Porosmedia.com, Bandung – Rencana pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” di lingkungan kampus ISBI Bandung memicu diskusi hangat mengenai batasan ekspresi intelektual. Jurnalis Bela Negara (JBN) secara terbuka menyatakan keprihatinannya terhadap potensi dampak sosial dari narasi yang diusung karya tersebut.
Ketua Umum Jurnalis Bela Negara (JBN), Rd. Moch. Gun Gun Gunanjar menyoroti fenomena munculnya narasi yang dianggap cenderung menyudutkan negara melalui berbagai medium, terutama saat tensi politik meningkat. Ia menilai, sering kali pihak-pihak yang aktif menggulirkan isu sensitif justru tidak hadir di tengah masyarakat saat terjadi gesekan sosial di lapangan.
“Kami khawatir publik digiring pada sentimen negatif terhadap negara sendiri. Jika terjadi instabilitas, siapa yang akan bertanggung jawab? Kebebasan berekspresi adalah hak, namun jangan sampai narasi tersebut justru mengoyak tenun persatuan bangsa,” ujar Ketua Umum JBN.
Polemik ini memicu perdebatan mendalam mengenai batas antara kebebasan akademik dan tanggung jawab sosial. Di satu sisi, sebagian sivitas akademika memandang pemutaran film dokumenter adalah bagian dari tradisi pengujian gagasan secara kritis. Namun, JBN mengingatkan bahwa kebebasan tersebut tidak boleh mengabaikan dampak sosiopolitik yang mungkin timbul.
Berdasarkan komunikasi langsung JBN dengan pihak ISBI Bandung, manajemen kampus dilaporkan tengah melakukan pembahasan internal yang mendalam.
Posisi Kampus: Pihak rektorat disebut sedang berkoordinasi dengan program studi terkait.
Situasi Dilematis: Kondisi ini digambarkan menyerupai “buah simalakama”, di mana kampus harus menyeimbangkan aspirasi akademik dengan menjaga kondusivitas publik.
JBN meminta pimpinan ISBI Bandung untuk mempertimbangkan implikasi luas dari kegiatan tersebut. Menurut JBN, lembaga pendidikan tinggi—termasuk kampus seni—memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan institusinya tidak dijadikan alat legitimasi bagi narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Kami menolak segala upaya yang menggiring opini publik untuk membenci institusi negara. JBN akan terus memantau pihak-pihak yang berpotensi merusak stabilitas nasional melalui propaganda budaya,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa JBN konsisten berdiri bersama TNI dan institusi negara lainnya dalam menjaga kedaulatan NKRI serta Pancasila.
Kasus film “Pesta Babi” kini bertransformasi menjadi diskursus penting mengenai pertarungan narasi di ruang publik. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat dituntut untuk lebih kritis dan bijak dalam menyaring tayangan agar tidak terjebak dalam polarisasi yang merugikan kepentingan nasional.







