Setelah Palestina Merdeka

Trio Algojo Geopolitik: Rusia, Tiongkok, dan Iran

Avatar photo

Porosmedia.com – Perdebatan mengenai masa depan Palestina pasca pengakuan kemerdekaan masih mengemuka. Sebagian pihak memandang skeptis terhadap format two state solution yang dianggap sekadar kompromi politik. Bahkan ada yang menilai ini hanya strategi negara-negara Barat yang dekat dengan Israel.

Namun, mari kita melihat dari sisi lain: secara optimistis.
Pengakuan kemerdekaan Palestina, meski dalam format two state solution, justru dapat mempersempit ruang gerak Israel dalam perspektif geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi.

1. Yerusalem dan Paradigma “Heritage”

Yerusalem berpotensi kembali menjadi ibu kota Palestina, meski mungkin dengan skema pengawasan internasional. Pendudukan Israel atas Yerusalem selama ini banyak dikaitkan dengan perebutan situs bersejarah, termasuk Bait Suci yang dibangun Raja Sulaiman pada abad ke-10 SM. Situs ini telah beberapa kali dihancurkan — oleh Babilonia pada 586 SM dan oleh Romawi pada 70 M.

Israel meyakini situs Sulaiman berada di bawah kompleks Baitul Maqdis, yang menyimpan artefak berharga bernilai sejarah tinggi. Namun sejak UNESCO menetapkan banyak warisan budaya sebagai identitas bangsa, artefak tidak bisa lagi dijadikan “kolateral” geopolitik. Tren repatriasi artefak dunia, termasuk milik Nusantara, mempertegas paradigma baru ini.

Baca juga:  Exit Tol KM 149 Gedebage Ditargetkan Aktif Tahun Ini

Dengan demikian, motif perburuan heritage yang selama ini terkait dengan konflik bisa meredup. Apalagi Yerusalem juga memiliki simbol keagamaan tiga agama besar dunia:

Masjid Al Aqsa dan Kubah Batu (Islam),

Situs Bait Suci (Yahudi),

Gereja Makam Suci (Holy Sepulcher) (Kristen), yang dijaga keluarga Muslim selama berabad-abad.

Artinya, sebelum gerakan Zionisme modern, hubungan antarumat beragama di Palestina berjalan harmonis.

2. Betlehem sebagai Potensi Religi Global

Sekitar lima mil di selatan Yerusalem, terdapat Kota Betlehem — tempat kelahiran Yesus Kristus. Wilayah ini termasuk tepi barat Palestina. Jika dikelola sebagai destinasi religi seperti Mekkah dan Madinah, potensi ekonominya luar biasa. Palestina bisa menjelma sebagai pusat ziarah internasional, sekaligus pintu dialog antaragama dunia.

3. Gaza dan Proyek Terusan Ben Gurion

Pembebasan Gaza setelah Palestina merdeka membuka babak baru. Gaza selama ini dikaitkan dengan rencana Proyek Terusan Ben Gurion, jalur laut alternatif yang menghubungkan Teluk Aqaba (Laut Merah) dengan Laut Tengah. Proyek yang dikaitkan dengan pendiri Israel, David Ben-Gurion, bertujuan menyaingi Terusan Suez di Mesir.

Baca juga:  Refleksi Spiritual 3 Maret 2026: Harmoni Ibadah Ramadan dan Fenomena Alam Gerhana Bulan

Jika Palestina berdaulat, proyek ini akan menjadi kartu geopolitik penting. Pendapatan dari jalur perdagangan strategis dapat menjadi sumber devisa besar bagi negara baru tersebut.

Dampak Global

Dengan kemerdekaan Palestina, Israel — yang selama ini mendapat dukungan kuat dari kelompok modal global — berpotensi kehilangan “industri konflik abadi” yang menjadi lahan subur produsen senjata. Episode perburuan situs Sulaiman pun bisa berakhir. Tidak tertutup kemungkinan, warga Israel keturunan Eropa akan mempertimbangkan kembali migrasi ke “Tanah yang Dijanjikan,” karena realitasnya tak lagi menjanjikan.

Kondisi ini makin menarik dengan terpilihnya Paus Leo dari Amerika Serikat dan ambisi Donald Trump terkait proyek rekonstruksi Gaza (termasuk kemungkinan pembangunan kanal). Bahkan, peluang munculnya kembali gagasan memindahkan pusat keuskupan dunia dari Vatikan ke Betlehem bisa saja menjadi agenda masa depan.

Palestina di Masa Depan

Jika Yerusalem dan Betlehem ditetapkan sebagai kota suci dunia, statusnya akan mirip dengan Mekkah dan Madinah: kawasan yang diharamkan dari pertumpahan darah. Palestina berpotensi menjelma sebagai negara makmur di Timur Tengah, dengan kekuatan spiritual, historis, dan ekonomi yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Baca juga:  Dualisme PWI dan Jalan Terjal Rekonsiliasi Pers Indonesia

Kemerdekaan Palestina bukan sekadar simbol politik, tetapi titik balik besar dalam sejarah peradaban dunia.

Irom | Porosmedia.com