Esai Kontemplatif — Harri Safiari
Porosmedia.com – Di Negeri Konoha Raya (NKR), kritik dari luar negeri sering diterima seperti tamu tak diundang: dicurigai sebelum dipersilakan duduk.
Padahal tidak semua kritik lahir dari niat buruk. Ada yang datang justru karena dunia sedang memperhatikan kita.
Ketika The Economist menyoroti pemerintahan Prabowo Subianto dan pandangan ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa, sebagian orang buru-buru marah. Seolah kritik otomatis berarti penghinaan.
Padahal majalah itu bukan media kemarin sore. Ia lahir di Inggris sejak September 1843, tumbuh menjadi salah satu rujukan ekonomi dan politik paling berpengaruh di dunia. Tentu saja mereka bisa keliru. Tetapi meremehkan begitu saja juga bukan sikap bijak.
Korupsinikus yang hidup dengan segala kontroversi kelebihan dan keanehannya, justru melihat ada gejala lain yang lebih menarik: kita sering terlalu sibuk membela diri sampai lupa mendengar isi kritiknya.
Padahal bangsa yang percaya diri tidak perlu panik menghadapi penilaian. Kritik tidak selalu harus dibalas dengan emosi. Kadang cukup dijawab dengan kerja yang baik, data yang jernih, dan hasil yang nyata.
Rakyat pun sebenarnya sederhana saja. Mereka tidak terlalu sibuk memikirkan gengsi geopolitik atau debat para elite ekonomi global. Yang mereka rasakan adalah harga kebutuhan, kesempatan kerja, dan rasa aman menjalani hidup sehari-hari.
Karena itu, kritik dari luar semestinya tidak dianggap ancaman, melainkan bahan bercermin. Bila isinya keliru, jawab dengan argumentasi. Bila ada benarnya, perbaiki dengan rendah hati.
Sebab negara besar bukan negara yang anti-kritik.
Melainkan negara yang cukup dewasa, terbiasa mendengar tanpa kehilangan martabatnya.
“Simple saja, kan?” pungkas Korupsinikus sambil menyantap tahu goreng ‘sumedang’ plus cabe rawit, yang terhidang sore itu di rumahnya yang masih bergenting seng di pinggiran kota.
(Selesai).







