Dari Dialektika Menuju Akad: Sebuah Manifesto Perjalanan Kita

Avatar photo

Porosmedia.com – Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi altar di mana kisah ini bermula. Bukan tentang riuh rendah perdebatan forum atau kerasnya dinamika organisasi, melainkan tentang senyapnya sebuah kisah cinta yang perlahan meniti jalan menuju panggung pernikahan. Di sana, di antara diskusi dan pengabdian, divisi Sosial Politik menjadi saksi sakral bagaimana semesta mempertautkan kita.

Dia hadir saat divisi kami sedang kekurangan jiwa, sebuah celah yang justru membawanya tepat ke hadapanku. Ia memang bukan sosok Jane Addams, sosiolog besar peraih Nobel, bukan pula Hannah Arendt yang menjabarkan teori kebebasan dengan megah. Ia hanyalah perempuan sederhana dengan ribuan kekurangan di matanya. Namun, justru melalui celah-celah kekurangan itulah, hatiku menemukan tempat paling nyaman untuk terjatuh dan menetap.

Seiring langkah kami di koridor Sospol maupun di luar rutinitas itu, aku menemukan jawaban atas apa yang selama ini kusemogakan dari sosok pendamping hidup. Aku hanya ingin merasa tenang, dan ketenangan itu ada pada teduh tatapnya. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, dan bersamanya, aku menemukan rumah tanpa perlu sandiwara. Aku hanya ingin dicintai bersama duniaku yang mungkin rumit bagi orang lain, dan ia merangkul semuanya dengan utuh.

Baca juga:  Pelantikan Kilat Kades Sukarame Pacet Tuai Tanda Tanya, Realisasi Dana Desa 1,2 Miliar Jadi Sorotan

Hingga pada sebuah hari yang tak akan terlupa, aku menitipkan sebuah janji kecil kepadanya: “Aku titip cincin yang sering aku pakai ini, dan akan aku ambil kembali ketika aku bisa menukarnya dengan mahar.” Hari ini, janji itu bukan lagi sekadar titipan. Aku datang untuk mengambil kembali cincin itu, menjemputnya dengan ikatan akad yang paling suci di hadapan Sang Maha Pencipta.

 

Dari Porosmedia buat Triani Ardiani & M. Fiqi Faturrochman