Oleh: Irwan Nurwansyah (Pemerhati Sosial)
Porosmedia.com – Dalam dinamika kehidupan sosial serta tata kelola roda pemerintahan saat ini, kita kerap menyaksikan berbagai program yang menghabiskan anggaran serta energi dalam jumlah yang sangat besar. Namun, pertanyaan paling mendasar dan krusial yang perlu diajukan adalah: apakah seluruh rangkaian aktivitas tersebut sudah benar-benar tepat sasaran sesuai tujuan awal, atau sekadar rutinitas yang bersifat mubazir?
Sejatinya, tolok ukur kesuksesan sebuah kebijakan publik ataupun tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari tidak dilihat dari seberapa sibuk kita bekerja, melainkan dari efektivitasnya. Secara harfiah, efektivitas memiliki arti sejauh mana suatu tindakan yang dilakukan tepat dalam mencapai target yang diinginkan. Pepatah Sunda mengibaratkan efektivitas seperti “ngarah ka sasaran” (membidik tepat ke sasaran). Tidak peduli seberapa jauh kita berlari, yang terpenting adalah anak panah tersebut mampu melesat dan mendarat tepat pada sasaran yang dituju.
Ketika berbicara mengenai efektivitas, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara kata “efektif” dan “efisien”. Efektif adalah tentang melakukan hal yang benar sesuai dengan tujuan (doing the right things). Sementara efisien adalah tentang bagaimana cara melakukannya dengan benar, hemat, dan cepat (doing things right).
Sebagai contoh analogi, jika seseorang mengendarai sepeda motor dari arah timur dengan tujuan menuju Kota Bandung, tindakan menggunakan sepeda motor tersebut sudah benar dan efektif sebagai sarana transportasi. Jika ia memilih jalur terpendek dan menghemat konsumsi bahan bakar, itulah yang disebut efisien. Namun sebaliknya, jika ia memacu sepeda motornya dengan sangat cepat tetapi justru melaju ke arah Jakarta, tindakan tersebut memang efisien dari segi kecepatan, namun sama sekali tidak efektif karena salah tujuan.
Dalam ruang lingkup tata kelola sosial dan program publik, kita harus kritis dalam mengawasi tiga aspek utama efektivitas sumber daya yang dikeluarkan:
1. Efektivitas Waktu
Waktu yang dialokasikan untuk membahas sebuah kebijakan atau proyek publik harus benar-benar fokus dan menghasilkan keputusan yang konkret. Di tingkat birokrasi, rapat yang berlangsung berjam-jam tanpa adanya tindakan nyata serta resolusi yang jelas merupakan salah satu bentuk pemborosan waktu yang tidak efektif. Sebaliknya, diskusi yang singkat namun langsung menghasilkan skema tindakan yang nyata adalah apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat.
2. Efektivitas Energi & Tenaga
Energi manusia dan kapasitas lembaga formal memiliki batasan. Jika energi serta pemikiran pemerintah atau masyarakat habis terkuras untuk mengurusi perkara-perkara kecil yang salah sasaran atau bukan prioritas utama, maka kita hanya akan terjebak dalam kelelahan tanpa adanya kemajuan yang nyata. Energi publik harus difokuskan untuk menyelesaikan masalah-masalah struktural yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat luas.
3. Efektivitas Biaya (Anggaran)
Dalam konteks akuntabilitas dan transparansi anggaran, efektivitas biaya berarti bahwa setiap Rupiah uang negara atau uang publik yang digulirkan harus kembali dalam bentuk hasil, manfaat, serta dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat. Alokasi anggaran yang besar untuk program yang bersifat seremonial, tanpa adanya dampak jangka panjang, merupakan bentuk nyata dari anggaran yang tidak efektif.
Oleh karena itu, rumus sederhana untuk mengukur efektivitas publik adalah: Efektivitas Tinggi = Hasil yang penting dan nyata / Sumber daya yang dikeluarkan.
Untuk menghindari sifat mubazir dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam kebijakan publik, kita harus memiliki keberanian untuk menerapkan Hukum Pareto, yaitu fokus pada 20% kegiatan utama yang mampu menghasilkan 80% dampak positif bagi kemaslahatan bersama. Pemerintah beserta berbagai entitas sosial juga harus berani menolak segala bentuk kegiatan yang tidak selaras dengan visi pembangunan, meskipun secara administratif kegiatan tersebut terlihat “sibuk”. Evaluasi berkala harus terus dilakukan untuk memastikan bahwa apa yang dijalankan saat ini masih berjalan di jalur yang benar menuju tujuan awal. Sebab, sebagai catatan kritis, jika kita salah dalam memilih dan menetapkan tujuan, maka seberapa pun waktu, energi, dan biaya yang dikeluarkan akan tetap menjadi hal yang mubazir.







