Paradox Kota Bandoeng: Baoe Tahi & Piagam Wisata 2025, Korupsinikus: Tjamboek oentoek Kemadjoean?

Avatar photo

Esej Satire – Harri Safiari

Porosmedia.com – Entah ini kehendak smesta, salah oeroes tata kota, atawa sekadar akibat logisch dari kekoeasaan jang bablas dan sering loepa diri. Alkisah, pada awal taoen 2025 Kota Bandoeng kembali boektikan diri sebagai kota penoeh paradox. Paradox jang bukan sadja bisa dipikirkan, tapi djoega bisa dibaoei oleh manoesia jang terbilang misih normaa, bisa menghidoe!
Di soeatoe pagi (14/1/2026) jang konon moengkin agak sial, mass media ramai-ramai bikin brita temoean onggokan tahi manoesia di sepoetar Gedoeng Balai Kota Bandoeng. Boekan tahi simbolik, bukan tahi metaforis— brani soempah ini tahi betoelan. Aromanja soenggoe menggoda. Apatah, ini tanda-tanda zaman? Itoe sepoetar tanja banjak warga Kota Bandoeng. .

Soeda barang tentoe, peristiwa ini bikin Wali Kota Bandoeng, Tuan Farhan, pening toedjoeh keliling. Sang Kepala Dinas Lingkoengan Hidup, Darto, poen turut poesing kepala. Boekan sadja sebab tahi itoe ada setjara fisik, melainkan ia teronggok di locatie jang salah – terlaloe dekat dengan kekoeasaan!

“Kena apa bisa ada tahi manoesia di sini?” demikian kira-kira tanya jang menggantoeng di oeboen-oeboen Korupsinikus. Pertanjaan ini terdengar loegoe, poen djanggal. Boekankah dari taoen ke taoen, problema sosial, kemiskinan, dan keterlantaran di kota ini telah lama ada, dan seakan dibiarkan berkeliaran. Ini ibarat sedjalan aroma got moesim hoedjan, bukan?” tanya Korupsinikus si machloek serba moeka dan moelti dimensi.

Baca juga:  Bulan Dana PMI Kota Bandung 2024 Himpun Rp 1,9 Miliar

Kabar Wangi ….
Ironie, seolah bersamaan waktoe dengan baoe jang merebak itoe, datanglah kabar wangi dari loear negeri. Agoda, agensi perdjalanan internasional, kasih gelar Bandoeng sebagai salah satoe dari lima destinasi wisata dengan pertoemboehan tertjepat di Asia sepandjang taoen 2025!
Piagam prestasi ini otomatissch naik ke medja setjara terhormat, dan banjak jang kasih tabik. Samentara itoe entah kabetoelan tahi manoesia berserak di trotoar. Lengkap soeda wadjah kota Kembang Bandoeng – serba moeka!
“Inilah paradox Bandoeng,” kata Korupsinikus, sambil menahan tawa djoega tjegoekan.

Ia adalah komentator abadi, machloek setengah legenda, jang konon pernah disangka Phitecantropus erectus, namun berhasil “mendjadi manusia” berkat Rubi dan sedikit keajaiban oportunisme jang terloenta-loenta.

“Roepanja, kota ini dipromosikan ke doenia sebagai soerga wisata, nahamoen gagal sediakan tempat boewang hadjat bagi warganja jang paling papa. Kalaoe ini boekan ironie, entah apa namanja,” tambah Korupsinikus, sembari mengipas-ngipas idoeng.

Fasiliteit Kota

Misih menoeroet Korupsinikus, tahi manoesia di dekat Balai Kota bukan sekadar ketjelakaan biologis semata, melainkan seboewah manifestasie politiek. “Itoe sematjem soerat terboeka dari rakyat jang tida kebagian toilet, tida kebagian perhatian, dan tida kebagian fasiliteit kota jang manoesiawi.”

Baca juga:  Satgas Pamtas Statis RI-PNG Yonif 122/TS Gelar Open House Dengan 5 Kampung di Distrik Waris Kabupaten Keerom

Rubi, jang sedari tadi tampak gelisah menahan perutnja sendiri, ikut menimpali dengan nada setengah marah, setengah moeles.

“Toean Wali Kota dan para pembantunja haroes berhenti kaget seolah-olah tahi itoe makhloek asing. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial itoe bukan hantoe. Merika hasil dari kebijakan jang tida pernah tjoekoep. Kalaoe WC sadja langka, djangan heran tahi berkeliaran. Tentoe kita tida maoe tahi, tapi lebih tida maoe lagi bertanggoeng djoawab, kan?” seroenja, sambil sesekali menekan pantat jang tiba-tiba brontak meminta djatah ke belakang.

Alhastil, demikianlah Bandoeng di awal taoen: kota jang diagoengkan dalam brosjoer, nahamoen dikoetoek oleh realita. Kota jang radjin koempoelken sadjomlah penghargaan, tapi termasoep sangat pelit menyediakan kebutuhan paling dasar manoesia.

“Semoga paradox ini mendjadi tjamboek oentoek kemadjoean,” kata Korupsinikus dengan senjoem pahit. “Atawa setidaknja tjamboek oentoek hidoeng para

pengoewasa, agar mahoe mentjioem kenjataan hidoep, sebelon terlaloe siboek menghirup wangi prestasi.”
Sesoedahnja Rubi menganggoek, setelah toenaiken hadjatnja.

“Mudah-mudahan di taoen 2026, tida ada lagi orang Bandoeng atawa pendatang jang sembarangan boewang air besar. Bukan sebab rakyatnja tiba-tiba soetji, tapi sebab kotanja djoega haroes waras – sediakan WC sabelon dirikan baliho dimana-mana.”
(Selesai)