Porosmedia.com, Bandung – Sebuah terobosan kebudayaan berbasis nilai spiritual tengah dipersiapkan di jantung Kabupaten Subang. Tokoh budaya sekaligus Sekretaris Jenderal Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Jawa Barat, Eka Santosa, menggandeng kolektor seni Djen Himawan dan pimpinan Padepokan Kedaton Giri Nusantara, Ki Semar Romo Bayu Suryoadiwinata, untuk membangun sebuah galeri kaligrafi Al-Quran monumental berbahan logam.
Proyek ambisius ini direncanakan akan menghimpun seluruh 30 juz Al-Quran ke dalam sekitar 660 lembar kaligrafi logam berukuran besar (rata-rata 1 x 2 meter). Inisiatif ini tidak hanya dipandang sebagai pencapaian artistik, tetapi juga sebagai upaya memperkuat identitas kebangsaan yang harmonis antara agama dan budaya.
Manifestasi Budaya dan Pendidikan Karakter
Saat meninjau lokasi di Jalan Cagak, Subang pada Minggu (10/5/2026), Eka Santosa menegaskan bahwa kehadiran Al-Quran dalam bentuk karya seni logam bertujuan menciptakan ruang kontemplasi bagi masyarakat modern.
“Budaya dan agama tidak boleh dibenturkan. Pendekatan seni kaligrafi ini adalah cara efektif menyentuh kesadaran emosional masyarakat, sekaligus menjadi media pendidikan karakter bagi generasi muda agar tetap memiliki arah di tengah arus digitalisasi,” ujar Eka.
Kolaborasi Lintas Budaya dan Tokoh Nasional
Pembangunan Padepokan Kedaton Giri Nusantara sendiri tergolong unik. Meski baru berjalan enam bulan, kawasan seluas lima hektare (dari total potensi 21 hektare) ini telah menampilkan nuansa kolosal yang memadukan estetika Sunda dan Jawa.
Kunjungan tersebut juga dihadiri oleh tokoh nasional, Paduka Yang Mulia Vicoas T.B. Amalo (Raja Nusak Temanu, Rote, NTT), yang memberikan dimensi kebinekaan dalam proyek ini. Ki Semar Romo Bayu menekankan bahwa dasar pengembangan kawasan ini adalah nilai-nilai Pancasila dan NKRI.
“Kami membangun tanpa perencanaan kaku di atas kertas, namun mengalir secara organik. Di sini tersedia fasilitas pendopo, danau buatan, hingga ruang peribadatan untuk berbagai agama sebagai wujud moderasi beragama,” jelas Romo Bayu yang juga aktif di dunia seni peran.
Tantangan Artistik dan Potensi Wisata Dunia
Djen Himawan, selaku pihak yang membawa koleksi seni tersebut, menyatakan bahwa penataan galeri Al-Quran logam ini memerlukan ketelitian tata ruang yang tinggi. Mengingat materialnya yang masif (tembaga/logam), sinkronisasi antara karya seni dan lingkungan alam padepokan menjadi kunci utama.
“Ini bukan sekadar pajangan. Kami merancang alur bagi pengunjung agar merasakan pengalaman visual sekaligus spiritual saat menyusuri lembaran-lembaran logam tersebut,” ungkap Djen.
Dampak Ekonomi Kreatif dan Sosial
Kehadiran Galeri Al-Quran logam ini diproyeksikan akan membawa dampak signifikan bagi Kabupaten Subang:
Destinasi Wisata Baru: Menjadi magnet wisata religi dan budaya di Jawa Barat.
Pemberdayaan Lokal: Membuka peluang kolaborasi bagi pegiat ekonomi kreatif dan komunitas budaya di sekitar Jalan Cagak.
Simbol Persatuan: Menjadi bukti hidup bahwa ruang budaya adalah tempat bertemunya tradisi kuno dengan kebutuhan spiritual masyarakat modern.
Dengan progres pembangunan yang masif, Kedaton Giri Nusantara kini bertransformasi menjadi pusat peradaban baru di Subang yang mengedepankan estetika, toleransi, dan pelestarian nilai luhur Nusantara.







