Selain Banjir & Longsor, Karhutla Ritual Tahunan

Korupsinikus: Inilah Kita …

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

​Porosmedia.com – Saking prihatin sekaligus kesal, Korupsinikus sampai beberapa kali menghela napas panjang. Bukan karena asam lambungnya kambuh, bukan pula karena harga kopi di warung Kang Ubed Surubed naik lagi, melainkan karena Negeri Konoha Raya (NKR) rupanya begitu setia memelihara sejumlah ritual tahunan.

​Kalau musim hujan datang, ada banjir.

Kalau hujan sedikit lebih deras, longsor.

Kalau kemarau mulai menggigit, hutan dan lahan pun terbakar.

​Begitulah. Seperti kalender nasional yang tidak pernah dicetak, tetapi entah bagaimana selalu dipatuhi.

​“Inilah kita,” gumam Korupsinikus sambil menatap televisi nasional yang bertengger di salah satu sudut warung kopi milik Kang Ubed Surubed, yang dengan penuh optimisme—atau mungkin keputusasaan—diberi nama Lancar Jaya Walau Pahit Rasanya.

​Di layar televisi, asap mengepul. Api menjalar. Petugas berjibaku. Pesawat pemadam mondar-mandir. Pejabat memberikan keterangan. Warga mulai memakai masker. Anak-anak diminta mengurangi aktivitas di luar rumah.

​Sementara di warung kopi, orang-orang menggelengkan kepala.

​“Seperti tak mau belajar dari rutinitas tahunan,” kata Korupsinikus, wajahnya semi-ditekuk tanda kesal sekaligus prihatin. “Kali ini karhutla di sejumlah wilayah kembali terjadi. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kita kembali terkejut.”

​Korupsinikus berhenti sejenak. Lalu menambahkan, “Padahal, yang lebih mengherankan bukanlah apinya. Yang lebih mengherankan, mengapa kita masih bisa terus-terusan terkejut?”

​Rubi, sobat dalit Korupsinikus yang sejak tadi sibuk mengaduk kopi meski gulanya sudah lama larut, langsung menyela, “Yang bikin kesel, Bung, setiap tahun selalu saja muncul cerita serupa. Ada lahan dibakar. Katanya agar pembukaan lahan lebih murah. Api kemudian lepas dari kendali. Setelah itu semua orang sibuk mencari penyebab.”

​“Nah, itu dia!” Korupsinikus langsung menunjuk Rubi. “Negeri ini hebat dalam mencari penyebab setelah bencana terjadi. Tetapi entah kenapa, jauh lebih sulit menemukan cara agar penyebab itu tidak terus-terusan mendapat kesempatan.”

​Beberapa pengunjung mengangguk. Yang lain kembali menyeruput kopi. Televisi terus menayangkan gambar api yang menjalar.

Ritual yang Selalu Dimulai dengan ‘Kami Akan Menindak Tegas’

​Karhutla, bagi sebagian masyarakat NKR, agaknya sudah seperti serial tahunan. Tokoh-tokohnya hampir sama. Dialognya pun tidak banyak berubah.

​Api muncul.

Asap menyebar.

Petugas bergerak.

Pejabat rapat.

Pernyataan keluar: “Kami akan menindak tegas!”

​Lalu semua orang berharap hujan segera turun. Begitu api padam, berita perlahan menghilang dari layar. Dan tahun berikutnya, serial yang sama kembali diputar. Hanya judul episodenya yang berubah.

Baca juga:  Detik-detik Longsor di Ciherang, Sumedang: Dua Hektar Sawah Rusak

​Korupsinikus menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan-jangan kita ini bukan sedang menangani bencana,” katanya lirih. “Kita sedang memproduksi sekuel.”

​“Sekuel?” tanya Kang Ubed.

​“Iya. Banjir: The Return. Longsor Never Dies. Karhutla Forever.”

​Warung kopi mendadak hening.

​“Kalau begini terus,” sambung Korupsinikus, “sebentar lagi mungkin ada paket wisata.”

​Rubi mengangkat alis. “Paket wisata?”

​“Ya! Musim hujan, wisata melihat banjir. Hujan ekstrem, wisata longsor. Musim kemarau, wisata kabut asap. Lengkap! Negeri empat musim memang punya musim semi dan musim gugur. Kita punya musim rapat koordinasi.”

​Beberapa orang tertawa, tetapi tawanya pendek. Sebab, di layar televisi, api masih menyala.

Kita Terlalu Sibuk Memadamkan Api, Tetapi Lupa Memadamkan Kepentingan

​Korupsinikus lalu berdiri dari kursinya. “Masalah kita ini, Bung-bung sekalian, mungkin bukan semata-mata karena api.”

​“Terus karena apa?” tanya Farhun Surahun, pemuda lajang berusia 36 tahun yang memiliki ribuan pengikut di media sosial.

​Korupsinikus mengangkat telunjuk. “Karena ada terlalu banyak hal yang mudah terbakar di negeri ini.”

​Ia mulai menghitung:

“Hutan bisa terbakar.”

“Lahan bisa terbakar.”

“Kesabaran rakyat juga terbakar.”

“Tetapi yang paling sulit dipadamkan adalah—” Korupsinikus berhenti. “—kepentingan.”

​Suasana kembali senyap. Sebab api, sebagaimana diketahui, tidak selalu muncul dari satu sumber. Kadang api memang akibat kelalaian, kadang akibat kondisi alam yang ekstrem. Kadang pula muncul dari ulah manusia yang menganggap api sebagai alat murah untuk menyelesaikan persoalan mahal.

​Ketika pembukaan lahan dianggap lebih murah dengan membakar, yang mahal kemudian justru dibayar oleh rakyat. Udara menjadi mahal. Kesehatan menjadi mahal. Keselamatan menjadi mahal. Masa depan anak-anak menjadi mahal. Bahkan, untuk sekadar menghirup udara bersih, rakyat kadang harus menunggu angin berubah arah.

​“Hebat, ya,” ujar Rubi sinis. “Ada yang mungkin menghemat biaya, tetapi rakyat kemudian yang patungan menanggung akibatnya.”

​Korupsinikus tersenyum pahit. “Itulah salah satu bentuk ekonomi paling ajaib di NKR: keuntungan bisa privat, tetapi kerugiannya berjamaah.”

Relawan Bergerak, Tetapi Mengapa Kita Selalu Menunggu Api Membesar?

​Tayangan televisi sore itu semakin dramatis. Asap membumbung, api tampak meluas, dan para petugas terus berusaha melakukan pemadaman.

​Korupsinikus tiba-tiba berkata, “Ini sudah berlangsung sejak beberapa minggu. Proses pemadaman seakan tak beranjak, malah di sejumlah tempat api terus mengancam meluas. Kalau hanya duduk di sini, ya kita juga ikut menjadi bagian dari bangsa yang hobi menonton.”

Baca juga:  Keberhasilan Pemkot Cimahi Raih WTP 11 Kali, LSM Penjara Berikan Penghargaan Pada Dicky Saromi

​Sontak beberapa pengunjung warung kopi seperti dikomando.

​“Ayo kita bergerak!” Suara itu datang dari Farhun Surahun. “Besok, dari kita yang siap, berangkat jadi relawan dan langsung membantu di lokasi. Kenapa tidak?”

​Orang-orang bertepuk tangan.

​Korupsinikus memandang pemuda itu cukup lama. Lalu ia berkata pelan, “Bagus. Sangat bagus. Rakyat memang selalu punya cara untuk menunjukkan kepedulian.”

​“Tapi?”

​“Tapi saya malu.”

​Farhun terdiam.

​“Saya malu,” lanjut Korupsinikus, “karena negeri ini terlalu sering bergantung kepada orang-orang baik yang datang setelah keadaan memburuk.”

​Kalimat itu membuat warung kopi kembali sunyi.

​“Relawan adalah bukti bahwa kemanusiaan kita belum mati. Tetapi jangan sampai kita terlalu bangga setiap kali relawan harus turun, sementara kita lupa bertanya: mengapa persoalan yang sama terus saja membutuhkan relawan?”

​Sebab keberanian para pemadam, relawan, petugas lapangan, dan masyarakat yang membantu tentu patut dihormati. Namun, penghormatan tertinggi kepada mereka bukan sekadar memberi tepuk tangan, melainkan memastikan bahwa tahun depan mereka tidak lagi dipaksa mempertaruhkan tenaga, kesehatan, bahkan nyawa untuk memadamkan api yang sebenarnya bisa dicegah lebih awal.

Jangan Jadikan Bencana sebagai Kalender Nasional

​Korupsinikus kembali duduk. Kopi di hadapannya sudah dingin.

​“Banjir, longsor, karhutla,” katanya. “Kita selalu menyebutnya bencana. Tetapi kalau sesuatu yang sama terus berulang, dengan pola yang hampir sama, di tempat yang nyaris sama, dan kita tetap melakukan kesalahan yang sama—mungkin kita harus mulai bertanya.”

​“Bertanya apa?” Kang Ubed penasaran.

​“Apakah ini benar-benar hanya bencana?” Korupsinikus menatap satu per satu pengunjung warung. “Atau jangan-jangan, sebagian dari ini sudah berubah menjadi hasil dari kebiasaan kita sendiri?”

​Kebiasaan menunda.

Kebiasaan membiarkan.

Kebiasaan baru bertindak ketika keadaan sudah viral.

Kebiasaan rapat setelah asap menyebar.

Kebiasaan meninjau setelah rumah hanyut.

Kebiasaan berjanji setelah korban berjatuhan.

Kebiasaan membuat evaluasi—yang entah mengapa, tahun berikutnya harus dievaluasi lagi.

​Rubi menghela napas. “Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?”

​Korupsinikus tersenyum. “Pertama, berhenti menganggap bencana tahunan sebagai sesuatu yang normal.”

​Ia melanjutkan, “Jangan setiap tahun berkata, ‘Ya, beginilah Indonesia.’ Karena kalimat seperti itu bukan kebijaksanaan. Sering kali itu hanya tanda bahwa kita mulai menyerah.”

​Dan menyerah adalah pupuk paling subur bagi pengulangan.

​Negeri Konoha Raya tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan teknologi, tidak kekurangan lembaga, tidak kekurangan rapat, dan tidak kekurangan peraturan. Yang mungkin masih kurang adalah kemauan untuk benar-benar memutus mata rantai sebelum rakyat kembali menjadi korban.

Baca juga:  Daddy Rohanady: PR Serius untuk Semua, Dayeuhkolot dan Bojongsoang kembali Banjir

Sebelum Asap Menjadi Tradisi

​Menjelang senja, televisi masih menayangkan kobaran api. Namun, di warung Lancar Jaya Walau Pahit Rasanya, suasana justru semakin muram.

​Korupsinikus berdiri untuk terakhir kalinya.

​“Dengar, Bung-bung sekalian,” katanya. “Api memang bisa dipadamkan dengan air. Tetapi kebiasaan buruk tidak akan padam hanya dengan konferensi pers. Karhutla tidak boleh lagi menjadi agenda musiman yang selalu kita tunggu kedatangannya, lalu kita tangani dengan kepanikan yang sama.”

​“Kalau setiap tahun kita sudah tahu kemarau akan datang, mengapa persiapan selalu terasa seperti kejutan? Kalau setiap tahun kita tahu ada titik-titik rawan, mengapa pencegahan kalah cepat dari api? Kalau setiap tahun ada dugaan pelanggaran dan pembakaran, mengapa efek jera masih terasa seperti cerita rakyat?”

​Ia lalu menatap ke luar warung. Langit sore di Negeri Konoha Raya perlahan memerah—entah karena matahari, entah karena pantulan api dari kejauhan.

​Korupsinikus kemudian berkata, “Sebuah negeri tidak akan menjadi lebih dewasa hanya karena usianya bertambah. Negeri baru benar-benar dewasa ketika ia berhenti mengulang kesalahan yang sama, lalu menyebutnya takdir.”

​Rubi mengangguk pelan. Farhun mengepalkan tangan. Kang Ubed mematikan televisi.

​Dan untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara. Sebab semua akhirnya memahami satu hal: banjir bukan ritual, longsor bukan tradisi, dan karhutla bukan kalender tahunan yang harus diterima sebagai nasib.

​Semua itu harus dihentikan sebelum suatu hari nanti anak cucu kita bertanya, “Dulu, ketika hutan mulai terbakar setiap tahun, kalian melakukan apa?”

​Dan kita, generasi yang merasa paling pintar dalam sejarah Negeri Konoha Raya, hanya mampu menjawab, “Kami rapat.”

​Lalu Korupsinikus berbisik, nyaris tak terdengar, “Inilah kita … selalu sigap setelah terlambat.”

Selesai