Mengikis Stigma Publik demi Solidaritas dan Prestasi NPCI Kota Bandung

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Salam Sejahtera untuk segenap pengurus, pelatih, dan koordinator cabang olahraga yang tergabung di National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bandung. Salam Olahraga.

​Setiap pagi, untaian doa selalu dipanjatkan demi keselamatan dan kesejahteraan kita bersama. Namun, pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan sebuah catatan reflektif. Tulisan ringan ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman kolektif mengenai esensi diri kita, nilai-nilai yang kita bawa, serta posisi strategis organisasi saat ini.

​Penelitian psikologi modern dan sosiologi disabilitas—seperti yang dikaji oleh World Health Organization (WHO), American Psychological Association (APA), hingga para ahli studi disabilitas terkemuka seperti Tom Shakespeare—menegaskan secara ilmiah bahwa kondisi disabilitas sama sekali tidak berkorelasi dengan perilaku negatif individual, seperti arogansi, prasangka buruk, maupun sifat temperamental.

​Perilaku-perilaku tersebut murni merupakan karakteristik personal yang dibentuk oleh pola asuh, lingkungan sosial, serta dinamika kepribadian masing-masing individu, bukan karena kondisi kedisabilitasannya.

​Poin mendasar ini menjadi pesan penting bagi seluruh elemen non-disabilitas yang beraktivitas di lingkungan NPCI Kota Bandung. Dalam merumuskan narasi maupun diksi—baik untuk kepentingan internal maupun eksternal organisasi—kita harus berkomitmen penuh untuk tidak mendiskreditkan penyandang disabilitas atau mengaitkan kondisi fisik dengan stigma perilaku tertentu.

Baca juga:  Mendagri Jelaskan Peran Gubernur dalam Penetapan Upah Minimum 2026

​Saat ini, perjuangan besar kita adalah mengikis habis stigma keliru di tengah publik yang sering kali salah dalam memahami disabilitas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, asas kesetaraan harus dijunjung tinggi. Penyandang disabilitas bukan subjek untuk dikasihani ataupun sekadar dimaklumi, melainkan kelompok masyarakat yang harus dipahami, dimengerti, dan dipenuhi hak-haknya secara setara melalui pendekatan keilmuan yang memadai.

​Tulisan ini dihadirkan semata-mata dengan semangat menjaga soliditas, kekuatan, kesamaan visi, dan kesatuan persepsi di antara seluruh elemen NPCI Kota Bandung. Langkah ini krusial demi meraih prestasi gemilang pada Pekan Paralympic Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026.

​Di dalam rumah besar NPCI Kota Bandung, sudah tidak relevan lagi menyekat diri dengan dikotomi “disabilitas” dan “non-disabilitas”. Kita semua berada di kedudukan yang setara. Faktanya, tanpa melihat latar belakang fisik, tindakan kurang patut seperti ucapan arogan pun bisa saja muncul dari figur non-disabilitas. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga sikap dan etika profesional.

Baca juga:  MQ Iswara Disepakati Jadi Calon Tunggal Ketua IKA Unpad Jawa Barat

​Pesan akhir saya: mari terus menggali potensi diri, memacu prestasi olahraga disabilitas, serta meningkatkan kapabilitas dalam menciptakan atmosfer lingkungan kerja yang kondusif dan harmonis. Semoga catatan singkat ini memberikan manfaat dan pemantik semangat bagi kita semua. Terima kasih.

​Salam Olahraga.

Oleh: Yurisman Tanjung

Dewan Pertimbangan NPCI Kota Bandung