Esai Satire: Harri Safiari
Porosmedia.com – Seperti dilansir berbagai media arus utama, tanpa tedeng aling-aling, pemimpin tertinggi Negara Konoha Raya (NKR) pada Sidang Kabinet Paripurna, 15 Desember 2025, melontarkan pernyataan yang bikin ruang sidang mendadak hening.
Ia mengakui masih maraknya praktik penyelundupan timah di Bangka Belitung yang justru dibekingi oknum aparat. Sebagian di antaranya disebut berasal dari institusi yang seharusnya menjadi benteng penegakan hukum: TNI dan Polri!
Pernyataan itu menggelegar di ruang sidang, namun gaungnya cepat juga meredup di luar sana.
Tak lama berselang, Korupsinikus—figur legendaris yang konon telah “hidup kembali” dari kutukan panjangnya—tampak duduk santai di sebuah kafe trendi di salah kota besar NKR. Di hadapannya, puluhan Gen Z berkumpul.
Mereka bukan untuk berdiskusi soal etika atau idealisme, melainkan untuk menyimak kuliah singkat tentang bagaimana berkarier dengan aman di tengah negeri yang penuh kongkalikong.
Mereka menyebutnya: ngalap berkah.
Tujuannya satu—bagaimana menjadi pengusaha sukses, cepat kaya, dan tetap selamat dari jerat investigasi.
“Ujung-ujungnya kami ini masih muda, pengennya setelah sedikit merintis usaha, langsung jadi crazy rich. Nggak pakai susah-susah amat, dan berliku. Toh niatnya, biar cepat ikut membangun negeri ini kan jaman instan,” ujar Moranika (23), putri salah satu taipan properti di ibu kota provinsi NKR, dengan nada polos yang nyaris meyakinkan, plus tanpa beban.
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Nah adik-adik, tadi pimpinan negeri ini bicara gamblang soal aparat yang mestinya memberantas, tapi naga-naganya malah berpelukan mesra dengan praktik ilegal. Kira-kira, bakal ditindaklanjuti nggak?” tanyanya, seolah sedang menguji logika pasar yang jumpalitan tak karuan.
Jawaban datang cepat, nyaris tanpa ragu.
“Itu cuma gimmick,” sahut Devina (24), perintis usaha kuliner yang gerainya sudah menyebar di 42 kota, empat provinsi. “Di negeri ini, wacana penegakan hukum sering nyungsep di tengah jalan. Jangan baper, jangan berharap. Lupakanlah, semua hanya dipaparkan lalu terkapar”
Mayoritas mengangguk. Seolah itulah pedoman moral kurikulum tak tertulis dunia kerja NKR.
Idealismenya itu Mahal, Tapi Tidak Laku
Di sudut lain, Rubi—tokoh anti korupsi yang namanya sering dikutip seminar dan diskusi—masih setia mendampingi Korupsinikus sejak sosok itu “dibangunkan” dari tidur ratusan tahunnya. Dikisahkan, Korupsinikus pernah membatu seperti Malin Kundang, bahkan sempat dipajang di museum geologi, disangka kerabat dekat fosil Pithecanthropus erectus.
Hingga sebuah keajaiban membawanya kembali ke dunia nyata – menebus kutukan! Yang beda, kini ia menjadi pakar pro-korupsi paling jujur dan terbuka (lebar) di NKR.
“Soal keterlibatan aparat di tambang ilegal itu?” ujar Rubi lirih. “Cocoknya jadi dongeng sebelum tidur. Disebut, tapi tak pernah benar-benar diusut, hilang terbawa kabut!”
Ironisnya, Rubi yang lantang menentang korupsi justru hidup terseok-seok. Utangnya di warung dekat rumah menumpuk. Kadang baru lunas berbulan-bulan kemudian, itu pun setelah ancaman halus sang pemilik warung akan membawa cerita itu ke media massa.
“Dan jangan ceritakan kisah Rubi ini ke siapa pun,” bisik Korupsinikus suatu hari dengan sedikit nada memelas tak biasanya. .
“Kenapa?”
“Takutnya didengar aparat. Kalau mereka iba, nanti malah dilunasi. Bahaya. Rubi ini terlalu berbahaya kalau hidupnya sejahtera!” ujarnya tanpa ada maksud ngabodor.
Simpulan Melipir untuk Generasi Z
Kisah ini bukan sekadar satir. Ia adalah cermin yang tak memunculkan bayangan nyata.
Di NKR, pilihan karier sering kali bukan antara benar dan salah, melainkan antara aman atau berani. Generasi Z dihadapkan pada realitas pahit: sistem yang korup sering terlihat lebih ramah bagi yang mau berkompromi.
Namun sejarah selalu mencatat satu hal:
Sistem busuk tidak runtuh oleh mereka yang ikut menikmati, melainkan oleh mereka yang menolak meski harus membayar mahal.
Pertanyaannya bukan “seberapa cepat kamu kaya”, melainkan:
ketika semua topeng runtuh nanti, kamu ingin dikenang sebagai apa, pahlawan atau pecundang? (Selesai)







