Nomor Antrean BPJS Panjang Banget, Korupsinikus: Pakai Jasa Calo, Bolehkah?

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

Porosmedia.com – Saking panjangnya antrean peserta BPJS di sebuah rumah sakit, para pengantre tentu saja mulai kehilangan kesabaran.

Ada yang datang sejak pagi. Bahkan ketika matahari baru naik sepenggalah, nomor antrean sudah seperti deretan angka dalam daftar tunggu kehidupan: panjang, berliku dan entah kapan tiba gilirannya.

Ironisnya, mereka bukan hendak berekreasi.

Mereka sedang sakit.

Namun untuk bertemu dokter yang dituju, sebagian pasien justru harus menunggu hingga sore hari.

Pagi datang membawa harapan.

Siang membawa lapar.

Sore baru membawa kesempatan bertemu dokter.

“Makanya, pakai jasa calo saja,” kata Korupsinikus ketika mengetahui salah seorang kerabatnya mengalami peristiwa tak mengenakkan itu.

Kerabatnya langsung melotot.

“Jangan ngajarin yang aneh-aneh!”

Korupsinikus tersenyum.

“Aneh dari mananya? Saya cuma sedang menawarkan solusi ala Negeri Konoha Raya.”

“Solusi kok calo?”

“Ya karena antreannya panjang!”

“Kan calo itu tidak benar.”

“Betul.”

“Terus kenapa disarankan?”

“Karena saya sedang menguji logika.”

Korupsinikus kemudian duduk santai di bangku ruang tunggu.

Baca juga:  Kepemimpinan Sonny Salimi di PDAM Tirtawening—Antara Inovasi, Krisis, dan Transformasi Layanan Air Bersih Bandung

Menurutnya, ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput dibicarakan.

Mengapa orang mau membayar calo?

Jawabannya sebenarnya sederhana pula.

Karena ada orang yang tidak tahan menunggu.

Atau lebih tepatnya, tidak sanggup terus-menerus dipaksa menunggu oleh sebuah sistem yang seharusnya melayani.

Di situlah calo menemukan ladang subur.

Antrean panjang adalah tanahnya.

Ketidakpastian adalah pupuknya.

Kebutuhan orang sakit adalah airnya.

Dan ketidakefisienan sistem adalah mataharinya.

Maka tumbuhlah calo.

Subur.

Bahkan terkadang lebih subur daripada tanaman yang sengaja ditanam.

“Jadi calo itu dibenarkan?” tanya kerabatnya.

“Jangan buru-buru begitu,” jawab Korupsinikus. “Calo tetap calo. Kalau mengambil keuntungan dengan cara yang merugikan atau melanggar aturan, ya salah.”

“Lalu?”

“Yang perlu kita tanyakan justru: mengapa praktik seperti itu bisa terus menemukan konsumennya?”

Nah!

Pertanyaan Korupsinikus mulai mengarah ke tempat yang agak berbahaya.

Sebab kalau setiap orang memperoleh pelayanan secara cepat, transparan dan adil, siapa yang membutuhkan calo?

Tidak banyak.

Calo pada dasarnya hidup dari selisih antara pelayanan yang seharusnya cepat dengan kenyataan yang terlampau lambat.

Baca juga:  Sengkarut Parkir RSHS: Jawaban 'Sistem AI' Humas Dinilai Tak Sebanding dengan Kerugian Publik

Semakin panjang antrean, semakin panjang pula napas bisnis percaloan.

Semakin tidak jelas kapan pasien dilayani, semakin mahal harga sebuah “jalan pintas”.

Maka Korupsinikus pun menyimpulkan dengan gaya filsuf jalanannya:

“Kalau antrean dibuat panjang, jangan kaget kalau jalan pintas kemudian diperjualbelikan.”

Waduh!

Kalimat itu memang terdengar sederhana.

Tetapi kalau direnungkan, cukup membuat dahi berkerut.

Sebab pasien BPJS bukan sedang membeli tiket konser.

Mereka sedang berobat.

Ada orang tua.

Ada anak-anak.

Ada ibu hamil.

Ada pasien yang menahan sakit.

Ada pula orang yang mungkin harus kembali bekerja setelah selesai berobat.

Bagi mereka, waktu bukan sekadar angka di jam dinding.

Waktu adalah ongkos.

Waktu adalah tenaga.

Waktu adalah uang.

Bahkan bagi sebagian orang, waktu menunggu dalam kondisi sakit bisa terasa seperti penderitaan tambahan.

Lalu muncullah pertanyaan yang lebih nakal:

Kalau antrean resmi begitu panjang, sementara antrean “tidak resmi” bisa dipercepat dengan uang, sebenarnya siapa yang sedang dilayani oleh sistem?

Pasien?

Atau mereka yang mampu membeli jalan pintas?

Baca juga:  Puan: Perbaiki Layanan BPJS Kesehatan Sebelum Jadi Syarat Pelayanan Publik

Korupsinikus terkekeh.

“Jangan salahkan pasien kalau mereka tergoda calo.”

“Kenapa?”

“Karena manusia itu pada dasarnya ingin hidupnya sederhana.”

“Terus?”

“Kalau pintu depan terlalu lama dibuka, manusia akan mencari pintu samping.”

“Dan kalau pintu samping ada yang menjaga?”

“Ya bayar.”

“Kalau tidak punya uang?”

Korupsinikus terdiam.

Untuk pertama kalinya filsuf jalanan itu tidak segera menjawab.

Sebab di situlah persoalannya menjadi jauh lebih serius.

Bagaimana dengan rakyat kecil yang tidak mampu membayar calo?