Porosmedia.com – Lirik lagu legendaris Pas Band, band kebanggaan Bandung, kembali menggema dengan relevansi yang menusuk. Bukan hanya sekadar rangkaian kata, lirik ini menjadi suara hati kolektif yang “muak,” “jengah,” dan “bosan” dengan janji serta alasan yang tak kunjung berbuah bukti yang langsung terasa dan nyata.
Lagu ini berfungsi sebagai cermin sosial yang menangkap denyut frustrasi publik terhadap fenomena “hanya bisa bicara” namun “tak pernah ada bukti.” Dalam konteks tata kelola pemerintahan, khususnya yang dirasakan oleh warga Bandung, narasi ini terasa kian pahit.
Dari Panggung Retorika ke Realitas Lapangan
Kita hidup dalam era di mana retorika politik sering kali lebih nyaring daripada tindakan substansial. Ruang publik dipenuhi teriakan “orang besar bicara” yang, alih-alih membawa solusi, justru sibuk “perkeruh suasana, saling jatuh singgasana.”
Warga Bandung tidak butuh perdebatan genre atau drama singgasana yang “membingungkan” dan hanya “perpanas suasana.” Warga menuntut kesehatan pemerintahan—sebuah sistem yang imun terhadap korupsi menggila dan praktik “upeti di sana-sini.” Keinginan ini adalah hak fundamental dari masyarakat yang telah memberikan mandat.
Menolak Status Quo: Memutus Siklus Kebosanan
Pertanyaannya kini, sampai kapan kita, sebagai saksi, akan terus dipaksa mendengarkan “banyak alasan” dan “cerita” yang itu-itu saja?
Momentum perubahan yang didambakan masyarakat Bandung harus didasarkan pada transparansi radikal dan akuntabilitas yang tak bisa ditawar. Pemerintah bukan hanya harus pandai merancang visi di atas kertas, tetapi wajib membuktikannya melalui kinerja harian yang terukur dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup warganya.
Bukti nyata adalah:
- Birokrasi yang efisien tanpa celah pungli.
- Anggaran daerah yang sepenuhnya dialokasikan untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan elite.
- Kepastian hukum bagi siapa pun yang terbukti melanggar, tanpa pandang bulu.
Kebenaran, seperti yang diserukan dalam lirik, adalah Milik-Nya, hanya milik-Nya. Kekuatan rakyat untuk menuntut kejujuran dan integritas adalah manifestasi dari kebenaran itu. Rakyat Bandung jengah menjadi saksi dari siklus kekecewaan. Sudah saatnya kita bergerak dari posisi muak menjadi pelopor perubahan—menuntut janji ditepati dan retorika diubah menjadi aksi nyata yang membangun martabat kota.
#BandungMenuntutBukti #Lawankebosanan
Sudrajat |Porosmedia







