Porosmedia.com – Namaku Zalfa, dan singa jantan di sampingku adalah Rami.
Dahulu, kami adalah raja dan ratu sabana buatan—penguasa kecil di balik jeruji kebun binatang Gaza. Kami bukan dilahirkan untuk dirantai.
Tapi hidup berkata lain.
Perang tak mengenal siapa yang bersalah.
Peluru tidak memilih korban.
Di tengah ledakan, jeruji kandang ini menjadi penjara sekaligus perlindungan yang rapuh.
Kami mendengar langit pecah oleh rudal, tanah bergetar di bawah cakar kami, dan tangisan manusia di kejauhan yang tak pernah kami pahami…, hanya rasakan.
Makanan tak lagi datang setiap hari.
Air pun jadi barang langka. Petugas-petugas yang dulu mengusap kepala kami, kini tak pernah kembali.
Kami menanti.
Tapi yang datang hanya debu, asap, dan sunyi.
Tubuh Rami kini tinggal tulang dan bulu.
Aku melihatnya menguatkan diri hanya agar aku tak merasa sendiri.
Ia masih mengaum—pelan—sekadar mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia pernah jadi raja. Tapi aku tahu… hatinya lelah.
Aku pun menunggu.
Menunggu dunia mengingat bahwa kami ada.
Bahwa kami juga hidup.
Bahwa kami bukan hanya tontonan, tapi makhluk yang merasakan lapar, takut, dan rindu.
Jika kalian melihat gambar ini, tolong jangan lupakan kami.
Kami bukan sekadar dua singa di kandang sempit.
Kami adalah korban.
Korban diam dari perang yang tak pernah kami pilih.
Sampaikan pada dunia : di balik reruntuhan Gaza, bukan hanya manusia yang terluka.
Tapi juga singa-singa yang dulu berdiri gagah…, kini terbaring diam, menunggu akhir yang tenang, atau secercah harapan yang datang.
Kami masih bernapas.
Tapi sampai kapan ?







