Pentingnya Keseimbangan Dalam Seni dan Kehidupan 

Avatar photo

Oleh: Dwi Mukti Wibowo & Sekar Saraswati Wibowo

Porosmedia.com – ​Masyarakat, khususnya para pelaku seni, sudah lama merasa frustrasi, stres, dan lelah batin oleh keadaan. Keadaan ini dimulai dari gempuran pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan kehidupan di semua sektor. Hampir lima tahun lebih sejak tahun 2019, virus penyebab pandemi ini mengalami mutasi dan berkembang menjadi krisis multidimensi, mulai dari krisis kesehatan hingga krisis ekonomi akibat masalah keuangan dan perbankan. Krisis ini kemudian menjalar menjadi krisis mental dan krisis moral yang menimbulkan konsekuensi tak kalah mengerikan, yaitu maraknya aksi kriminalitas yang mewabah hingga kini. Akibatnya, persoalan dan beban hidup masyarakat terasa semakin menghimpit.

​Kondisi ini mengingatkan penulis pada pameran lukisan bertajuk “The Healing” yang digelar di Cafe Ruang Interaksi, Rooftop, Front One Boutique Hotel, Semarang. Meskipun sudah berlalu sejak tahun 2021, kenangan lima tahun lalu itu masih membekas di ingatan. Ignatia Dewi dari ID Management mengatakan bahwa pameran tersebut bertujuan memberikan ruang ekspresi bagi para pelukis yang hampir setahun tidak memiliki kesempatan untuk unjuk karya karena pandemi Covid-19. Menurut Ignatia, seni diyakini dapat menjadi salah satu alternatif pemulihan atau penyembuh luka batin pada era new normal.

​Seni dapat menjadi alat yang efektif untuk menjaga kesehatan mental. Sejak lama, seni sebagai media ekspresif telah digunakan untuk terapi pemulihan mental. Manfaat tersebut tidak hanya dirasakan oleh penikmat seni yang menggunakan karya-karya indah sebagai stimulan untuk menenangkan diri. Di sinilah relevansi pameran lukisan tersebut menemukan maknanya. Melalui hasil kerja kreatif berupa lukisan, para pelukis dapat mengekspresikan manfaat seni untuk menjalani hidup secara seimbang, yaitu dengan menjaga harmoni dan keselarasan dengan semua makhluk di bumi sebagai sesama penghuni planet ini.

Baca juga:  Potret Perjuangan Pedagang Kecil di Tengah Him-pitan Ekonomi: Kisah Pak Lintang Penjual Nasi Goreng

​Ajang pameran tersebut memberikan pelajaran sekaligus filosofi kehidupan bahwa hidup harus dijalani secara seimbang dan harmonis. Pameran yang diinisiasi oleh ID Management ini memberi ruang bagi para pelukis Semarang yang sempat vakum selama pandemi. Melalui acara tersebut, kehidupan berkesenian di Semarang kembali menggeliat. Kegiatan apresiatif ini pula yang mendorong penulis untuk menggerakkan pameran lukisan di Gedung Pusat Kebudayaan Bandung yang akan digelar pada 10–20 September 2026 dengan tema “Harmoni Langkah Membangun Indonesia Berkah”.

​Terdapat harapan besar di balik latar belakang penyelenggaraan pameran pada September 2026 tersebut, yaitu terciptanya sinergi antara kehidupan berkesenian dan pemberdayaan ekonomi pelaku seni berbasis pendidikan serta religi. Pemberdayaan ekonomi pelukis Indonesia merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan, kemandirian, dan kapasitas bisnis para seniman rupa melalui akses pasar, pelatihan pemasaran modern, dan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) yang sejalan dengan arah pengembangan ekonomi kreatif nasional. Langkah ini krusial untuk mewujudkan ekosistem seni Indonesia yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing global.

​Menjadikan karya lukis Indonesia sebagai salah satu fondasi kekuatan ekonomi kreatif yang berkelanjutan telah dicanangkan sebagai visi dan misi kegiatan ini. Keinginan untuk mewujudkan kemandirian finansial dan kesejahteraan pelaku seni melalui ekosistem seni yang adil, produktif, serta berdaya saing global menjadi hal yang mendesak dan relevan. Upaya ini diharapkan dapat mengatasi kerentanan finansial seniman konvensional akibat kesulitan memasarkan karya, rendahnya literasi digital, serta minimnya jaminan kesejahteraan di hari tua, sekaligus mengubah potensi seni lokal menjadi sumber penghidupan yang mandiri dan berkelanjutan.

Baca juga:  Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dan Makna Hijrah Kehidupan

​Adapun tujuan dari kegiatan pameran ini antara lain:

  • ​Memberikan kesempatan memperoleh pendapatan melalui ajang pameran.
  • ​Mengembangkan kapasitas pelukis agar mampu menguasai prinsip kewirausahaan, mekanisme pemasaran, serta sistem pembayaran modern.
  • ​Membangun jejaring kolaborasi yang kuat antara seniman, pemerintah, galeri, dan sektor swasta.
  • ​Memberikan perlindungan hukum dan tata kelola Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang adil bagi karya-karya pelukis.
  • ​Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap nilai estetika dan nilai ekonomi seni lukis lokal.
  • ​Memperkuat posisi seni Indonesia dalam peta kebudayaan dan pasar ekonomi kreatif dunia.

​Dari pengalaman pameran lukisan tahun 2021 dan rencana pameran tahun 2026, terdapat lesson learned atau pelajaran berharga yang dapat dipetik mengenai alasan manusia membutuhkan seni:

  1. Pemberi pencerahan: Pepatah bijak mengatakan bahwa dengan agama hidup menjadi terarah, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dan dengan seni hidup menjadi indah.
  2. Ekspresi jiwa: Seni merupakan media untuk mencurahkan pikiran, perasaan, dan pergulatan batin manusia ke dalam bentuk nyata.
  3. Peredam kejenuhan: Tanpa seni, rutinitas akan terasa kering, datar, dan melelahkan. Hidup membutuhkan seni dan keseimbangan agar perjalanan hidup terasa indah, harmonis, serta tidak monoton.

​Seni sangat diperlukan, terlebih di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang meranggas. Keadaan meranggas bukan berarti mati, melainkan proses menggenapkan siklus kehidupan. Pasang surut dalam kehidupan adalah hal yang lumrah. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan pentingnya kegiatan yang dapat memelihara jiwa dan memberikan rasa keseimbangan. Bagi penulis, salah satu kegiatan tersebut adalah seni melukis. Dunia lukis telah memperkaya kehidupan karena dampak positifnya di tempat kerja, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan keluarga. Seni mampu menumbuhkan kreativitas, meningkatkan kinerja, dan menciptakan harmoni.

Baca juga:  Pengelolaan Sampah Plastik: Membuat Ekologi dan Ekonomi Berjalan Beriringan 

​Seni lukis bukan sekadar hobi, melainkan elemen penting dari harmoni kehidupan. Hidup ibarat kanvas atau lukisan yang terus berjalan. Seni mengajarkan kita untuk tidak menyesali kesalahan masa lalu, melainkan menilainya sebagai bagian dari dinamika yang membentuk karakter yang kuat. Seperti yang disampaikan oleh Hippokrates, seni memiliki kekuatan untuk mengubah arah hidup seseorang karena ars longa, vita brevis—hidup itu singkat, sedangkan seni itu abadi. Keduanya membutuhkan harmoni agar saling melengkapi sesuai dengan prinsip keselarasan dan keserasian.

​*) Perintis, Pendiri, dan Pemilik Galeri Seni “Sekar Wibowo”, Bandung, Indonesia