Oleh : Muhammad Surya Ibay
Porosmedia.com – Nama Kyai Matdon menempati tempat tersendiri dalam perjalanan sastra dan kebudayaan Bandung. Ia bukan hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga sebagai penulis, wartawan, penggiat kebudayaan, dan salah seorang tokoh yang konsisten membangun ruang pertemuan bagi para penyair. Dalam perjalanan panjangnya, sastra, jurnalistik, kehidupan sosial, dan renungan keagamaan bertemu dalam satu sosok.
Lahir di Bandung pada 12 Desember 1966, dan menetap di Bandung lalu dikenal luas dengan nama Kyai Matdon. Sumber profil Kebun Seni Tamansari mencatat dirinya sebagai penyair, penulis, dan wartawan.
Dari Jurnalistik ke Dunia Puisi, Dari Puisi ke Jurnalis
Pengalaman sebagai wartawan memberikan posisi yang khas bagi Matdon dalam melihat kehidupan. Dunia jurnalistik membuatnya berhadapan dengan peristiwa, masyarakat, perubahan sosial, serta berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut menjadi salah satu sumber penting bagi kepenyairannya.
Tulisan-tulisan budaya dan puisinya pernah dimuat di berbagai media, antara lain Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Kompas, Galamedia, Bandung Post, Bali Post, Seputar Indonesia, Tribun Jabar, Radar Bandung, dan The Jakarta Post.
Karya jurnalistik dan karya sastra memiliki cara kerja yang berbeda. Namun bagi Matdon, keduanya dapat saling mengisi. Jurnalistik berhadapan dengan fakta, sementara puisi memberi ruang bagi pengalaman dan fakta tersebut untuk direnungkan lebih dalam.
Menulis Puisi sebagai Cara Membaca Kehidupan
Kepenyairan Matdon telah menghasilkan sejumlah buku. Di antaranya Garis Langit (2002), Mailbox (2004), Kepada Penyair Anjing (2008), Benterang (2009, bersama Atasi Amin dan Anton D. Sumartan), Sakarotul Cinta, Ustadz Televisi, Bubur Ayam, Kepada Luka juga menerbitkan buku esai Birahi Budaya dan Teater Alat Ritual, serta yang terlahir Kabar Tak Penting dan Hanya waktu
Puisinya juga hadir dalam sejumlah antologi, seperti Maha Duka Aceh, Di Atas Viaduct, dan JILFEST, serta tercatat dalam kegiatan sastra seperti Temu Sastrawan Indonesia di Ternate dan Pertemuan Penyair Nusantara di Jambi.
Salah satu karakter yang menonjol dalam karya Matdon adalah keberaniannya membawa persoalan sosial ke dalam puisi. Puisi tidak hanya menjadi tempat untuk berbicara tentang cinta dan perasaan personal, tetapi juga dapat menjadi ruang kritik.
Hal tersebut terlihat jelas dalam Ustadz Televisi, yang diluncurkan pada 2014. Buku tersebut merupakan kumpulan puisi tunggal ketujuh Matdon dan berisi sekitar 50 puisi, sebagian di antaranya pernah dimuat di media cetak pada rentang 2009–2014. Matdon sendiri menyebut buku tersebut sebagai kritik sosial bagi siapa saja, bukan semata-mata kritik terhadap ustadz.
Judul Ustadz Televisi memperlihatkan kecenderungan Matdon mempertemukan bahasa agama dengan realitas media dan kehidupan modern. Dalam pembacan terhadap buku tersebut, Heri Dym melihat adanya pertentangan antara dunia nilai dan pendidikan keagamaan dengan dunia televisi yang artifisial serta memiliki kekuatan besar dalam membentuk kesadaran publik.
Dengan demikian, kritik dalam puisi Matdon bukan sekadar kritik yang marah. Ia dapat bekerja melalui ironi, metafora, dan permainan bahasa.
Majelis Sastra Bandung
Salah satu sumbangan penting Matdon dalam kehidupan kebudayaan Bandung adalah lahirnya Majelis Sastra Bandung (MSB).
MSB didirikan pada 25 Januari 2009 oleh Matdon bersama Yusep Muldiyana, Aendra H. Medita, Hanif, Hermana, dan Dedi Koral. Tujuan awalnya adalah menghimpun penyair muda yang memiliki semangat berkarya tetapi belum memiliki ruang yang cukup untuk berdiskusi dan menguji karya mereka.
Dalam catatan lain, MSB disebut sebagai forum yang mempertemukan berbagai komunitas sastra Bandung, termasuk FLP Bandung, ASAS UPI, dan lingkungan UNPAS. Pertemuan bulanan dilaksanakan di beberapa tempat. Para penyair membawa karya, membacakannya, lalu mendiskusikannya bersama.
Dengan demikian, MSB bukan hanya tempat membaca puisi. Ia merupakan ruang pendidikan sastra informal: tempat penyair belajar mendengar kritik, memahami karya orang lain, dan mengembangkan keberanian untuk terus menulis.
Matdon menjalankan peran sebagai Rois ‘Am atau Rais Aam Majelis Sastra Bandung. Sumber yang lebih baru juga masih mencatatnya sebagai Rais Aam MSB sejak 2009.
Sastra, Agama, dan Kritik Sosial
Identitas “Kyai” pada nama Matdon menarik karena memberikan lapisan lain dalam membaca karya-karyanya. Sastra yang ditulisnya tidak sepenuhnya berada di wilayah estetika, melainkan sering bersinggungan dengan persoalan moral, agama, masyarakat, dan perilaku manusia.
Dalam pandangan yang pernah disampaikannya, puisi dapat menjadi sarana perubahan perilaku dan hati. Pada sebuah acara sastra, Matdon bahkan berbicara tentang puisi sebagai sesuatu yang dapat mengubah dirinya secara khusus dan memiliki kedekatan dengan pengalaman religius.
Di sini terlihat bahwa bagi Matdon, sastra bukan sekadar cara untuk memperoleh popularitas. Menulis mempunyai dimensi tanggung jawab. Penyair dituntut untuk berhadapan dengan dirinya sendiri sebelum berbicara kepada orang lain.
Sikap tersebut juga sejalan dengan gagasan yang ditulisnya dalam lingkungan Majelis Sastra Bandung: berkarya tidak semestinya semata-mata dilakukan demi ketenaran. Karya, dalam pandangan itu, seharusnya lahir dari keikhlasan dan kesungguhan.
Dari Kepada Luka hingga Hanya Waktu
Perjalanan kepenyairan Matdon tidak berhenti pada karya-karya awalnya. Kepada Luka, yang diterbitkan Majelis Sastra Bandung pada 2020, tercatat dalam katalog Perpustakaan Jakarta/PDS H.B. Jassin sebagai kumpulan puisi Matdon. Buku tersebut bahkan memperlihatkan beberapa corak yang dapat ditemukan dalam kepenyairannya: romantis, kritis, religius atau sufistik, dan penggunaan unsur bahasa Sunda.
Pada 2025, muncul pula Hanya Waktu, sebuah buku puisi Matdon yang diterbitkan Langgam Pustaka. Deskripsi penerbitan tersebut kembali menyebut Matdon sebagai penyair, penulis, dan wartawan, sekaligus mencatat sejumlah karya lainnya, termasuk Ustadz Televisi dan Kepada Luka.
Keberlanjutan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan kepenyairan Matdon bukan sesuatu yang berhenti pada satu periode. Ia terus menulis, menerbitkan buku, dan menjaga hubungan dengan dunia sastra.
Jejak yang Lebih Besar dari Sebuah Buku
Jika perjalanan Kyai Matdon hanya dilihat dari daftar bukunya, kita mungkin kehilangan bagian penting dari makna kiprahnya. Sumbangannya tidak hanya berada di dalam buku, tetapi juga dalam ruang-ruang yang dibangunnya.
Majelis Sastra Bandung menjadi salah satu bukti bahwa ia tidak hanya ingin menjadi penyair yang menulis untuk dirinya sendiri. Ia ikut menciptakan ruang agar penyair lain dapat tumbuh. Antologi Ziarah Kata, misalnya, menghimpun 99 judul sajak dari 44 penyair setelah forum tersebut berjalan sekitar setahun.
Dalam konteks kebudayaan Bandung, peran semacam ini sangat berarti. Sebuah tradisi sastra tidak hanya dibangun oleh karya besar, tetapi juga oleh orang-orang yang mau menjaga pertemuan, membuka ruang diskusi, menerbitkan karya, dan memberi kesempatan kepada generasi berikutnya.
Kyai Matdon adalah bagian dari proses tersebut.
Penutup
Membaca perjalanan Kyai Matdon berarti membaca perjalanan seorang manusia yang memilih kata sebagai jalan hidup. Ia menulis puisi, bekerja dalam dunia jurnalistik, berbicara tentang kebudayaan, mengkritik keadaan sosial, dan pada saat yang sama membawa pengalaman religius ke dalam wilayah sastra.
Kekuatan utamanya justru terletak pada pertemuan berbagai dunia tersebut. Ia tidak memisahkan secara tegas antara penyair dan masyarakat, antara agama dan kebudayaan, antara humor dan kritik, atau antara pengalaman sehari-hari dan perenungan spiritual.
Karena itu, warisan Kyai Matdon tidak hanya berupa buku-buku puisi yang telah diterbitkan. Warisannya juga berada dalam ruang dialog yang ia bangun bersama para penyair, terutama melalui Majelis Sastra Bandung.
Pada akhirnya, seorang penyair mungkin akan dikenang bukan hanya karena seberapa banyak buku yang ditulisnya, melainkan karena seberapa jauh kata-katanya mampu membuat manusia berhenti sejenak, berpikir, tertawa, merasa, mempertanyakan keadaan, dan kembali melihat dirinya sendiri.
Dalam pengertian itulah Kyai Matdon menjadi salah satu wajah penting dari kehidupan sastra Bandung: seorang penyair yang tidak ingin sastra berhenti menjadi kata-kata, tetapi terus bergerak menjadi pengalaman, percakapan, kritik, dan kehidupan.







