Porosmedia.com, Jakarta – Kementerian Transmigrasi menegaskan komitmennya dalam melakukan transformasi kawasan transmigrasi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge-based development). Guna merealisasikan program-program unggulan tersebut, Kementerian Transmigrasi memperkuat sinergi dengan sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di Indonesia melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026.
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menyatakan bahwa keterlibatan civitas akademika sangat krusial untuk memetakan dan menggali potensi optimal di setiap wilayah.
“Membangun kawasan transmigrasi memerlukan dan menggunakan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Kementerian Transmigrasi perlu bersinergi dengan pihak lain dalam merealisasikan program-program unggulannya,” ujar Viva Yoga kepada media di Kalibata, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Perluasan Kemitraan Strategis dan Fokus Implementatif
Program TEP 2026 merupakan keberlanjutan dari kesuksesan TEP 2025. Jika pada tahun lalu fokus gerakan tertuju pada riset potensi sumber daya alam dan ekonomi di 154 kawasan transmigrasi bersama UI, IPB, ITB, Unpad, UGM, Undip, dan ITS, maka pada tahun 2026 ini skala kemitraan diperluas. Kementerian Transmigrasi turut merangkul Universitas Airlangga (Unair), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Hasanuddin (Unhas).
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang bertumpu pada pemetaan, TEP 2026 akan bergerak ke arah yang lebih konkret. Hasil riset dan rekomendasi yang telah dihimpun kini siap ditransformasikan menjadi program kerja nyata.
“Pada TEP 2026, kita lebih fokus pada aspek implementatif. Penerapan langsung dari berbagai riset yang sudah ada diharapkan mampu menciptakan stimulus pertumbuhan ekonomi yang inklusif di kawasan transmigrasi,” urai Viva Yoga.
Animo Tinggi Talenta Muda Unggulan
Program ini menarik minat yang sangat masif dari generasi muda. Tercatat, sebanyak 10.359 kandidat dari jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3) mendaftarkan diri. Padahal, kuota yang disediakan hanya untuk 1.476 personel. Viva Yoga menyebutkan bahwa para pendaftar tidak hanya datang dari PTN mitra, melainkan juga dari berbagai perguruan tinggi lain di dalam dan luar negeri.
Dari total pelamar yang lolos seleksi ketat, sebanyak 246 orang ditetapkan sebagai Ketua Tim dan 1.230 orang sebagai Anggota Tim. Seluruh personel terpilih akan diterjunkan ke:
- 41 Kawasan Transmigrasi Prioritas Nasional
- 10 Kawasan Transmigrasi di Pulau Papua
- 2 Kawasan Transmigrasi Prioritas Kementerian
Menjadi Agen Perubahan di Beranda Depan Nusantara
Wamen Transmigrasi tidak menampik bahwa para peserta TEP 2026 akan menghadapi tantangan geografis dan infrastruktur yang nyata di lapangan, yang sangat berbeda dengan dinamika perkotaan. Kendati demikian, tantangan tersebut justru menjadi ruang aktualisasi diri bagi para talenta muda.
“Mereka yang mempunyai jiwa yang kuat, patriot, dan nasionalisme tinggi yang akan menjadi transformer atau pembawa perubahan di kawasan transmigrasi,” tegas mantan Anggota Komisi IV DPR RI tersebut.
Melalui program ini, ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para akademisi didorong untuk berkolaborasi langsung dengan para transmigran, masyarakat lokal, serta pemerintah daerah setempat. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan trickle down effect bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Ini adalah wujud nyata Kementerian Transmigrasi dalam membangun bangsa dari pinggiran, dari bawah, dan dari desa. Dari lahan-lahan yang semula belum tergarap optimal, kita targetkan lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tersebar di seluruh Indonesia,” pungkas pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur tersebut.







