Program MBG China – Pelajaran Untuk Indonesia 

Membaca Pengalaman China

Avatar photo

 

MBG memang belum sempurna.
Namun, inilah program strategis nasional yang menyangkut pertahanan dan keamanan bangsa.
Maka mari kita berpikir positif, mendukung pemerintah memperbaiki sistemnya, bukan menghapusnya.

Oleh : Irom

Porosmedia.com – Setiap kali membahas Program Makan Bergizi (MBG), sering muncul komentar, “Mengapa tidak meniru program makan bergizi ala China? Itu baru benar-benar bergizi.”

Pernyataan tersebut tentu memicu rasa penasaran. Lalu bagaimana sebenarnya praktiknya di Negeri Tirai Bambu?

Sejak 2011, pemerintah China meluncurkan National Nutrition Improvement Program for Rural Compulsory Education Students. Program ini menyasar lebih dari 30 juta siswa SD dan SMP di wilayah pedesaan yang setiap hari mendapatkan jatah makan siang gratis.

Jumlah itu sangat besar, setara dengan mengelola logistik puluhan juta perut setiap harinya. Makanan disiapkan melalui dapur sekolah maupun layanan katering, dengan menu yang memenuhi standar gizi: karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.

Secara konsep, program ini dirancang untuk membangun generasi emas yang sehat dan kuat.

Catatan dan Masalah

Baca juga:  Mengapa Singapura Belum Mengakui Palestina Merdeka?

Namun, implementasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Beberapa kasus sempat mencuat ke publik:

2019 di Sichuan, sejumlah siswa dilaporkan mengalami gangguan pencernaan akibat nasi basi dan lauk yang tidak layak konsumsi.

2020 di Gansu, lebih dari 100 siswa sakit setelah menyantap menu yang diduga terkontaminasi bakteri.

2023, foto-foto menu berjamur yang beredar di media sosial memicu kritik luas hingga pejabat setempat harus dievaluasi.

Meski jumlah kasus relatif kecil dibandingkan dengan skala program yang melibatkan puluhan juta siswa, dampaknya tetap menimbulkan kegelisahan. Setiap insiden memicu perhatian publik, mendorong evaluasi cepat, dan memunculkan tuntutan akuntabilitas.

Antara Risiko dan Manfaat

Program makan bergizi berskala nasional selalu menyimpan risiko: mulai dari rantai distribusi, penyimpanan, kualitas bahan pangan, hingga pengawasan di lapangan.

Namun di balik itu, manfaatnya nyata: jutaan anak di pedesaan tetap mendapat asupan gizi yang mungkin sulit mereka peroleh di rumah. Bagi sebagian besar siswa, program ini menjadi penopang energi untuk belajar, berolahraga, dan bercita-cita.

Baca juga:  FABEM Jawa Timur Desak KPK Tangkap Khofifah Jika Terbukti Korupsi Dana Hibah

Pelajaran penting yang bisa dipetik adalah bahwa program sebesar ini menuntut standar pengawasan yang ketat, transparansi, dan evaluasi berkelanjutan. Gratis tidak boleh berarti asal-asalan, melainkan tetap mengutamakan kualitas dan keselamatan.

Refleksi untuk Indonesia

Indonesia yang kini mengembangkan Program Makan Bergizi dapat belajar dari pengalaman China. Ada tiga poin utama:

1. Skala besar selalu membawa risiko. Kasus insiden tidak bisa dihindari sepenuhnya, tapi bisa diminimalkan dengan sistem pengawasan berlapis.

2. Transparansi dan akuntabilitas penting. Setiap masalah harus ditangani cepat, terbuka, dan disertai sanksi tegas bagi penyedia yang lalai.

3. Fokus utama tetap pada anak-anak. Bagi mereka, yang terpenting adalah makanan sehat dan layak, bukan perdebatan politik atau wacana filosofis.

Kisah program MBG di China adalah gambaran bahwa program makan bergizi berskala nasional bukanlah pekerjaan mudah. Ada keberhasilan besar, ada pula tantangan yang kadang menimbulkan kontroversi.

Namun pada akhirnya, jutaan anak tetap merasakan manfaat nyata. Indonesia pun harus melihat MBG sebagai investasi jangka panjang, sembari terus memperbaiki sistem agar aman, sehat, dan benar-benar bergizi.