Menakar Ambisi Pendidikan dan Pangan Di Kota Bandung: Antara Janji dan Realitas Lapangan

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – ‎Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kota Bandung tidak
‎sekadar menjadi ajang seremoni. Di balik angka-angka fantastis yang
‎digelontorkan Pemerintah Kota Bandung, terdapat tanggung jawab besar
‎untuk memastikan bahwa setiap rupiah benar-benar menyentuh akar rumput.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memaparkan komitmen anggaran yang
‎masif: Rp36,35 miliar untuk program Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP), Rp125 miliar untuk infrastruktur sekolah, hingga kenaikan jumlah penerima bantuan ‎pangan yang kini mencapai 140.000 jiwa. Secara administratif, ini adalah lompatan
‎besar. Namun, secara substansial, transparansi dan ketepatan sasaran tetap ‎menjadi ujian utama bagi birokrasi.

‎Permintaan terbuka Wali Kota agar DPRD dan media mengawal anggaran RMP adalah sinyal keterbukaan. Namun, “pengawalan” ini harus dipahami sebagai pengingat bahwa kebocoran atau keterlambatan distribusi seringkali terjadi di ‎celah-celah birokrasi teknis.

Dengan target penghapusan sistem tiga sif pada 2028, pembangunan ruang kelas baru dan unit sekolah baru seperti SD Bojongloa dan ‎SMPN 75 tidak boleh sekadar menjadi proyek fisik, melainkan harus memenuhi standar kualitas pendidikan yang inklusif.

Baca juga:  Paradox Kota Bandoeng: Baoe Tahi & Piagam Wisata 2025, Korupsinikus: Tjamboek oentoek Kemadjoean?

‎Kebijakan deep learning dan pendidikan karakter juga menuntut kesiapan mental
‎dan kompetensi guru. Tanpa kesejahteraan guru yang diperhatikan secara nyata, ‎konsep literasi dan STEM hanya akan menjadi narasi indah di atas podium upacara.

Satu poin krusial yang diakui Pemkot adalah darurat kesehatan mental pelajar.
‎Temuan puluhan ribu siswa yang mengalami stres hingga depresi berat adalah tamparan keras bagi ekosistem pendidikan kita. Penguatan peran guru Bimbingan

‎Konseling (BK) dan kolaborasi dengan psikolog bukan lagi sekadar opsi, melainkan ‎kebutuhan darurat. Pendidikan tidak hanya tentang mencetak lulusan yang cerdas
‎secara akademik, tapi juga manusia yang tangguh secara emosional.

‎Di sektor pangan, lonjakan penerima bantuan menjadi pedang bermata dua. Di satu ‎sisi, perbaikan DTKS menunjukkan akurasi data. Di sisi lain, peningkatan jumlah penerima bisa mengindikasikan meluasnya kerentanan ekonomi masyarakat.

Keluhan warga terkait kualitas beras bantuan harus disikapi secara serius dan
‎sistemik. Pemerintah tidak boleh hanya reaktif setelah ada laporan, melainkan
‎harus memiliki standar kontrol kualitas (QC) yang ketat sejak dari gudang penyedia.

Baca juga:  Gerakan Peduli Guru Ngaji: Tanamkan Semangat Berbagi dan Kepedulian Terhadap Sesama

‎Keterbukaan komunikasi yang diminta Wali Kota harus diiringi dengan mekanisme komplain yang mudah diakses dan solusi yang instan bagi warga yang menerima ‎barang tidak layak.

‎Komitmen anggaran miliaran rupiah adalah instrumen, bukan hasil akhir.
‎Keberhasilan Pemkot Bandung akan diukur dari seberapa minim keluhan warga soal pangan dan seberapa nyata penurunan angka putus sekolah. Publik menunggu ‎pembuktian atas kalimat “Catat janji kami.” Porosmedia akan terus berdiri di sisi objektivitas untuk memastikan janji tersebut tidak menguap di tengah jalan.