Agis: Martabat di Atas Kanvas dan “Tamparan” Bagi Keadilan Sosial

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Di sudut remang pelataran Indomaret, Jalan Ciptomangun-Kusumo, Peninggilan, Ciledug, seorang bocah berusia sembilan tahun duduk bersila. Namanya Agis. Tangannya yang mungil tak memegang gawai atau mainan mahal, melainkan selembar kertas kosong dan alat gambar sederhana.

​Dengan fokus yang melampaui usianya, Agis menggoreskan imajinasinya. Perlahan, kertas putih itu bertransformasi menjadi pemandangan dan karakter penuh warna. Agis tidak sedang mengejar nilai seni di galeri mewah; ia sedang bertarung untuk sepiring nasi. Di saat anak-anak seusianya terlelap atau asyik bermain, Agis memilih menjajakan harga dirinya melalui karya, bukan dengan menengadahkan tangan sebagai pengemis.

​Fenomena Agis ini menarik perhatian R. Yadi Suryadi, Ketua Aliansi Pemuda Anti Korupsi (APAK), Ketua DPW Jabar Serikat Buruh Nasionalis Indonesia dan Ketua Harian Yayasan Gugus Antisipasi Narkotika Nusantara, Menurutnya, keberanian Agis adalah sebuah ironi besar di tengah klaim kemakmuran yang sering didengungkan pemerintah.

​”Agis adalah simbol martabat yang tersisa di akar rumput. Namun, di sisi lain, kehadirannya di jalanan adalah tamparan keras bagi wajah birokrasi kita. Saat seorang anak sembilan tahun harus ‘berkarya’ demi makan, di situlah kita melihat potret nyata kegagalan negara dalam mendistribusikan keadilan ekonomi,” ujar Yadi kepada Porosmedia.com.

Baca juga:  Aliansi Pemuda Anti Korupsi Guncang Bina Marga Jabar: Endus Aroma Monopoli Proyek Alat Berat Senilai Miliaran Rupiah

Yadi menekankan bahwa kemiskinan yang memaksa anak-anak turun ke jalan tidak lahir dari ruang hampa. Ia mengaitkan hal ini dengan dampak sistemik dari praktik korupsi yang masih menggurita.

​Sebagai aktivis anti-korupsi, Yadi Suryadi melihat adanya korelasi langsung antara dana publik yang diselewengkan dengan ketidakmampuan masyarakat untuk merasakan fasilitas dasar yang layak.

Penyimpangan Anggaran: Dana yang seharusnya mengalir ke jaring pengaman sosial atau pendidikan seringkali “bocor” di tengah jalan.

Kesenjangan yang Menganga: Korupsi menciptakan jurang lebar di mana segelintir orang kaya secara instan, sementara keluarga seperti Agis harus berjuang di garis depan kemiskinan.

Kualitas Layanan Publik: Infrastruktur dan perlindungan anak yang lemah membuat bakat-bakat seperti Agis tidak terwadahi dalam sistem pendidikan yang seharusnya gratis dan berkualitas.

​”Masyarakat merasa tidak makmur karena mereka melihat adanya ketidakadilan. Ketika akses terhadap pekerjaan layak sulit dan layanan kesehatan mahal, kepercayaan publik akan runtuh. Agis hanyalah satu dari jutaan korban kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil,” tambah Yadi dengan nada tegas.

Baca juga:  Ukulele, Ansambel, Tenun, dan Persahabatan di Balik Harmoni Sora Wanodja Nusantara

​Meski hidup dalam impitan ekonomi, Agis terus mengasah kemampuannya. Setiap hari ia berpindah, terkadang di Ciledug, terkadang di sekitar Tekas Tempat, Tangerang. Ia menawarkan harapan lewat warna-warni lukisannya.

​Bagi Yadi, mendukung Agis bukan sekadar membeli lukisan, tapi merupakan bentuk solidaritas sosial untuk melawan apatisnya sistem. “Kita beri semangat adik kecil ini. Mari share karyanya, beli hasilnya. Ini bukan soal belas kasihan, tapi soal menghargai martabat seorang manusia yang menolak menyerah pada keadaan.”