Porosmedia.com, Bandung – Menembus usia keramat 17 tahun, komunitas Majelis Sastra Bandung (MSB) kembali menegaskan eksistensinya sebagai “Ruang Sastra yang Sebenarnya.” Momentum hari jadi ini dirayakan melalui diskusi mendalam bertajuk “Kondisi (Ke)penyair(an) di Jawa Barat Hari Ini” yang digelar di Aula Museum Kota Bandung, Minggu (18/1/2026).
Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan budayawan Hawe Setiawan sebagai narasumber utama dengan dipandu oleh moderator Farra Yanuar. Selain diskusi, peringatan ini juga ditandai dengan peluncuran buku antologi terbaru bertajuk 17 Tahun MSB, sebuah karya kolektif yang menjadi simbol kebangkitan literasi pasca-pandemi.
Rois ‘Am MSB, Kyai Matdon, mengenang kembali perjalanan komunitas yang ia dirikan bersama Dedy Koral dan rekan sejawat lainnya pada 25 Januari 2009 silam. Sejak awal, MSB dirancang sebagai wadah nirlaba yang inklusif bagi penyair muda maupun penggiat sastra dari berbagai latar belakang.
“Fokus kami adalah menyediakan ruang belajar dan bertumbuh bersama. Melalui forum ‘Pengajian Sastra’ yang rutin digelar tiap bulan, kami tidak hanya membedah puisi, tapi juga mengeksplorasi cerpen, novel, teater, hingga musik,” ujar Matdon dalam keterangannya.
Selama hampir dua dekade, MSB telah menjadi kawah candradimuka bagi lebih dari 7.000 partisipan lintas generasi. Kerja keras ini pun sempat berbuah manis dengan raihan Penghargaan Kawistara dari Balai Bahasa Jawa Barat pada akhir 2014.
Diskusi yang dipimpin Hawe Setiawan menyoroti pergeseran peta kepenyairan di Jawa Barat, terutama tantangan dalam menghadapi derasnya arus digitalisasi dan isu regenerasi. Meski medium penulisan terus berubah, nilai-nilai dasar sastra dianggap tetap relevan sebagai kompas moral dan estetika masyarakat.
Setelah sempat vakum menerbitkan buku sejak masa pandemi, peluncuran antologi tahun ini menjadi penyambung rantai karya yang sebelumnya telah melahirkan judul-judul ikonik seperti Ziarah Kata, Bersama Gerimis, Menulis Puisi Lagi, Wirid Angin, dan Yang Tersisa.
Matdon mengaku optimis melihat perkembangan dunia sastra di Bandung saat ini. Munculnya berbagai komunitas baru dipandang sebagai indikator kesehatan ekosistem kreatif di Jawa Barat.
”Saya gembira melihat kehidupan sastra di Bandung semakin menggeliat dengan banyaknya komunitas-komunitas baru yang bermunculan. Ini membuktikan bahwa ruang-ruang kreatif seperti ini tetap dibutuhkan oleh zaman,” pungkasnya.
Hingga saat ini, MSB terus konsisten menjaga marwahnya dengan menghadirkan tokoh-tokoh sastra nasional seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, hingga Saut Situmorang ke tengah-tengah publik Bandung, guna memberikan edukasi sastra secara cuma-cuma bagi para pelajar dan pencinta literasi. *** (PM/Red)







