H. Firli Bahuri: Belajar Di Bulan Ramadhan, Menahan Nafsu Tuk Tidak Korupsi

Porosmedia.com – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI)

H. Firli Bahuri

Esensi serta Hikmah Ramadhan untuk Menggapai Ketaqwaan Umat Agar Mampu Mengontrol Hawa Nafsu Khususnya Ketamakan, Sisi Kelam Pemicu Korupsi.

Syukur Alhamdulillah, hari-hari indah Ramadan, bulan penuh nikmat, rahmat, berkah, hidayah serta inayah dari Allah SWT, dapat kembali kita nikmati bersama tiap detiknya sampai tiba waktunya Idul Fitri, Hari Kemenangan yang sejatinya adalah kemenangan bagi segenap umat manusia di dunia.

Layaknya semburat mentari pagi yang hangat, teduh menyuluh hati, jiwa dan raga, Ramadan senantiasa menggugah kesejukan, kenyamanan dan menciptakan atmosfer kedamaian bagi umat manusia dan seluruh alam semesta.

Bukan hanya penuh berkah, ampunan, dan rahmat yang berlimpah, Ramadan sebagai _Syahrul Tarbigah_ (bulan pendidikan), tentunya sarat dengan nilai-nilai kehidupan serta tauladan baik, sehingga kita seyogianya menjadi Ramadan sebagai momentum untuk mendidik jiwa untuk meneguhkan integritas dalam perang dalam melawan hawa nafsu di fananya dunia ini.

Namun sayangnya, tidak sedikit oknum penyelenggara negara, pejabat, kepala daerah, politisi hingga elit politik dan oknum penegak hukum dinegeri ini yang terdidik ilmu pengetahuan dan agama dengan baik, namun belum sepenuhnya menjiwai nilai _esoteris_  dari hikmah puasa Ramadan, yang tak lain adalah ketaqwaan.

Baca juga:  Rempah Ini Ampuh Obati Diabetes? Cek Faktanya!

Sungguh ironis, di satu sisi mereka termasuk kaum terpelajar, memiliki akses pengetahuan yang memadai dan mengerti ajaran agama, namun sangat minim bahkan tidak memiliki integritas yang luhur, jauh dari kata berbudi karena gemar mengais harta dengan cara batil, yakni korupsi.

Seyogianya mereka adalah teladan bagi anak bangsa dinegeri ini. Namun _defisit_ akhlak, moral dan etika telah menggiring serta mereka ke dalam barisan kelam, barisan para koruptor. Keterlibatan kaum terpelajar dalam kubangan korupsi bukan isapan jempol belaka, mengingat hal ini memang nyata dan benar adanya.

Tak pernah puas dan selalu merasa kurang atas nikmat rezeki dan harta yang dimilikinya, para koruptor yang telah telah kehilangan sisi-sisi kemanusiaan, kini berperangi layaknya binatang, se-ekor tikus yang tak lagi memiliki rasa malu, dosa, simpati apalagi empati saat memakan uang rakyat, untuk memenuhi rasa laparnya yang tak kunjung usai.

Lihat saja para koruptor yang kami cokok, sebagian besar dari mereka menyandang gelar sarjana, S1, S2, S3 bahkan Profesor. Tanpa mengecilkan peran para pendidik, kita harus berani jujur bahwasanya hari-hari ini bangsa ini masih menyaksikan hal berbeda nan tercela dari oknum kaum terpelajar tersebut, yang kontradiktif dengan tujuan dan cita-cita pendidikan itu sendiri.

Melihat hal ini, KPK memandang perlu mendesain pendidikan di republik ini agar tetap memiliki integritas yang berakhlakul karimah, dengan mengajarkan idealisme yang sarat dengan nilai-nilai ANTIKORUPSI yakni kesederhanaan, kejujuran dan rasa tanggung jawab tinggi, untuk membentuk karakter kuat bangsa Indonesia sebagai bangsa ANTIKORUPSI.

Baca juga:  Herd Immunity Berbasis Vaksin, Hukum Rimba Bagi Masyarakat

KPK melihat pola pendidikan yang saat ini lebih banyak mengandalkan porsi pengajaran dan pembelajaran yang bermuara pada peningkatan akal, jasmani, serta keterampilan, dan itu tidak salah.

Namun pola pendidikan tersebut seyogianya dapat ditambahkan unsur dan nilai-nilai ANTIKORUPSI sejak dini, mulai dari usia anak Kelompok Bermain (KB) hingga Mahasiswa dan berlanjut sampai mereka bekerja, untuk membentuk sekaligus menjaga karakter anak bangsa ANTIKORUPSI.

Berbicara tentang hikmah puasa di Bulan Ramadan, tentu memiliki esensi dan pandangan multidimensi yang positif, bagi siapapun yang menghayati, memahami dan mencerna dengan baik nilai-nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmah puasa menurut orang-orang yang beriman adalah untuk menggapai ketaqwaan, dimana ketaqwaan itu sifatnya universal dan sangat luas.

Saya teringat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sering kita dengar dan selalu disampaikan berulang kali oleh para khotib dalam khutbahnya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah[2]: 183).

Baca juga:  Fitnah Keilmuan dan Fitnah Kehidupan

Menurut bahasa, kata taqwa berarti “memelihara” atau “menghindari”. Sederhananya, taqwa adalah perwujudan _Amar Ma’ruf Nahi Munkar_ , melaksanakan segala perintah dan menjauhi seluruh larangan Allah SWT.

Menurut pandangan saya, memerangi korupsi salah satu bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Puasa di Bulan Ramadan seyogianya menjadi _stimulus_ bagi segenap umat manusia untuk belajar membiasakan diri berbuat jujur dan sederhana agar terhindar dari perilaku koruptif, senantiasa teguh mempertahankan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan yang sejatinya menjadi Keutamaan Ramadan.

Jika sudah membudaya, Keutamaan Ramadan akan membentuk kultur dan budaya ANTIKORUPSI dalam setiap tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara direpublik ini, dimana keindahan _Nur_ Ramadan Insya Allah senantiasa mewarnai karakter masyarakat dan bangsa.

Dengan semangat ANTIKORUPSI, mari kita jadikan Bulan Suci Ramadan sebagai sarana untuk membentuk imun ANTIKORUPSI, agar cita-cita dan tujuan berbangsa dan bernegara yang tak lain mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi segenap bangsa dan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mulai Miangas hingga Pulau Rote dapat benar-benar terwujud apabila korupsi benar-benar sirna dari NKRI.

Allaahumma sallimnaa Ramadhanaa wasallimnaa ramadhanaa, waghfir lanaa dzunubanaa_

Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin..

*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *