Korupsinikus: ”Korupsi yang Dianggap Wajar”

Avatar photo

Esai Kontemplatif — Harri Safiari

Porosmedia.com – Kita sering membayangkan korupsi itu sesuatu wah dan amat besar.
Gedung megah.
Proyek triliunan.
Koper penuh uang.
Pejabat berdasi amat perlente, lalu masuk ruang sidang.
Padahal korupsi paling berbahaya kadang justru yang terlihat kecil… lalu dianggap biasa.
Korupsinikus pernah berkata sambil nyengir tipis dengan sedikit rasa asin campur asam:
“Negeri ini rusak bukan cuma karena maling besar.
Tapi karena terlalu banyak dosa kecil yang diberi izin hidup.”
Kalimat itu terdengar berlebihan.
Sampai kita sadar, betapa banyak hal curang yang sudah terlalu akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Titip absen, misalnya.
Kelihatannya sepele.
“Bro, absenin dulu ya. Gue masih di jalan.”
Semua tertawa.
Semua menganggap itu normal.
Padahal inti masalahnya sederhana:
kita sedang belajar menikmati hasil… tanpa benar-benar hadir dan berkeringat.
Kecil memang.
Tetapi dari kebiasaan kecil seperti itulah mental mengakali aturan mulai tumbuh.

Lalu mark up uang kas.
Awalnya mungkin cuma lima ribu.
Sepuluh ribu.
“Buat capek panitia.”
Tidak ada yang merasa mencuri.
Karena nominalnya kecil.
Karena semua juga melakukan.
Dan kalimat paling sakti akhirnya keluar:
“Ah… cuma segitu.”
Korupsinikus bilang:
“Korupsi itu licin.
Ia jarang datang sambil berkata ‘ayo jadi penjahat’.
Ia datang sambil berkata: ‘tenang aja, kecil ini kok.’”

Baca juga:  Masyarakat Bekasi Gelar Aksi Damai Dukung Revisi UU TNI dan Pemberantasan Korupsi

Ada juga budaya “uang rokok”.
Istilah yang terdengar ramah dan lumrah.
Padahal sering menjadi pintu masuk pembiasaan suap kecil-kecilan.
Orang memberi karena tidak enak.
Orang menerima karena merasa wajar.
Lalu lama-lama batas antara bantuan, penghargaan, dan sogokan mulai kabur.
Dan masyarakat mulai hidup dalam budaya:
semua urusan bisa dipercepat asal ada “pelicin”.

Belum lagi nyolong waktu kerja.
Datang telat.
Pulang cepat.
Jam kerja habis buat urusan pribadi.
Ngopi dua jam, kerja dua puluh menit.
Lucunya, kalau ada yang benar-benar disiplin malah dianggap terlalu serius.
Korupsinikus pernah nyeletuk:
“Yang paling sering dicuri di kantor kadang bukan uang.
Tapi tanggung jawab.”
Dan lagi-lagi, semua terasa biasa karena dilakukan ramai-ramai, dosanya hampir tak terasa.

Lalu fasilitas kantor dipakai buat kepentingan pribadi.
Mobil dinas buat liburan.
Printer kantor buat usaha sampingan.
ATK kantor dibawa pulang sedikit demi sedikit.
Dan selalu ada pembenaran:
“Kan cuma pakai sedikit.”
Masalahnya, hampir semua korupsi besar juga lahir dari logika yang sama:
merasa berhak mengambil sedikit demi sedikit.

Baca juga:  Korupsinikus & Kamera yang Mengguncang ASEAN - SEAblings vs KNetz

Yang paling berbahaya dari semua ini bukan nilai kerugiannya.
Tetapi bagaimana kebiasaan kecil itu membentuk cara berpikir.
Bahwa aturan bisa dinegosiasikan.
Bahwa kejujuran bisa disesuaikan keadaan.
Bahwa kesalahan tetap terasa aman selama dilakukan bersama-sama.
Dan perlahan, hati mulai kehilangan sensitivitasnya.

Korupsinikus percaya, sebuah bangsa tidak tiba-tiba rusak dalam semalam.
Kerusakan itu tumbuh pelan-pelan.
Dari pembiaran.
Dari kompromi kecil.
Dari kebiasaan berkata:
“Ah… cuma segitu.”
Padahal mungkin justru kalimat itulah yang selama ini diam-diam membesarkan korupsi.

Mungkin karena itu, melawan korupsi sebenarnya bukan selalu dimulai dari pidato besar atau operasi tangkap tangan.
Kadang ia dimulai dari hal sederhana:
tidak titip absen,
tidak manipulasi uang kas,
tidak menyalahgunakan fasilitas,
dan berani merasa malu ketika melakukan yang salah… sekecil apa pun itu.
Karena bangsa yang sehat bukan bangsa yang tidak punya godaan.
Tetapi bangsa yang masih mampu berkata:
“Yang kecil kalau dibiasakan… nanti jadi besar.”
Dan mungkin kehancuran paling sunyi terjadi saat manusia tidak lagi merasa bersalah… hanya karena dosanya dianggap receh.
(Selesai)