Porosmedia.com, Ciwidey – 20 September 2026, Kawah Sastra Ciwidey (KSC) bakal menggelar Festival Sastra Ciwidey 2026 pada 26–27 September 2026 di Auditorium SMK Al-Wafa Ciwidey. Acara ini diadakan buat mendekatkan kembali sastra dengan masyarakat Ciwidey Raya.
Mungkin nggak banyak yang tahu kalau Ciwidey—yang identik sama udara sejuk dan pegunungan damai—pernah jadi medan pertempuran Perang Kemerdekaan antara pasukan Belanda dan Pasukan Siluman Merah. Di tikungan jalan menuju kawasan wisata Rancabali, berdiri tugu peringatan peristiwa bersejarah tersebut. Sayangnya, bertahun-tahun tugu itu berlumut dan terlupakan.
Ciwidey sebetulnya punya ikatan erat sama dunia sastra. Daerah ini melahirkan penulis bereputasi nasional, seperti Duduh Durahman (penulis, kritikus, dan penerjemah) serta Eddy D. Iskandar (penulis novel Gita Cinta dari SMA yang diadaptasi jadi film populer). jauh sebelum dikenal lewat film My Heart (2006), Ciwidey sudah sering disebut dalam naskah kuno Bujangga Manik, catatan perjalanan Junghuhn, hingga deretan puisi dan novel modern.
Buat menghidupkan kembali sejarah dan sastra di tengah masyarakat, KSC konsisten bergerak selama lebih dari sepuluh tahun. Komunitas ini pernah membuka lapak baca gratis di Taman Kota Ciwidey, bekerja sama dengan Sarang Buku mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), menggelar diskusi dan kelas menulis, menerbitkan antologi, sampai mengadakan berbagai lomba literasi.
Inisiatif KSC ini sejalan dengan pandangan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, M.Sc.:
“Komunitas sastra di berbagai penjuru Indonesia adalah penggerak utama ekosistem sastra, penghubung karya dengan pembaca, ruang lahirnya penulis muda, sekaligus wadah berkembangnya ragam wacana sastra. Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem sastra Indonesia, salah satunya dengan mendorong komunitas sastra untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman. Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal mencerdaskan bangsa.”
Setelah menggelar lebih dari seratus agenda rutin, tahun ini KSC menyelenggarakan Festival Sastra Ciwidey dengan dukungan penuh program Penguatan Komunitas Sastra 2026 dari Kementerian Kebudayaan RI. KSC mengundang berbagai elemen ekosistem sastra buat berbagi pemikiran, pengalaman, dan kiat berkarya.
Direktur Program Festival Sastra Ciwidey 2026, Jein Oktaviany, menjelaskan latar belakang acara ini:
”Festival Sastra Ciwidey 2026 bermula dari agenda diskusi rutin Kawah Sastra Ciwidey. Awalnya bernama Perbincangan yang bertahan hingga 100 episode, lalu berlanjut jadi Ngawacitra (Ngawangkongkeun Ciwidey jeung Sastra) yang digelar sebulan sekali sejak 2024. Dari sana muncul ide: bagaimana kalau kita buat hajatan yang lebih besar dengan porsi diskusi lebih banyak? Bagaimana kalau kita buat festival sastra?”
Jein menambahkan, festival ini krusial buat merawat ingatan kolektif warga. Ciwidey yang dulu kerap diabadikan dalam pupuh Sunda, puisi, cerpen, dan novel, kini lebih dikenal sebatas daerah wisata.
Rangkaian acara bakal diisi diskusi buku tentang proses kreatif, diskusi lanskap prosa dan puisi Jawa Barat, panggung apresiasi puisi, temu komunitas menulis se-Bandung Raya, hingga lapak buku gratis buat masyarakat umum. Selain itu, ada pertunjukan monolog sosok Ahmad Wiranatakusumah, Komandan Pasukan Siluman Merah periode 1945–1950.
Pemerhati lokal baru-baru ini juga telah memugar monumen peringatan Pasukan Siluman Merah di Punceling. Tumbuhan liar dibersihkan dan cat kusam ditimpa ulang, sehingga tugu pejuang dan macan yang semula tersembunyi kini berdiri megah kembali.
Kawah Sastra Ciwidey berharap festival ini bisa menyegarkan ingatan masyarakat akan sejarah dan sastra daerahnya sendiri, sekaligus menjadikan nilai-nilai tersebut tetap hidup dan mudah dijangkau oleh warga.
Informasi lengkap mengenai jadwal dan pengisi acara dapat diakses melalui akun Instagram resmi Kawah Sastra Ciwidey (@kawahsastraciwidey). Letuskan, kobarkan!







