Korupsinikus Tanggapi Bencana Besar di Aceh, Sumut, dan Sumbar: “Gundulmu, Hutan Kau Rusak!”

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

Porosmedia.com – Hujan tak henti tiga hari di Tanah Rencong, di leher Sumatra Utara, hingga ranah Minang. Ratusan warga meninggal. Puluhan hilang. Ribuan rumah rata oleh banjir dan longsor. Para pengungsi gemetar menunggu jatah nasi bungkus, sementara tenda bocor meneteskan tragedi.

BMKG menyebut Siklon Senyar sebagai pemantik badai. BRIN menimpali: penebangan hutan membikin tanah kehilangan pegangan.

Lalu, seperti biasa, Korupsinikus—makhluk legenda yang dulu dikira fosil Sangiran namun ternyata hanya pegawai yang kebanyakan “amplop”—mendadak bangun dari tidur panjang. Ia pernah dikutuk jadi batu karena kebablasan serakahnomics; sampai tanah pun muak.

Hingga suatu masa, Wi-Fi 7 (yang bahkan belum tersedia secara resmi) menyambar patungnya, dan sim salabim—Korupsinikus bangkit! Kini, ia bersahabat dengan Rubi, aktivis antikorupsi yang hidupnya selalu minus karena terlalu sering bilang, “Maaf saya tak bisa terima amplop.”

Alih-alih tobat, Korupsinikus kini menjadi motivator korupsi paling fenomenal di Negeri Konoha Raya. Pesannya selalu menggugah… ke arah yang salah:

Baca juga:  Negara dan Kelola Sampah ala Primitif, Korupsinikus: Gagal Dipikirkan

“Perdalamlah praktik korupsi. Jadilah licin bagaikan srigala suci nan murni—tak tersentuh hukum!”
Kalimat itu ia ucapkan dalam seminar megah bertajuk:
“1001 Tips Korupsi di Belantara Aturan yang Menjerat Rakyat Kecil Saja.”

Gundulmu, Hutan Kau Rusak
Ketika para jurnalis bertanya sikapnya soal tragedi di Sumatra, Korupsinikus mendadak berubah galak— seakan sebagai pakar yang paling tahu cara menghancurkan alam.

“Coba lihat! Sungai mengangkut balok-balok kayu bekas hutan yang kalian gunduli. Itu semua bikin sungai dangkal. Hujan deras sedikit saja—air meluap seenaknya!”

Tangannya menunjuk layar yang menampilkan longsoran tanah membawa batang-batang hutan yang dulu tegak melindungi hidup.

Lalu ia menghela napas panjang dan memuntahkan kalimat pamungkasnya:
“Semua bikin hutan gundul! Ini gegara gundulmu! Hutan kau rusak!
Dan kalian masih pura-pura tak kenal pelakunya?”

Dia menyinggung Batang Toru, ekosistem langka yang kini dicincang perkebunan, pertambangan, dan proyek energi yang konon demi “kemakmuran”.

Di tenda pengungsian…
Sementara Korupsinikus berkoar-koar moral bajakan, di tenda yang rembes itu seorang anak laki-laki menggigil sambil memeluk dua adiknya.

Baca juga:  Menyoal Efektivitas Bantuan Dampak Penutupan Tambang: Ribuan KK di Bogor Barat Masih Menanti?

“Mah… masih lamakah nasi bungkus datang?”
bisiknya dalam gelap,
di negeri tempat hutan tumbang dulu, manusia tumbang belakangan.

Korupsinikus menutup pernyataannya dengan wajah sendu:
“Jagalah hutan… sebelum kita kehabisan alasan untuk menangis.”
Ironis.
Sebab ia pun tahu dan sadar — selama amplop masih beredar, hutan dan area tambang tetap kalah…gundulmu, memang!