Menakar Kemandirian Finansial PPJ dan Masa Depan Pasar Cicadas: Urgensi Revitalisasi Berbasis Profit dan Heritage

Avatar photo

Porosmedia.com – Eksistensi Pasar Cicadas bukan sekadar urusan jual-beli, melainkan fragmen sejarah Kota Bandung yang kini berada di persimpangan jalan. Sejak berdiri di lokasi aslinya pada 1983 hingga pemindahan sementara pasca-pembongkaran tahun 2005, masa depan pasar ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dan Perumda Pasar Juara (PPJ).

​Pengamat Kebijakan Publik dan Politik, R. Wempy Syamkarya, S.H., M.H., menegaskan bahwa pengelolaan Pasar Cicadas memerlukan keberanian finansial dan inovasi manajemen yang luar biasa agar tidak terus terjebak dalam romantisme sejarah tanpa kemajuan ekonomi yang nyata.

​Revitalisasi Pasar Cicadas tidak boleh hanya terpaku pada perbaikan fisik semata. Wempy menawarkan konsep Pasar Tradisional Modern yang mengintegrasikan elemen budaya lokal dengan efisiensi teknologi.

Digitalisasi Ekosistem: Penerapan sistem pembayaran digital dan manajemen stok berbasis data untuk meminimalisir kebocoran retribusi.

Destinasi Wisata Kuliner: Mentransformasi pasar menjadi pusat atraksi budaya dan pameran seni yang mampu menarik wisatawan, bukan sekadar pengunjung lokal.

Baca juga:  Skyward Project Hadir di Bandung, Tawarkan Konsep Edutainment Berbasis Sejarah dan Teknologi

Inkubasi UMKM: Menjadikan pasar sebagai ruang tumbuh bagi pengusaha lokal melalui penyediaan fasilitas inkubator bisnis.

​Salah satu poin krusial dalam pemikiran Wempy adalah kemandirian finansial pengelola. PPJ dituntut untuk lebih agresif dalam mencari sumber pendanaan di luar APBD. Opsi-opsi strategis yang dapat ditempuh antara lain:

Skema Investasi (PJPK): Menjalin kerjasama saling menguntungkan dengan investor swasta.

Instrumen Keuangan: Peluang penerbitan obligasi daerah atau pinjaman lembaga keuangan dengan suku bunga kompetitif.

Optimalisasi Aset: Memaksimalkan aset tidur di sekitar kawasan pasar untuk meningkatkan revenue stream.

​Terkait lokasi, Wempy menggarisbawahi pentingnya analisis kebutuhan lapangan yang objektif. Terdapat tiga opsi yang patut dipertimbangkan secara serius oleh Pemkot Bandung:

Revitalisasi In-Situ: Mempertahankan lokasi asli jika secara teknis dan strategis masih memungkinkan.

Relokasi Total: Jika luas lahan sudah tidak representatif untuk pengembangan skala besar.

Konsep Hibrida (Kombinasi): Menjadikan lokasi lama sebagai kawasan Heritage dan pusat kuliner, sementara aktivitas perdagangan besar dialihkan ke lahan yang lebih luas dan modern.p

Baca juga:  Waktu: Amanah yang Lebih Berharga dari Harta

​Keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada sinkronisasi kebijakan. Pemkot Bandung berperan sebagai regulator dan penyedia dukungan anggaran awal, sementara Perumda PPJ bertindak sebagai operator yang lincah secara manajerial.

​”Ini harus menjadi pembahasan serius di tingkat pengambil kebijakan. Jika dikelola dengan benar, revitalisasi Pasar Cicadas bisa menjadi pilot project bagi BUMD lainnya di Indonesia dalam hal pengelolaan aset publik yang menguntungkan daerah tanpa merugikan pedagang,” tutup Wempy.

​Dengan laporan keuangan yang stabil dan studi kelayakan yang komprehensif, Pasar Cicadas memiliki potensi besar untuk bertransformasi dari sekadar pasar tradisional menjadi mesin ekonomi baru yang membanggakan warga Bandung.