Siklus Banjir Timur Bandung: Menanti Nyali Pemkot Memutus Rantai Genangan di Rancabolang dan Derwati

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Masalah klasik banjir di kawasan Bandung Timur kembali mencapai titik nadir. Hingga Jumat (17/4/2026), ratusan warga di empat RW yang tersebar di Kelurahan Rancabolang (Kecamatan Gedebage) dan Kelurahan Derwati (Kecamatan Rancasari) masih terjebak dalam kepungan air setinggi 50 cm.

​Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem drainase kota, mengingat wilayah tersebut seolah menjadi “langganan” nestapa setiap kali musim penghujan tiba.

​Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui bahwa posisi geografis dan ketergantungan pada aliran sungai besar menjadi faktor utama lambatnya surut air. Meluapnya Sungai Citarum di bagian hilir berdampak sistemik pada Sungai Cinambo dan Cisaranten.

​”Cinambo bermuara ke Citarum. Ketika Citarum banjir, otomatis aliran dari Cinambo tertahan,” ujar Farhan saat memberikan keterangan di Balai Kota Bandung, Jumat (17/4/2026).

​Hambatan teknis ini diperparah dengan mandulnya upaya pemompaan. Jarak yang terlalu jauh menuju Sungai Cipamokolan sebagai alternatif pembuangan air membuat infrastruktur pompa yang ada saat ini tak berdaya menghadapi volume air yang stagnan.

Baca juga:  Silaturahmi Dandim 0618/Kota Bandung: Konsolidasi Publik untuk Memperkuat Kondusivitas Kota

​Menanggapi kritik atas lambannya penanganan, Pemkot Bandung kini mulai melirik rencana pembangunan sistem penyaluran air baru dari Rancabolang menuju Sungai Cipamokolan. Proyek ini diproyeksikan akan dilengkapi dengan rumah pompa baru.

​Namun, realisasi proyek ini masih menyisakan tanda tanya terkait ketepatan waktu. Meskipun Farhan menyebut adanya peluang percepatan melalui Perubahan Anggaran 2026, rencana induk ini secara formal baru masuk dalam plot anggaran 2027–2028.

​Publik kini menanti apakah “terobosan” ini akan segera dieksekusi atau hanya menjadi catatan perencanaan di atas kertas sementara warga tetap harus berjibaku dengan lumpur setiap tahunnya.

​Di tengah ketidakpastian infrastruktur, beban penanganan kini bertumpu pada Dinas Sosial (Dinsos) dan sektor kewilayahan. Kepala Dinsos Kota Bandung, Yorisa Sativa, memastikan bahwa dapur umum dan bantuan sembako terus mengalir untuk sekitar 800 jiwa yang terdampak.

​Menariknya, penanganan kali ini juga melibatkan program Makan Bergizi Gratis untuk menopang kebutuhan nutrisi warga dan pelajar di lokasi bencana. Dukungan dari perusahaan swasta dan lembaga sosial pun menjadi “napas buatan” agar ketersediaan bahan pokok tidak terputus.

Baca juga:  Pusat Gravitasi Dunia Bergeser ke Timur: China dan ASEAN Teken Kesepakatan Perdagangan Bebas 3.0

Langkah Mendesak Pemkot Bandung:

Kajian Teknis Kilat: Menentukan skema saluran (terbuka atau tertutup) dalam hitungan minggu.

Siaga Medis: Penempatan personel puskesmas di titik-titik pengungsian.

Evaluasi Drainase Makro: Sinkronisasi koordinasi dengan Pemkab Bandung terkait banjir kiriman di kawasan Sapan.

​Penanganan banjir di Rancabolang dan Derwati bukan lagi sekadar soal menyalurkan bantuan nasi bungkus, melainkan ujian bagi keberanian politik Pemerintah Kota dalam mengalokasikan anggaran besar demi kedaulatan warga dari bencana tahunan. (Red/PM)