Menjemput Jiwa Nusantara: Ketika “Brankas Seberang” Mulai Ketar-Ketir

Avatar photo

Porosmedia.com – Ada sebuah adagium tua yang hari ini mendadak terasa begitu kontekstual: “Sehebat-sehebatnya burung terbang, ia akan merindukan sarang.” Sayangnya, dalam narasi ekonomi modern kita, yang terjadi justru sebaliknya. Burung-burung kapital kita terbang membawa hasil bumi Nusantara, namun bertelur dan membuat sarang megah di tanah tetangga yang luasnya tak lebih besar dari sebuah kabupaten di Jawa.

​Selama puluhan tahun, kita dikondisikan untuk hidup dalam amnesia sejarah yang akut. Kita dipaksa percaya pada dikotomi semu: bahwa Republik yang lahir pada tahun 1945 adalah entitas yang sama sekali putus hubungan dengan imperium masa lalu—mulai dari Samudera Pasai, Majapahit, hingga Ternate-Tidore. Di sinilah letak kecerdikan strategi devide et impera gaya baru. Warisan kultural, tanah adat, hingga aset-aset historis para Sultan dan Raja “dijinakkan” menjadi sekadar simbol pariwisata yang ramah kamera, sementara fungsi finansial dan kedaulatan spasialnya diamputasi secara perlahan.

​Mengapa narasi amnesia ini begitu konsisten dirawat? Jawabannya sederhana: agar rantai pasok global berbasis kendali brankas asing tetap berjalan mulus tanpa interupsi. Ketika sebuah bangsa lupa pada fondasi “Old Money” peradaban leluhurnya, mereka akan dengan sangat mudah didikte oleh regulasi utang global. Kita dibuat bertengkar di dalam negeri dengan pertanyaan absurd: “Kamu pro-Nusantara yang tradisional atau pro-Republik yang modern?” Padahal, keduanya adalah jiwa dan raga dari satu napas yang sama. Indonesia adalah wadah geopolitik modern yang lahir langsung dari rahim historis Nusantara.

Baca juga:  Pemkot Bandung Cabut Segel Bangunan FTL Gym Merdeka, Setelah Penuhi Seluruh Kewajiban Perizinan

​Gelembung “Meja Trading” di Selat Tetangga

​Manifestasi nyata dari terpisahnya jiwa dan raga bangsa ini paling jelas terlihat pada lanskap ekonomi komoditas kita. Sejarah mencatat, wilayah yang dulu dikenal sebagai Temasik pernah menjadi titik transit geopolitik yang dinamis sejak era Kubilai Khan hingga Majapahit. Di era modern, titik transit itu bermutasi menjadi pusat pelarian modal (capital flight) paling aman di Asia Tenggara.

​Sangat mengelus dada ketika melihat data bahwa ratusan miliar dolar AS dana warga negara kita justru lebih nyaman “numpang parkir” di brankas-brankas kaca seberang lautan. Kita yang memiliki hamparan kelapa sawit, kita yang menggali nikel, batubara, dan timah di bawah terik matahari, namun margin keuntungan raksasa justru dinikmati oleh para makelar di meja trading asing. Mereka menguasai skema hedging, futures, hingga penentuan harga global. Kita yang berkeringat, mereka yang mendapat predikat “pusat keuangan dunia.”

​Namun, dinamika ini tampaknya mulai menemui titik balik yang membuat para pemain pasar di bursa seberang mulai keringat dingin. Langkah berani pemerintah melalui kebijakan ekspor satu pintu (seperti implementasi kebijakan devisa hasil ekspor) langsung direspons oleh pasar secara instan. Emiten-emiten berbasis komoditas di bursa tetangga dilaporkan langsung mengalami koreksi tajam.

Baca juga:  Tragedi di Cipayung: Cucu Sang Maestro Mpok Nori Tewas, Cermin Rapuhnya Perlindungan Perempuan di Ruang Privat?

​Ini adalah bukti empiris, bukan sekadar retorika atau omon-omon politik. Ketika keran kendali mulai digeser kembali ke Jakarta—dan nantinya diperkuat secara geografis dan zona waktu melalui Ibu Kota Nusantara (IKN) serta penguatan institusi pengelola investasi seperti Danantara—para makelar global kehilangan hulu ledaknya.

​Mengembalikan Fungsi, Bukan Monarki

​Kritik satire ini tentu bukan sedang meromantisasi masa lalu untuk kembali ke sistem monarki absolut. Sama sekali bukan. Para pemangku adat, Raja, dan Sultan Nusantara hari ini tidak sedang meminta mahkota mereka dikembalikan dalam struktur tata negara. Mereka hanya ingin membantu Republik ini tegak berdiri di atas kakinya sendiri.

​Mengembalikan fungsi aset Nusantara dan tanah adat sebagai fondasi ekonomi domestik adalah kunci agar Indonesia berhenti menjadi pasien abadi lembaga keuangan internasional. Ketika kedaulatan pangan, energi, dan finansial diintegrasikan dengan kekuatan sejarah, maka Indonesia sedang bertransformasi menjadi mercusuar dunia, bukan lagi sekadar pelayan di halaman belakang rumah orang lain.

​Grafik saham yang memerah di bursa asing belakangan ini adalah sinyal jelas: bahwa sebuah bangsa yang besar sedang berusaha menjahit kembali tali warisnya yang sempat sengaja diputus. Kedaulatan sejati tidak pernah diberikan sebagai hadiah, ia direbut kembali melalui keberanian menguasai pintu rumah sendiri. Jika hari ini “pintu” tersebut sudah mulai terkunci dari dalam, tugas kita bersama adalah menjaganya agar tidak kembali digadaikan atas nama fasilitasi logistik yang semu.

Baca juga:  Standar Mutu Pesantren Bakal Diterapkan, Ini Bocorannya

​Nusantara tidak sedang lahir baru; ia hanya sedang bangun dari tidur panjangnya untuk memastikan Indonesia tetap merdeka secara utuh.