Korupsinikus: “Kita Benci Koruptor, Tapi Masih Bangga Cari ‘Orang Dalam’.”

Avatar photo

Esai Kontemplatif — Harri Safiari

Porosmedia.com – Kita sering marah besar pada koruptor.

Mengutuk di media sosial.
Mengeluh di warung kopi.
Menggerutu di depan televisi.

Kita bilang negeri ini rusak karena korupsi.

Tetapi anehnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita masih diam-diam bangga kalau punya “orang dalam”.

Kalau ada urusan dipercepat karena kenal pejabat, kita senang.
Kalau bisa lolos antrean karena punya koneksi, kita bersyukur.
Kalau ada keluarga yang “narik ke dalam”, kita menyebutnya rezeki anak saleh.

Dan tanpa sadar, kita mulai akrab dengan bibit dari masalah yang sama.

Korupsinikus pernah tertawa getir:

“Kita benci koruptor besar…
tapi masih tepuk tangan pada ketidakadilan kecil yang menguntungkan diri sendiri dan kerabat.”

Kalimat itu terasa menampar karena terlalu dekat dengan kenyataan.

Masalah terbesar korupsi kadang bukan cuma uang negara yang dicuri.

Tetapi budaya yang pelan-pelan membuat ketidakadilan terasa normal.

Di negeri ini, koneksi sering lebih sakti daripada kemampuan.

Orang yang punya akses bisa masuk lebih dulu.
Yang punya kenalan bisa dipermudah.
Yang punya “jalur belakang” sering tidak perlu mengikuti aturan yang sama.

Baca juga:  Menanamkan Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila Pemkot Cimahi Gelar Sosialisasi Ketaatan Hukum

Sementara mereka yang benar-benar berjuang dari bawah hanya bisa melihat dari kejauhan dengan perasaan nelangsa.

Ironisnya, praktik seperti ini sering tidak lagi dianggap salah.

Malah dianggap pintar.

“Namanya juga usaha.”

“Kalau ada jalan gampang, ngapain dipersulit?”

“Yang penting hasil.”

Dan mungkin di situlah masalah mulai tumbuh:
ketika moral kalah oleh kenyamanan.

Korupsinikus menyebut budaya “orang dalam” sebagai bentuk korupsi yang paling sopan.

Tidak selalu memakai amplop.
Tidak selalu melibatkan miliaran rupiah.

Tetapi tetap merusak rasa adil.

Karena setiap privilese yang diberikan kepada koneksi, sering kali diam-diam mengambil hak orang lain yang lebih layak.

Satu orang dipercepat.
Satu orang disingkirkan.

Satu orang dimudahkan.
Yang lain dipaksa berputar lebih lama.

Dan semua itu terjadi sambil tersenyum, sambil bercanda, sambil berkata:

“Santai aja, kan cuma bantu sedikit.”

Padahal banyak kerusakan besar memang lahir dari sesuatu yang awalnya dianggap “sedikit”.

Yang membuat situasi semakin rumit, budaya ini diwariskan seperti hal biasa.

Anak muda belajar bahwa:
punya relasi lebih penting daripada kompetensi.

Baca juga:  Revitalisasi Situ Ciburuy, KDM Janjikan Hunian Sementara untuk Warga Terdampak

Pegawai baru belajar bahwa:
loyalitas kadang lebih dihargai daripada integritas.

Masyarakat belajar bahwa:
aturan bisa lentur kalau kenal orang yang tepat.

Lalu kita heran kenapa korupsi sulit mati.

Padahal akarnya tumbuh diam-diam dalam kebiasaan sehari-hari.

Korupsinikus suatu kali duduk di sebuah kantor pelayanan yang penuh antrean panjang.

Di sana ia melihat seseorang baru datang lima menit, lalu langsung masuk lewat pintu samping karena “kenal orang dalam”.

Orang-orang lain hanya saling pandang.

Sebagian kesal.
Sebagian iri.
Sebagian malah berbisik:

“Enak ya punya orang dalam…”

Dan mungkin kalimat itu lebih berbahaya daripada yang kita kira.

Karena saat ketidakadilan mulai membuat iri, bukan marah,
itu tanda masyarakat mulai terbiasa dengan penyimpangan.

Kita sering berpikir korupsi hanya soal pejabat dan uang besar.

Padahal korupsi juga hidup dalam mentalitas kecil yang terus dibenarkan.

Mentalitas:
asal urusan gue beres.

Mentalitas:
aturan penting selama tidak menghambat kepentingan sendiri.

Mentalitas:
kalau bisa lewat belakang, kenapa harus antre?

Dan dari situlah perlahan rasa adil sebuah bangsa mulai terkikis.

Baca juga:  Pemanfaatan BKT Dinilai Bisa Jadi Ruang Interaksi Warga dan Atasi Kesenjangan Antar Anak Muda

Mungkin itu sebabnya memberantas korupsi tidak cukup hanya menangkap pelaku.

Kita juga harus berani melawan kebiasaan-kebiasaan kecil yang diam-diam memelihara budaya curang.

Karena bangsa yang sehat bukan bangsa yang penuh slogan moral.

Tetapi bangsa yang tetap menghargai keadilan… bahkan ketika ia sedang tidak diuntungkan.

Korupsinikus pernah berkata sambil tersenyum tipis:

“Kita ini lucu.
Mau negeri bersih,
tapi masih bangga punya jalur belakang.”

Lalu ia diam.

Barangkali karena sadar, kalimat itu bukan cuma kritik.

Tetapi cermin.

Dan tidak semua orang kuat melihat wajahnya sendiri di dalam cermin.

(Selesai)