolaborasi. Secara hukum dan akademik, kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari penguatan profil pelajar Pancasila yang
mandiri, kreatif, dan berkebinekaan global.

Baca juga:  IWS-Indonesia Beri Apresiasi Atas Pelantikan Irjen Pol Pipit Rismanto sebagai Kapolda Jabar

Dengan dukungan penuh dari Disdik Jabar dan komunitas sekolah, SMAN 4
Bandung terus menjaga nyala api seni budaya agar tetap terang. Pagelaran ini
adalah pesan nyata: bahwa modernitas tidak harus berarti melupakan akar sejarah.