Oleh : Harri Safiari
Porosmedia.com – Sore itu Korupsinikus duduk di teras rumahnya yang masih beratap seng di Negeri Konoha Raya (NKR). Di tangannya secangkir kopi pahit, di depannya layar ponsel yang tak kalah pahit. Timeline sedang panas: SEAblings vs KNetz!
“Hebat betul,” gumamnya. “Kamera bisa mengguncang warga ASEAN.”
Awalnya memang cuma kamera. Seorang fansite master asal Korea Selatan membawa kamera profesional berlensa panjang ke konser DAY6 di Axiata Arena, Kuala Lumpur (31/1/2026). Padahal aturan melarangnya. Penonton protes. Video viral. Lalu seperti percikan kecil yang menyentuh bensin, komentar berantai berhamburan. Semakin lama kain liar.
Beberapa akun yang diasosiasikan sebagai Korean Netizens—KNetz—membela. Di sela pembelaan, muncul kalimat bernada stereotip tentang Asia Tenggara. Seketika, solidaritas digital bangkit. Tagar #SEAblings—Southeast Asia siblings—menggema. Netizen Indonesia, Malaysia, Filipina, Tailand, Vietnam, bersatu.
Dari lensa kamera, konflik membesar menjadi lensa identitas.
Korupsinikus tersenyum tipis. “Amplop saja bisa membatu-kan saya berabad-abad. Ini kamera, efeknya lintas negara.”
Ruang Publik yang Tersandera Emosi
Filsuf Jürgen Habermas pernah membayangkan ruang publik sebagai arena diskusi rasional. Warga bertukar argumen, saling menguji klaim, lalu mencapai pemahaman bersama. Tapi Habermas tidak hidup di zaman quote tweet dan trending topic. Belum kesampaian, memang.
Di ruang publik digital, argumen yang paling bernas belum tentu paling terlihat. Yang paling emosional justru sering paling viral. Platform bekerja dengan logika keterlibatan. Marah, tersinggung, menyindir—semuanya menaikkan trafik.
Konflik SEAblings vs KNetz menunjukkan bagaimana diskusi teknis tentang aturan konser tergeser oleh ledakan sentimen kolektif. Rasionalitas komunikatif kalah cepat oleh rasionalitas algoritmik.
Korupsinikus yang biasa hanya datar, kini terkekeh. “Dulu orang debat pakai data. Sekarang pakai delay 0,3 detik dan koneksi stabil.”
Ia tahu betul bagaimana sistem bekerja. Dalam dunia yang pernah ia jalani—dunia amplop dan angka—yang penting bukan benar atau salah, melainkan siapa yang mengatur arus. Di media sosial, arus itu bernama algoritma.
Komunitas Terbayang dan Nasionalisme Seketika
Benedict Anderson menyebut bangsa sebagai imagined community—komunitas terbayang. Kita merasa satu dengan jutaan orang yang tak pernah kita temui. SEAblings adalah contoh mutakhirnya.
Asia Tenggara yang kerap ribut soal sepak bola atau klaim budaya, mendadak kompak. Solidaritas regional muncul bukan karena kesepakatan diplomatik, melainkan karena rasa tersinggung bersama.
Identitas sering kali menguat ketika ada “lawan”. Tanpa “mereka”, rasa “kita” tidak seintens itu.
Namun di situlah problemnya. Istilah KNetz dengan mudah dipakai sebagai label kolektif. Satu komentar anonim dianggap cermin satu bangsa. Padahal, sebagaimana dilaporkan, tak sedikit netizen Korea yang mengecam komentar ofensif tersebut.
Korupsinikus menghela napas. “Generalisasi itu seperti korupsi kecil. Kelihatannya sepele, tapi lama-lama jadi seperti budaya.”
Ia tahu bagaimana hal kecil yang dibiarkan bisa berubah sistemik.
Masyarakat Jaringan dan Bisnis Kemarahan
Manuel Castells menjelaskan bahwa kita hidup dalam masyarakat jaringan—di mana kekuasaan dan identitas beredar lewat arus informasi. Emosi, terutama kemarahan, menjadi energi mobilisasi.
Konflik SEAblings vs KNetz bergerak dengan logika itu. Meme bermunculan. Sindiran kreatif berseliweran. Timeline menjadi arena pertunjukan identitas.
Meme adalah pamflet era digital—ringkas, satir, mudah dibagikan. Ia bisa menjadi alat kritik, tetapi juga alat pelestarian stereotip. Yang mengkhawatirkan bukan hanya isinya, melainkan kecepatannya – bisa tiba-tiba menghujam keras!
Di balik semua itu, ada ekonomi perhatian. Semakin panas debat, semakin lama orang bertahan di platform. Semakin lama bertahan, semakin tinggi nilainya.Normanya, jadi terbolak-balik coy!
“Kemarahan sekarang bisa dimonetisasi,” kata Korupsinikus pelan. “Dulu amplop yang berisi. Sekarang engagement. Seberapa banyak dan kerap terlibat”
Dari Kamera ke Harga Diri
Yang mula-mula dipersoalkan adalah pelanggaran aturan konser. Yang belakangan diperdebatkan adalah ekonomi kawasan, kualitas budaya, hingga martabat bangsa.
Lompatan ini terasa dramatis, tetapi justru lazim di ruang digital. Personalisasi berubah menjadi kolektivisasi. Individu menjadi simbol. Simbol menjadi identitas nasional.
Rasisme digital tak selalu hadir sebagai makian kasar. Kadang berupa candaan tentang logat, penampilan, atau tingkat ekonomi. Karena terasa ringan, ia mudah diterima sebagai “sekadar bercanda. Tadinya memancing jenaka, yang didapat justru murka.”
Padahal dampaknya nyata. Ia mengendap, mengeras, lalu membentuk syak wasangka.
Korupsinikus menatap layar ponselnya lama. “Lucu ya,” katanya, “kita cepat sekali marah karena stereotip. Tapi lambat marah pada ketidakadilan yang nyata, banyak terjadi di sekitar kita.”
Solidaritas yang Selektif
Yang paling satir dari konflik ini adalah ironi solidaritas. Warga Asia Tenggara bisa bersatu begitu cepat ketika merasa direndahkan. Namun untuk isu-isu yang lebih substansial—ketimpangan sosial, krisis lingkungan, korupsi struktural—energi kolektif sering tak sebesar itu.
Kita lebih mudah kompak karena harga diri daripada karena tanggung jawab bersama.
Di teras rumahnya, Korupsinikus menyeruput kopi yang tinggal ampas. “Api digital itu aneh,” ujarnya. “Tak butuh kayu. Cukup ego dan kuota.”
Pertanyaannya sederhana, tapi tak mudah dijawab: apakah kita benar-benar sedang membela martabat, atau hanya menikmati sensasi menjadi bagian dari keriuhan?
Konflik SEAblings vs KNetz mungkin akan mereda. Trending topic akan berganti. Meme akan dilupakan. Tapi pola reaksinya bisa terulang. Ini yang kita khawatirkan!
Selama ruang publik kita dikuasai logika emosi dan algoritma, isu kecil akan selalu berpotensi menjadi perang identitas.
Korupsinikus berdiri, mematikan layar.
“Kalau dulu saya membatu karena amplop,” katanya setengah bercanda, “sekarang orang bisa membatu karena komentar.”
Dan di zaman ini, membatu bukan berarti diam.
Ia bisa berarti kehilangan kejernihan,”ya buteklah kita!” tutupnya. (Selesai)







