Porosmedia.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Muhammad Farhan tengah gencar menggelontorkan berbagai program strategis berbasis kemasyarakatan, mulai dari penguatan ekonomi kreatif, stimulus UMKM dan Koperasi, hingga program padat karya pengetasan kemiskinan ekstrem. Di tengah gegap gempita transformasi digital, publik kini menaruh harapan sekaligus pertanyaan besar: Apakah deretan program ini akan menjadi solusi konkret jangka panjang, ataukah sekadar penyerapan anggaran yang bersifat sementara?
Komitmen Pemkot Bandung dalam mendorong pelaku ekonomi kreatif (ekraf) untuk “Naik Kelas Go Digital” baru-baru ini ditegaskan kembali dalam forum peningkatan kapasitas SDM Ekraf di Hotel Aston Tropicana, Rabu (13/5/2026). Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekraf, Adi Mukhtar Rivai, menyoroti Jawa Barat sebagai salah satu pemilik investasi ekraf tertinggi nasional, dengan Kota Bandung sebagai episentrumnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara blak-blakan mengingatkan bahwa penguasaan teknologi adalah kunci memenangkan persaingan modern. Strategi dan efisiensi otak kreatif Bandung dinilai jauh lebih menentukan ketimbang adu modal besar. Namun, pernyataan kritis Wali Kota yang meminta pelaku ekraf untuk “tidak cuma jago bikin konten di media sosial tapi harus ngerti algoritma di belakangnya” seyogianya juga menjadi tamparan bagi birokrasi. Pemkot Bandung sendiri ditantang untuk mampu menyediakan infrastruktur dan regulasi yang sepadan guna menjamin ekosistem digital tersebut tidak dikuasai oleh modal asing semata.
Tantangan nyata digitalisasi ini langsung diuji pada sektor paling rentan: Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pelaku usaha mikro. Fungsional Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Bandung, Muhammad Anwar, mengungkapkan adanya langkah mitigasi bagi PKL yang terdampak proyek pembangunan Bandung Rapid Transit (BRT). Pemkot mengeklaim tengah melakukan pembinaan intensif agar para pedagang tetap eksis, termasuk rencana strategis memperluas UMKM Center dan Kuliner Center di 30 kecamatan, serta penjajakan kolaborasi digital bersama platform raksasa seperti TikTok Shop, Megavision, dan Mediawave dengan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).
Langkah berani ini tentu wajib dikawal ketat oleh publik. Alih-alih memindahkan masalah, relokasi ke UMKM Center harus dipastikan memiliki traffic ekonomi yang hidup, bukan sekadar menjadi bangunan kosong pasca-proyek selesai. Selain itu, keterlibatan 14 negara pada Bandung Fair 2025 di Kiara Artha Park serta rencana pelibatan UMKM dalam Kirab Budaya tingkat Jawa Barat pada 17 Mei 2026 harus bertransformasi dari sekadar seremonial tahunan menjadi transaksi kontrak dagang yang berkelanjutan.
Di sektor soko guru ekonomi, program strategis nasional Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) kini telah mengakar di 151 kelurahan di Kota Bandung. Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi Diskop UKM Kota Bandung, Kurniadi, menjelaskan bahwa mayoritas KKMP diarahkan pada bisnis sembako dan distribusi kebutuhan pokok, disusul inovasi sektor rill seperti pengadaan bioflok (kolam ikan plastik).
Langkah ini dinilai taktis untuk menstabilkan harga pangan di tingkat akar rumput. Namun, tantangan klasik koperasi baru adalah manajerial dan modal. Inovasi “Program Koperasi Kakak Asuh”—yang mendempetkan koperasi besar dengan KKMP baru—menjadi pertaruhan penting untuk transfer pengalaman agar 850 koperasi aktif di Bandung tidak mandek di tengah jalan. Sisi proteksi sosial juga diperkuat lewat Program Kampung dan Kawasan Bebas Rentenir melalui Satgas khusus demi membentengi warga dari jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online yang kian marak.
Upaya mitigasi ekonomi mikro ini klop dengan pergerakan di tingkat sektoral seperti yang dilakukan Dekranasda Kota Bandung. Melalui creative workshop di Braga Citywalk, Selasa (12/5/2026), Ketua Dekranasda Kota Bandung, Aryatri Benarto, bersama Disdagin berupaya mengubah keterampilan merajut—salah satunya pembuatan wadah tumbler ramah lingkungan bersama Craft By Sharena—menjadi peluang usaha baru berskala rumahan bagi ibu rumah tangga.
Namun, menumbuhkan jiwa wirausaha memerlukan napas panjang. Di sinilah intervensi jaring pengaman sosial seperti Program Padat Karya dari Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung mengambil peran. Berlangsung di Kecamatan Gedebage sejak Rabu (11/5/2026), program ini menyerap 200 peserta dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) desil 1 sampai 5 di empat kelurahan (Rancabolang, Rancanumpang, Cimincrang, dan Cisaranten Kidul).
Kepala Disnaker Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, mematok target ambisius: 8.500 serapan tenaga kerja padat karya sepanjang tahun 2026 melalui skema usulan reses dewan dan musrenbang. Dengan kompensasi honor Rp175 ribu per hari selama 10 hari kerja plus fasilitas penunjang, program ini terbukti ampuh menstimulus daya beli instan masyarakat sekaligus memelihara lingkungan.
Camat Gedebage, Latif, mencatat adanya nilai positif dari penggabungan pelaksanaan empat kelurahan tingkat kecamatan ini dalam hal penguatan gotong royong warga. Kendati demikian, seperti yang diakui secara jujur oleh Kadisnaker, program padat karya ini bersifat stimulan dan sementara (temporary).
Rangkaian program Pemkot Bandung ini ibarat rantai ekonomi yang saling bertautan. Padat Karya memberikan napas instan bagi warga miskin ekstrem; Workshop Dekranasda memicu keterampilan usaha; KKMP menyediakan wadah koperasinya; dan Program Go Digital Wali Kota menyediakan pasar modernnya.
Secara substansi, cetak biru (blueprint) ini sudah sangat ideal secara sosiologis maupun ekonomis. Namun, ujian sesungguhnya berada pada level konsistensi eksekusi di lapangan. Jangan sampai digitalisasi hanya menjadi jargon elit di hotel berbintang sementara para PKL di jalanan megap-megap tergilas pembangunan BRT tanpa solusi ruang dagang yang pasti. Transparansi e-learning, efektivitas sistem belanja ASN online khusus produk lokal, serta independensi Satgas Anti-Rentenir harus terus dipantau. Warga Kota Bandung tidak hanya butuh program yang sukses di atas kertas rilis pers, melainkan kebijakan yang berdampak nyata di dompet dan meja makan mereka. (Red)**







