Esai Satir: Harri Safiari
Porosmedia.com, Bandung – Ada bangsa yang besar karena senjatanya.
Ada pula yang besar karena sejarahnya terlalu panjang untuk dilupakan.
Persia adalah keduanya.
Maka ketika wacana serangan darat Amerika Serikat ke Iran mengemuka, pertanyaannya bukan sekadar soal siapa menyerang dan siapa bertahan.
Tapi: apakah sejarah bisa ikut berperang?
Korupsinikus, sambil merapikan gelas kopinya yang mulai dingin, berujar pelan:
“Kadang yang paling sulit ditaklukkan itu bukan wilayah… tapi ingatan sebuah bangsa.”
Persia: Bukan Sekadar Nama Lama
Sebelum dunia mengenal Iran seperti hari ini, ada satu nama yang sudah menggema ribuan tahun: Persia!
Ia pernah melahirkan kekaisaran besar.
Mengatur wilayah luas.
Dan, yang paling penting—mewariskan rasa sebagai bangsa yang tidak mudah tunduk.
Sejarah seperti itu tidak hilang.
Ia hanya berubah bentuk.
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Negara boleh berganti rezim,” katanya,
“tapi harga diri jarang ikut pensiun, harus melekat.”
Perang Modern, Jiwa Lama
Serangan darat bukan sekadar strategi militer.
Ia adalah ujian paling berat: logistik, ketahanan, dan—yang sering diremehkan—mental rakyat yang diserang.
Di atas kertas, kekuatan militer bisa dihitung.
Tank, pesawat, rudal—semuanya bisa dipetakan.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar masuk hitungan:
seberapa keras sebuah bangsa menolak untuk kalah.
Dan di situlah sejarah Persia sering diam-diam ikut hadir.
Bukan Vietnam, Bukan Afghanistan—Tapi…
Iran bukan Vietnam.
Iran juga bukan Afghanistan.
Namun dunia sudah belajar, bahwa perang darat tidak pernah sesederhana rencana awal.
Yang cepat sering melambat.
Yang pasti sering berubah.
Yang yakin… sering tersesat.
Korupsinikus menghela napas pendek.
“Masuk itu mudah,” katanya,
“yang sulit itu pulang tanpa membawa beban.”
Kekuatan yang Tidak Terlihat
Apa yang membuat sebuah negara bertahan?
Bukan hanya senjata.
Bukan hanya jumlah tentara.
Tapi juga: keyakinan, identitas, dan ingatan kolektif bahwa mereka pernah besar
Itu bukan sesuatu yang bisa dibom.
Itu justru yang sering membuat perang jadi panjang.
Bayangan yang Tidak Bisa Dihapus
Jika benar langkah darat itu terjadi, maka yang dihadapi bukan hanya Iran hari ini.
Tapi juga bayang-bayang panjang Persia—yang mungkin tidak terlihat, tapi terasa.
Korupsinikus berdiri, menatap ke luar jendela yang entah mengarah ke mana.
Lalu ia berbisik pelan:
“Dalam perang, yang sering dilupakan bukan kekuatan lawan…”
Ia berhenti sejenak.
“…tapi kedalaman akarnya, kuat menancap dan menghujam bumi!” (Selesai).







