Porosmedia.com, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung secara resmi memperkuat peran strategis Guru Bimbingan Konseling (BK) sebagai instrumen utama dalam mewujudkan ekosistem sekolah yang sehat secara mental. Komitmen ini ditegaskan melalui agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Penguatan Peran BK Hebat Untuk Sekolah Sehat Mental” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung di Aula SMA BPI, Jalan Burangrang, Kamis (23/4/2026).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa program ini dirancang sebagai skema Training for Trainers (ToT). Tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi manajerial dan klinis Guru BK dalam melakukan asesmen awal serta pemetaan kondisi psikologis peserta didik secara akurat.
”Langkah ini merupakan upaya preventif dan promotif dalam membangun ekosistem sekolah yang sehat mental. Berdasarkan data survei Dinas Kesehatan, teridentifikasi prevalensi gangguan kesehatan mental pada anak usia sekolah di Kota Bandung yang memerlukan perhatian serius,” ujar Farhan.
Dalam implementasinya, Dinas Pendidikan Kota Bandung berkolaborasi dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Kerja sama ini bertujuan memberikan pembekalan teknis mengenai metodologi deteksi dini agar potensi kendala psikologis siswa dapat dimitigasi sebelum berdampak lebih luas.
Mekanisme Rujukan dan Fasilitasi
Farhan menjelaskan bahwa sistem ini terintegrasi dengan layanan kesehatan publik. Apabila hasil asesmen menunjukkan siswa memerlukan penanganan spesialis, maka akan dilakukan rujukan secara berjenjang ke psikolog sekolah maupun psikolog klinis di Puskesmas, selaras dengan program penguatan kesehatan mental dari Kementerian Kesehatan.
“Fokus utama kita bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan pada peningkatan skill pemantauan dan pendampingan oleh Guru BK. Ketersediaan ruang konseling yang privat dan memadai di setiap sekolah menjadi pendukung vital dalam proses ini,” tambahnya.
Pemetakaan Data dan Evaluasi Berkala
Program akselerasi ini dijadwalkan berlangsung hingga Triwulan II tahun 2026. Selama periode tersebut, Pemkot Bandung akan melakukan pengumpulan data komprehensif untuk memetakan jumlah siswa terdampak beserta variabel penyebabnya. Data tersebut akan menjadi basis kebijakan dan bahan evaluasi pada periode selanjutnya.
Farhan juga menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara satuan pendidikan dan orang tua. Guru BK diharapkan mampu menjadi katalisator komunikasi yang transparan antara pihak sekolah dan keluarga.
Redefinisi Peran Guru BK
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Gufron, menegaskan pentingnya redefinisi peran Guru BK di lingkungan sekolah.
“Saat ini, paradigma Guru BK sebagai ‘aparatur disiplin’ atau polisi sekolah harus ditinggalkan. Guru BK adalah pelindung kesejahteraan psikologis (well-being) siswa. Melalui Bimtek ini, kami memastikan setiap anak di Kota Bandung mendapatkan hak pendampingan psikologis yang tepat,” tegas Asep.
Melalui penguatan kapasitas ini, diharapkan seluruh sekolah di Kota Bandung dapat bertransformasi menjadi lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan mental siswa secara optimal.







