Korupsinikus: Kenapa Orang Baik Kadang Ikut Korup?

Avatar photo

Esai Kontemplatif — Harri Safiari

 

Porosmedia.com – Kita sering membayangkan koruptor itu orang jahat sejak awal.
Licik. Rakus. Tidak punya hati.

Padahal kenyataannya sering jauh lebih rumit.

Banyak orang yang hari ini terlihat tenggelam dalam korupsi, menurut Korupsinikus, dulunya juga pernah menjadi orang biasa. Pernah idealis. Pernah malu mengambil yang bukan haknya. Pernah percaya bahwa kejujuran itu penting.

Lalu apa yang berubah?

Jawabannya sering kali bukan karena mereka tiba-tiba berubah menjadi monster.
Tetapi karena mereka terlalu lama hidup di lingkungan yang pelan-pelan membuat hati lelah melawan.

Korupsinikus menjelaskan, sejatinya korupsi jarang dimulai dari koper berisi miliaran rupiah.
Ia lebih sering lahir dari kalimat-kalimat kecil yang tampak sepele:

“Sekali ini aja. Kan nggak ada yang tahu.”

Lalu besoknya:

“Yang lain juga begitu. Masa aku gini-gini aja?”

Lalu berikutnya:

“Kalau gue nggak ikut, gue yang rugi. Gue juga harus untung dong.”

Dan tanpa disadari, batas antara benar dan salah mulai kabur.

Orang baik bisa ikut korup bukan selalu karena rakus. Kadang justru karena takut tersingkir.

Di banyak tempat, orang jujur malah terlihat merepotkan.
Yang menolak “main” dianggap tidak solid.
Yang terlalu lurus dianggap menghambat.
Yang tidak mau titip-menitip dicap sok suci.

Baca juga:  Jika Kurt Cobain Tidak Bunuh Diri, Korupsinikus: Mengganggu Sistem!

Lama-lama muncul tekanan yang tidak tertulis: ikut arus, atau jadi korban.

Maka kompromi-kompromi kecil mulai terjadi.

Awalnya mungkin hanya memalsukan angka sedikit.
Menggeser anggaran sedikit.
Menerima “ucapan terima kasih”.
Memakai fasilitas kantor untuk urusan pribadi.

Hal-hal yang terlihat receh dan dianggap lumrah.

Masalahnya, hati manusia itu lentur.

Apa yang pertama kali terasa salah, jika dilakukan terus-menerus, lama-lama akan terasa biasa. Bahkan mungkin mulai terasa menguntungkan.

Dan di situlah bahaya sebenarnya lahir:
bukan ketika seseorang melakukan dosa besar,
melainkan ketika ia berhenti merasa bersalah.

Yang lebih mengerikan di Negeri Konoha Raya, korupsi sering datang dengan bungkus alasan yang terdengar mulia dan masuk akal.

“Buat keluarga.”
“Gaji nggak cukup.”
“Demi balik modal.”
“Semua orang juga ambil.”

Manusia punya kemampuan luar biasa untuk membungkus kepentingan pribadi dengan bahasa yang terdengar bijak.

Korupsinikus kerap mencontohkan:

Kita tidak lagi mencuri.
Kita hanya “menyesuaikan keadaan.”

Kita tidak lagi korup.
Kita hanya “ikut sistem.”

Dan perlahan, nurani mulai pandai bernegosiasi.

Baca juga:  Surat Terbuka untuk Gubernur Dedi Mulyadi: Ketika Mandat Rakyat Tak Bisa Dikaburkan oleh Kamera

Ada satu ironi yang jarang dibicarakan:

Kadang sistem justru menghukum orang yang tetap jujur.

Yang menolak permainan bisa disingkirkan.
Yang bersih bisa dianggap ancaman.
Yang tidak mau kompromi bisa kehilangan kesempatan.

Sementara mereka yang pandai menyesuaikan diri justru melaju lebih cepat.

Di titik itu, sebagian orang mulai lelah.

Bukan karena mereka tidak tahu mana yang benar,
tetapi karena mempertahankan kebenaran terasa terlalu mahal.

Korupsinikus pernah berkata dengan nada getir:

“Udah, biarin aja. Memang hoki-nya di situ. Semoga aja nanti hidupnya nggak jungkir-balik.”

Kalimat yang terdengar seperti candaan, tetapi sesungguhnya menyimpan kelelahan sosial yang panjang.

Lazimnya, semua kerusakan besar selalu dimulai dari pembenaran kecil.

Negara tidak hancur hanya karena pencuri besar di atas sana.
Ia juga retak karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dimaafkan:

titip absen, mark up receh, uang pelicin, koneksi orang dalam, manipulasi kecil yang dianggap wajar.

Korupsi menjadi kuat bukan karena semua orang jahat,
tetapi karena terlalu banyak orang baik memilih diam… atau akhirnya ikut pelan-pelan.

Mungkin itulah sebabnya melawan korupsi sebenarnya bukan cuma soal menangkap orang.

Baca juga:  Naikkan Gaji Guru di Awal Masa Pemerintahan, PSI Apresiasi Prabowo Subianto

Tetapi soal menjaga hati agar tidak terbiasa membenarkan yang salah.

Karena manusia tidak berubah menjadi rusak dalam satu malam.

Ia rusak sedikit demi sedikit.

Lewat kompromi.
Lewat pembiasaan.
Lewat kalimat:

“Cuma kali ini.”
“Lagian dikit kok.”

Dan mungkin korupsi paling berbahaya bukan uang yang dicuri.

Melainkan saat hati kehilangan kemampuan untuk merasa bersalah.

Sebuah kalimat yang, menurut Korupsinikus, pernah terucap lirih ketika ia berjalan menuju toilet umum di sela persidangan perkara tipikor:

“Yang paling mahal dari korupsi itu bukan uang negara yang hilang… tapi rasa malu yang ikut mati.”

(Selesai)