Esai Kontemplatif : Harri Safiari
Porosmedia.com – Konon, ada negara yang sangat serius memberantas korupsi.
Saking seriusnya, hampir setiap hari isu itu dibahas.
Seminar, diskusi, pelatihan, kampanye, slogan, survei—semuanya disertai anggaran.
Singkatnya, korupsi jadi musuh bersama.
Terlalu akrab.
Hingga Korupsinikus berkata:
“Jangan-jangan kita bukan sedang memberantas korupsi.”
Seorang warga bertanya, “Lalu apa?”
Korupsinikus menyeruput kopi.
“Memelihara isu korupsi agar pemberantasannya tetap punya anggaran.”
Warga terdiam.
“Tenang. Itu masih hipotesis.”
—
Di Negeri Konoha Raya, hipotesis lebih cepat dari bukti.
Maka dibentuk lembaga dengan nama panjang—anggaran sudah cair sebelum dibaca.
Tugasnya: memberantas korupsi hingga ke akar.
Korupsinikus bertanya:
“Akar yang mana?”
Sunyi.
“Kalau dicabut, pohonnya mati?”
Sunyi lagi.
“Kalau pohon mati, siapa kelola anggaran?”
Semua kembali sibuk.
Korupsinikus tersenyum.
—
Lalu lahir gagasan:
korupsi diberantas secara terstruktur, sistematis, masif, terukur, berkelanjutan, transparan, akuntabel, partisipatif, kolaboratif, dan inovatif.
Korupsinikus mengangguk.
“Panjang.”
“Lalu?”
“Publik lelah.”
“Selanjutnya?”
“Berhenti bertanya.”
“Dan?”
“Pekerjaan lebih tenang.”
—
Perang dimulai.
Bukan dengan senjata, tapi proposal.
Rapat melawan rapat.
Semua butuh anggaran, konsultan, laporan, konsumsi.
Korupsinikus tertawa.
“HAHAHA!”
“Apa lucu?”
“Tidak ada. Kita sedang memberantas korupsi.”
—
Ia menemukan teori:
Teori Korupsi Berkelanjutan
“Jika korupsi hilang, program berhenti.”
“Jika program berhenti, anggaran berhenti.”
“Jika anggaran berhenti, orang kehilangan kerja.”
Warga terdiam.
—
“Jadi dipertahankan?”
“Bukan. Dikelola.”
Korupsinikus menggambar bagan:
KORUPSI → PEMBERANTASAN → PENGAWASAN → EVALUASI → EVALUASI ATAS EVALUASI → KESADARAN → KESADARAN ATAS KESADARAN
“Ini apa?”
“Ekosistem.”
“Sehat?”
“Yang penting jalan.”
—
Jika korupsi menurun?
Rapat darurat digelar.
Hasilnya: rapat lanjutan, kajian, survei, tim baru, lalu rapat lagi.
Korupsinikus tertidur.
Bangun, rapat masih ada.
“Kesimpulan?”
“Perlu rapat tambahan.”
“Bagus. Berkelanjutan.”
—
Pertanyaan muncul:
Bagaimana jika masalahnya sistem itu sendiri?
Sunyi.
“Rumit,” kata Korupsinikus.
—
Konferensi digelar:
“Masa Depan Indonesia Tanpa Korupsi.”
Tepuk tangan.
Korupsinikus diam.
Ia menunjuk tumpukan dokumen.
“Tidak ada yang membahas masa depan tanpa ketergantungan pada isu korupsi.”
—
Malamnya ia pulang.
Spanduk di rumah:
«ANDA TERPILIH SEBAGAI KETUA PANITIA PEMBERANTASAN KORUPSI»
“Berbahaya,” katanya.
“Kenapa?”
“Sekarang saya harus ikut memberantas korupsi.”
Ia berbisik:
“Semoga korupsi tidak lebih dulu memberantas saya.”
—
Di kantor lain, komputer menyala:
PROGRAM NASIONAL PEMBERANTASAN KORUPSI 2027
Anggaran: dalam proses.
Korupsinikus tersenyum.
“Selama korupsi ada…”
“pemberantasannya selalu punya masa depan.”
Ia menghilang.
Meninggalkan satu pertanyaan:
Jangan-jangan yang paling takut korupsi hilang bukan pelakunya, tapi yang hidup dari perangnya?
Dari jauh ia menjawab:
“So pasti…”







